Aku Disini Menunggumu – #Chapter_38/55

Indah ikutan tersenyum, walaupun ada perih di dadanya. Benar, adegan tadi memang terlihat sangat romantis. Tatapan Arya kepada Aerin sudah cukup jelas kalau ada ketertarikan yang sangat dalam. Lantas, bagaimana dengan Irin? Kalau Arya tertarik kepada Aerin, kenapa dia masih mencari Irin?

by InfiZakaria

Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, sebagian sudah pulang dan ada sebagian lagi yang masih asyik mengobrol, menikmati kebersamaan dalam suasana berbeda.

Termasuk pasukan Aerin yang duduk lesehan diatas rumput taman yang beralaskan tikar. Aerin ikut bergabung bersama mereka. Tuan rumah bahkan sampai memesan kopi untuk menghangatkan suasana.

Aerin sebenarnya sudah mengantuk berat, tapi ia juga tidak ingin melewatkan saat-saat santai seperti ini bersama orang-orang yang selalu bersamanya. Udara malam yang mulai dingin, membuat Aerin memeluk erat kedua lengannya. Dress yang ia kenakan bahan silknya agak tipis, tidak kuat menahan hembusan angin malam.

“Aerin.”

Semua melihat ke sosok Arya yang melangkah mendekati Aerin.

“Iya, Pak Arya.”

Aerin melihat ke mantel bulu berwarna abu-abu muda yang dipegang Arya.

“Ini! Mama suruh kamu pakai ini.”

Semua yang mendengar ucapan Arya, berusaha menahan senyum. Aerin tampak tertegun.

“Oh… Thanks.”

Dada Aerin berdebar kencang, ia bermaksud untuk bangkit, tapi Arya sudah melangkah ke dekatnya dan memakaikan mantel ke bahunya. Suara suitan menggoda terdengar dari sekitar mereka apalagi wajah putih Aerin tampak sedikit merona.

“Thanks”
Ucap Aerin sambil menatap Arya yang mengangguk dengan senyum tertahan.

*****

Arya tersenyum lebar begitu tiba di meja tempat teman-temannya masih berkumpul. Wajahnya terlihat bahagia banget seolah telah menyelesaikan satu tugas berat.

“Mama suruh kamu pakai ini… I love you, man!”
Ucap Sandy yang meninju lembut bahu Arya. Arya tertawa.

“Beneran, mamaku yang suruh.”

Arya membela diri.

“Romantic banget, aku rasa dia tergoda. Liat, dia masih senyum-senyum.”

Semua melirik Aerin yang masih terus digoda oleh pasukannya. Indah ikutan tersenyum, walaupun ada perih di dadanya. Benar, adegan tadi memang terlihat sangat romantis. Tatapan Arya kepada Aerin sudah cukup jelas kalau ada ketertarikan yang sangat dalam. Lantas, bagaimana dengan Irin? Kalau Arya tertarik kepada Aerin, kenapa dia masih mencari Irin?

*****

Arya melepas satu-persatu stafnya yang hendak pulang. Sudah pukul 12 malam. Ia menjabat erat dan tak berhenti mengucapkan terimakasih atas kehadiran mereka. Aerin berdiri memperhatikan pasukannya yang tampak sangat happy berjabat tangan dengan CEO. Teman-teman Arya juga ikut berdiri di dekatnya.

“Hai, kamu bawa kenderaan?”

Tanya Sandy, mencoba peruntungan.
Mendengar pertanyaan Sandy, serentak membuat teman-temannya menahan senyum.

“Kenapa, mau antar aku?”

Sandy gelagapan sendiri karena Aerin tanpa basa basi balik bertanya. Suara tawa meledekpun terdengar yang membuat wajah Sandy memerah.

“Makasih, aku bawa kenderaan!”

Jawab Aerin tegas sambil mengerdipkan sebelah matanya yang membuat jantung Sandy hampir copot. Indah menepuk-nepuk bahu Sandy memberi kekuatan, walaupun ia juga tak bisa menahan tawa. Aerin mengulurkan tangannya kearah Sandy yang langsung menyambutnya.

“Makasih, Mas. Makasih sudah mempersiapkan acara dinner ini dengan sangat sempurna.”

“Makasih, Mbak Indah.”

Indah menyambut uluran tangan gadis yang sebelumnya ia anggap sombong karena sangat cuek saat mereka bertemu di Global. Siapa sangka, gadis itu bahkan mengingat namanya.

“You’re welcome”
Jawabnya dengan senang hati.

“Mbak Nadine, makasih. I love your design, aku bahkan punya beberapa dress etnik rancangan mbak.”

Nadine sampai membuka mulutnya sangking suprisednya.

“Waah, you’re welcome dear. Kamu bisa ingat namaku?”
Tanya Nadine karena ia mendengar kalau Aerin punya kelemahan dalam mengingat wajah orang yang baru dikenalnya. Sedangkan mereka hanya pernah berjumpa dan baru saat ini saling berbicara.

Aerin tertawa lebar. Rupanya berita cepat menyebar tentang kelemahannya dalam mengingat wajah orang yang baru dikenalnya.

“Kelemahanku itu, sangat spesifik. Aku hanya lupa wajah pria yang baru aku kenal, khusus pria saja. Tapi otakku berfungsi dengan baik, bila itu wanita. Aku bisa mengingat nama dan wajah mereka, walaupun hanya pernah melihat mereka di gambar”

“Wajah Mbak Nadine pernah aku liat di storenya mbak, trus kita pernah berjumpa beberapa kali… tapi aku ingat.”

“Mengapa harus pria?”
Tanya Arya yang cukup penasaran. Memang sudah lama ia ingin tau tapi belum ada saat yang pas untuk bertanya.

Aerin terdiam sesaat.

“Well, it’s a long story”
Jawab Aerin dengan senyum tertahan.

How stupid! Pertanyaan seperti itu malah muncul dari pria yang telah membuatnya tak bisa mengingat wajah pria lain. Haruskah ia tertawa atau menangis?

“Okay, thanks untuk malam ini. Aku pamit dulu ya. Pak Arya, salam buat tante dan om. Senin aku kembaliin mantelnya.”

Arya mengangguk.

“Safe drive, my dear”
Ucap Nadine sambil melambaikan tangannya.

“Thanks, mbak. See you ya.”
Aerin meninggalkan mereka. Semuanya belum beranjak sampai sosok Aerin menghilang di sebalik pagar.

*****

Suara alarm dari HP membangunkan Aerin dari tidur tak nyenyaknya. Makan terlalu banyak di acara dinner tadi malam, membuat ia susah tidur. Aerin menguap lebar dan melihat ke HPnya. Ada note yang muncul disana ‘kunjungan ke makam Rama dan Emir’. Aerin menarik napas berat, setiap tahunnya dia memang harus kesana.

Tak lama, Mas Anton dan Mas Hendra… dua bodyguardnya muncul di rumah. Hari ini mereka akan menemaninya ke Bandung. Tahun ini Aerin memutuskan untuk ditemani mereka, menghindari kejadian dramatis seperti tahun-tahun sebelumnya saat ia berada di makam.

Perjalanan ke Bandung lumayan padat dan lama. Aerin membeli 2 buket bunga sebelum mereka tiba di pemakaman keluarga yang tak terlalu luas, di tengah hujan rintik-rintik pagi itu. Suasana begitu sepi, masih terlalu pagi untuk berkunjung.

Kedua makam yang letaknya berdampingan itu tampak bersih, seperti tahun-tahun yang lalu. Aerin meletakkan buket di masing-masing makam, sebelum diam terpaku menatap pusara yang bertuliskan ‘Rama Saputra’ dan ‘Emir Rinaldi.’

Mereka adalah bagian kelam dari perjalanan hidupnya, yang ia tak bisa hindari. Peristiwa tragis yang menimpa mereka,  membuat ia untuk pertama kalinya menyesali fisiknya yang terlalu menarik. Tak terasa air mata Aerin menetes, kejadian 14 tahun yang lalu saat ia baru duduk di bangku kelas 1 SMA di Surabaya, kembali terlintas.

Di sekolah terdengar kabar duka meninggalnya dua orang siswa kelas tiga karena bertabrakan saat balapan motor. Saat itu balapan motor antar pelajar SMA memang sedang marak-maraknya dan membuat banyak pihak prihatin. Tak sedikit yang meninggal karena kecelakaan.

Hal yang biasa, seharusnya. Setiap balapan motor pasti beresiko pada kecelakaan yang bisa membuat nyawa melayang. Tapi kecelakaan tersebut menjadi hal yang luar biasa setelah pihak keluarga akhirnya tau bahwa keduanya yang ternyata masih saudara sepupuan itu, melakukan balap motor karena memperebutkan seorang siswi kelas 1 yang bernama Aerin Alessandra..

Bersambung..

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Extra Part

Arya menyentuh alis Aerin yang berbentuk melengkung setengah lingkaran, lalu sentuhannya turun ke hidung mancungnya dan berakhir di bibir penuh Aerin, sebuah masterpiece yang membuat ia tak bisa jauh dari itu…

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_55/55

Bramantio menggandeng tangan Aerin. Arya melihatnya dengan agak cemburu. Huh… seharusnya ia yang lebih berhak menggandeng tangan itu. Tasya yang melihat arah pandangan Arya, langsung menggandeng tangan Arya. Aerin melihat keduanya yang berjalan di depannya.

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_54/55

Kembali ke Global Cell membuat Aerin bahagia. Wiwid, Vita dan pasukan IT menyambut kedatangannya di lobby. Aerin sangat terharu, ah… bagaimana mungkin ia sanggup meninggalkan mereka dalam waktu yang tak lama lagi.