Aku Disini Menunggumu – #Chapter_37/55

Arya tau Indah menyukainya, sikap Indah selama ini membuat Arya menjaga jarak. Ini bukan tentang dendam di masa lalu karena Indah menolak cinta pertamanya. Ini hanya karena hatinya yang berubah...

by InfiZakaria

“Hm…”

Arya berdehem, melihat Aerin yang sangat serius melihat photo-photo kecilnya. Gadis itu pasti suprised melihat sosoknya yang overweight saat kecil.

“Hm…”

Arya berdehem lagi karena Aerin tidak mendengar. Aerin yang kaget langsung berbalik, dan ia lebih kaget lagi. Perlu waktu sekian detik sebelum ia bisa mengucapkan sesuatu.

“Pak Arya…”

Arya tersenyum.

“Arya, kamu ngangetin tamu. Aerin, come here.”

Rupanya Tante Farah juga sudah lama kembali ke ruang keluarga dan melihat Arya yang berdehem-dehem. Arya tertawa. Aerin tersenyum sambil menuju ke sofa.

“Ini buat kamu.”

Mata Aerin mendelik.

“Tante kasih aku hadiah juga?”

Farah tersenyum sambil mengangguk.

Dari kotak kecil yang diberikan oleh mamanya ke Aerin, Arya tau pasti mamanya sudah menyiapkan kado itu sebelumnya. Dan Aerin memanggil mamanya dengan sebutan ‘tante.’ Pantas saja keduanya terlihat sangat akrab.

“Ayo kita buka hadiahnya.”

Farah tak sabar membuka kado mungil dari Aerin. Aerin senyum-senyum sendiri melihat tingkah Tante Farah. Masih seperti dulu.

“Wow… cantik sekali.”

Arya melihat ke kalung berwarna gold dengan hiasan liontin bulat bermata berlian kecil. Tentu saja cantik sekali. Mamanya tampak sangat bahagia.

“Ini amulettede Cartier kan?”

Tanya Tante Farah, masih sukar untuk percaya. Aerin mengangguk.

“Tante suka?”

Tante Farah mengangguk cepat.

“Sure, liontin impian yang belum sempat kebeli.”

Keduanya tertawa.

“Ayo buka hadiah dari tante.”

Aerin melirik ke Arya, ia agak segan.

“Iya, tante.”

Aerin membuka hadiahnya. Seketika ia menutup mulutnya supaya tidak menjerit kesenangan. Gelang berhias berlian putih dengan  kedua ujungnya berbentuk hati… sangat indah.

“Tante, makasih. Ini cantik sekali.”

Arya yang melihat gelang yang dipegang Aerin, langsung melihat ke mamanya dengan pandangan sedikit protes.

Bagaimana mungkin mamanya menghadiahkan gelang pemberiannya kepada orang lain? Gelang yang dibelinya dari hasil proyek pertama arsiteknya. Farah tersenyum tak mengubris pandangan Arya.

“Sini tante pakain.”

“Makasih, tante.”

Arya menatap keduanya dengan pandangan penuh cinta. Seandainya Aerin adalah Irin, semua akan menjadi begitu sempurna. Arya menarik napas panjang, meninggalkan keduanya yang masih saling mengagumi hadiah masing-masing. Ia melewati sudut tempat photo-photo masa kecilnya yang berjajar rapi, melihat sekilas ke sosok Irin kecil dengan pandangan putus asa.

Dimana lagi ia harus mencari? Sepertinya jalan satu-satunya adalah datang ke Surabaya untuk bertemu langsung dengan Pak Bramantio. Ia sudah meminta temannya mencari data tentang ‘Aerin Saraswati’, nama yang diberitahukan Mbak Sri, tapi masih buntu juga.

*****

Suasana makan malam benar-benar sangat menyenangkan. Ini beneran makan malam untuk mengakrabkan diri dengan owner FF Group. Makanan yang disajikanpun begitu lezat, semuanya merasa sangat tersanjung.

Vita, Wiwid dan Aerin duduk bertiga menikmati banyak makanan. Mereka mengambil semua makanan yang disediakan dan mencobanya.

“Aku hampir full, udah gak kuat.”

Vita dan Wiwid tertawa ngakak.

“Tapi ini dimsumnya enaaak banget loh, coba sebiji aja.”

Wiwid mengambil sebuah dimsum dengan sumpitnya dan menyodorkan ke mulut Aerin. Aerin langsung menggeleng, tapi Wiwid gak menyerah.

“Alright, only 1 piece okay?”

Aerin membuka mulutnya dan mengunyah dengan pelan. Matanya terbelalak begitu lidahnya merasakan sensasi pedas yang luar biasa. Secara reflek Aerin memuntahkan semua makanan yang ada di dalam mulutnya.

“Wiwid! Are you crazy?”

Protesnya dengan suara cukup keras.

Mata Aerin sampai berair, bibirnya jadi merah. Wiwid dan Vita tertawa geli melihat wajah cantik Aerin yang ikutan merona merah, semakin menggemaskan. Udah lama sekali mereka tidak mengerjai Aerin yang emang gak kuat dengan makanan pedas.

Wiwid segera bangkit mengambil jus jeruk dan mengisinya dengan banyak es kristal, lalu memberikan kepada Aerin yang langsung menghabiskan semuanya. Bahkan Aerin sampai mengunyah es karena masih kepedasan.

*****

Teman-teman Arya yang melihat insiden kepedasan itu, pada tertawa geli.

“Liat? Bahkan saat dia menderita kepedasanpun, wajahnya begitu menarik. Oh, man… gak kuat gue.”

Victor menarik napas panjang dengan dua tangan menompang dagu dan pandangan lurus memperhatikan Aerin yang masih mengomel-ngomel sebel ke kedua temannya.

Arya menahan senyumnya, ia tak tega untuk tertawa seperti yang lainnya. Walaupun wajah Aerin sangat mengemaskan di saat kepedasan tapi Arya tau, Aerin pasti sangat menderita.

Walaupun dia mengomel-ngomel, tapi cara dia memandang Vita dan Wiwid tetap dengan penuh cinta. Bahkan dia menyuruh keduanya mengambil kipas tukang sate untuk mengipas bibirnya. Yang melihat masih tak bisa menahan tawa.

Farah muncul dari dalam rumah membawa secangkir susu. Pemandangan itu tentu saja membuat suprised semua yang hadir. Aerin tersenyum lebar.

“Makasih, tante”
Ucapnya sambil meminum susu. Farah mengangguk.

“Agak mendingan?”

Aerin terdiam sesaat. Dulu sekali, Arya pernah mengerjainya dengan memasukkan cabe ke dalam risol dan ia sampai menangis histeris karena kepedasan. Dan Tante Farah datang, membawakannya segelas susu.

“Iya, pedasnya berkurang. Makasih, tante.”

“Oke, tante tinggal dulu ya.”

Aerin menggulung lengan panjang dressnya karena berkeringat. Kilauan berlian dari gelang yang dihadiahkan Tante Farah yang tadi tertutupi lengan dressnya, menarik perhatian Indah yang cukup merasakan sesak di dada setelah menyadari bahwa gadis yang dimaksud Tante Farah adalah Aerin.

*****

“Wah… calon mantu idaman”

Goda Baldi setelah melihat kedekatan Aerin dan Mama Arya. Arya tersenyum lebar.

“Iya, gue ngerasa gitu juga. Ah, mama lu tau aja mana bibit bagus”

Sambung Imam yang membuat mereka tertawa.
Indah berusaha tersenyum sambil dengan serius memperhatikan wajah Arya yang sedikit grogi.

“Paas banget, aku dukung kamu teman.”

Nadine menepuk-nepuk pundak Arya yang membuat lainnya tertawa. Arya geleng-geleng kepala

“Kalian ini kurang kerjaan. Impossible!”

“Hei… setia sih boleh aja, tapi lu mau setia bagaimana? Jumpa anak kecil itu aja, juga belum.”

Semua tertawa lagi kecuali Indah yang bengong, tidak mengerti.

“Anak kecil siapa?”

Tanya Indah penasaran. Semua tersenyum.

“Lu ingat anak kecil yang dulu suka ngekor kemanapun Arya pergi?”

Tanya Sandy yang membuat Indah berpikir sesaat.

“Anak kecil yang suka nangis itu? Yang sering sebel liat aku?”

Semua tertawa. Tentu saja Indah menjadi musuh anak kecil itu, dulu. Arya nyengir mengingat wajah sebel Irin setiap melihat Indah yang dulu disukainya.

“Iya, Irin… tetangga sebelah, anaknya Pak Bramantio” sambung Nadine.

“So…”

Indah masih belum mengerti.

“Aku balik ke Jakarta dengan tujuan utama untuk mencari dia”
Jawab Arya cepat dengan mata menatap Indah yang tampak kaget dan langsung terdiam.

Arya tau Indah menyukainya, sikap Indah selama ini membuat Arya menjaga jarak. Ini bukan tentang dendam di masa lalu karena Indah menolak cinta pertamanya. Ini hanya karena hatinya yang berubah.

Indah berusaha menguasai dirinya, ia tidak mau Arya dan teman-temannya melihat wajah  kecewanya. Pernyataan Arya sudah sangat jelas, walaupun kecewa… Indah tau posisinya dimana. Apakah seperangkat perhiasan yang ia liat tadi adalah untuk meminang Irin?

Bersambung..

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Extra Part

Arya menyentuh alis Aerin yang berbentuk melengkung setengah lingkaran, lalu sentuhannya turun ke hidung mancungnya dan berakhir di bibir penuh Aerin, sebuah masterpiece yang membuat ia tak bisa jauh dari itu…

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_55/55

Bramantio menggandeng tangan Aerin. Arya melihatnya dengan agak cemburu. Huh… seharusnya ia yang lebih berhak menggandeng tangan itu. Tasya yang melihat arah pandangan Arya, langsung menggandeng tangan Arya. Aerin melihat keduanya yang berjalan di depannya.

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_54/55

Kembali ke Global Cell membuat Aerin bahagia. Wiwid, Vita dan pasukan IT menyambut kedatangannya di lobby. Aerin sangat terharu, ah… bagaimana mungkin ia sanggup meninggalkan mereka dalam waktu yang tak lama lagi.