Aku Disini Menunggumu – #Chapter_36/55

Keduanya memasuki ruang depan rumah Arya. Aerin menunggu di ruang keluarga. Tatapannya terpaku pada photo keluarga di dinding ruangan. Photo Tante Farah, Om Ferdinand dan Arya remaja yang masih bertubuh gemuk...

by InfiZakaria

🎡I’m a big big girl

In a big big world

It’s not a big big thing if you leave me

But I do do feel

That I do do will

Miss you much

Miss you much🎡

Aerin yang sedang beres-beres hendak pulang, melihat ke layar HP. Ada nama Arya disana. Ia membiarkan saja. HPnya berhenti berdering.

🎡I’m a big big girl, in a…🎡

Handphonenya berdering lagi seiring dengan terbukanya pintu masuk ruangan kerjanya. Arya berdiri disana sambil menatapnya.

“Pak Arya, ada yang bisa aku bantu?” Tanyanya dengan formal sekali.

Arya mengangguk, ia tau Aerin sengaja menjaga jarak setelah apa yang terjadi diantara mereka. Sepertinya Aerin memang benar-benar siap melupakan semua yang terjadi. Sikapnya sangat biasa.

“Makasih untuk lunch tadi. Let me pay all expenses.”

Arya mengambil dompetnya, mengeluarkan black card dan menaruh diatas meja kerja Aerin.

“Passwordnya…”

“Pak Arya, it’s okay. All settled”

Potong Aerin cepat. Ia mengambil black card bertuliskan American Express itu dan menyerahkannya kembali ke Arya.

“Are you sure? Kamu tidak boleh berkorban terlalu banyak. Hari ini kamu traktir lunch, sebelumnya kamu juga tidak mau dibayar untuk jerih payah kamu menyelamatkan Global Bank. Aerin, business is business. Kamu harus mengambil apa yang menjadi hak kamu.”

Aerin berpikir sesaat sebelum menjawab. Ia tidak mau, ada pertengkaran lagi.

“I have a lot of money that I myself do not know how to spend it. Jadi membayar lunch tadi, it was nothing for me. Business is business, you are exactly right. But I work here not for money. Is it clear? Can we not discuss this again?”

Arya akhirnya mengangguk. Ia bisa melihat ketulusan di wajah Aerin.

“Alright then, sampai jumpa di dinner nanti. Are you coming?”

“Apa ada alasan untuk tidak datang?”

Aerin balas bertanya dengan senyum sedikit menggoda. Arya tersenyum sendiri menyadari pertanyaannya.

“See you there.”

Aerin mengangguk. Ia menatap sosok Arya yang menghilang di sebalik pintu.

Nah, damai begini lebih nyaman. Tidak perlu lagi ada amarah.  Mungkin ia memang agak kekanak-kanakan bila itu berhubungan dengan Arya. Mungkin ia ingin Arya memperlakukannya dengan istimewa, padahal Arya sama sekali tidak tau siapa ia.

*****

Arya menyetir dengan senyum senang dan perasaan sangat lega. Setelah banyak hal terjadi, bisa berbincang dengan Aerin dalam suasana damai, adalah sebuah anugerah.

Selama ini ia sangat sadar kalau Aerin sering marah-marah tak jelas. Banyak hal yang sebenarnya biasa terjadi di lingkungan kerja, tapi Aerin sering mendramatisir keadaan menjadi sangat rumit yang berujung pada pertengkaran.

Dan itu sebenarnya membuat ia bingung. Membuat ia harus berhati-hati sekali dalam berbicara. Harus sangat sabar dan disaat yang sama juga harus tegas. Entahlah, bila itu orang lain, apakah ia bisa tetap bersabar menghadapinya?

Sri Naik ke lantai 2 kamar Aerin sambil membawa buket bunga mawar merah dan pink yang dikemas dengan wrapping hitam sesuai dengan pesanan Aerin. Aerin yang sedang memilih dress buat dipakai ke acara dinner, tersenyum lebar dengan wajah puas.

“Cakeep banget, Mbak Sri. Thanks ya, sorry udah aku repotin”
Puji Aerin sambil mencium harumnya kuntum mawar yang ditanam Mbak Sri di taman belakang.

“Repot apanya non…? Tuan rumah cuma 1 orang, ART 3 orang.”

Keduanya tertawa.

“Non, Pak Rahmat bilang kemarin malam Den Arya ke pos satpam tanyain apa Non Irin ada di rumah. Dia liat ada bayangan dari kamar non.”

Aerin tertawa geli.

“Ya, itu… makanya aku minta Mbak Sri buat ganti gorden ke warna yang gelap. Mana gordennya?”

Tagih Aerin dengan mimik wajah lucu.

“Bentar lagi dipasang. Non ke sebelah dulu, nanti begitu pulang udah beres semuanya.”

“Okeeh… Eh, Mbak Sri gak ke sebelah?”

“Dari pagi sampe pukul 4 sore tadi, kami disana semua. Makanya gorden telat dikit. Bu Farah juga udah kirim makanan kesini.”

“Oh okee.”

Aerin mengintip sejenak dari jendela kamarnya, halaman rumah Arya sudah dipenuhi banyak orang. Suara tawa bahagia dan candaan terdengar sampai ke kamarnya. Aerin mengambil kotak kecil berbungkus kertas kado merah dan buket mawar, sebelum keluar dari kamarnya.

Sebenarnya jalan tercepat menuju rumah Arya adalah melalui pintu taman samping, penghubung antara kedua rumah. Tapi ada banyak orang yang dikenalnya yang sedang menikmati dinner di taman terbuka, yang tentu aja akan menimbulkan banyak pertanyaan bila melihat ia muncul dari pintu samping.

*****

Pak Rahmat berdecak kagum melihat sosok Aerin yang keluar dari pintu depan. Aerin ikutan tersenyum melihat kepolosan wajah Pak Rahmat.

“Udah makan malam, Pak?”
Tanya Aerin, setelah Pak Rahmat menekam tombol otomatis untuk membuka pintu gerbang.

“Sudah, non. Mau saya temani jalan ke rumah Den Arya?”

Parkiran mobil undangan yang datang ke rumah sebelah, bahkan sudah memenuhi jalan depan rumah Aerin.

“Nggak usah, pak. Kalau bapak antar, ntar aku ketahuan dong.”

Keduanya tertawa.

“Baik, non.”

Pak Rahmat tidak beranjak dari depan gerbang, menunggu sampai Aerin tiba di gerbang rumah sebelah yang berjarak sekitar 300 meter.

*****

Aerin merasakan dadanya berdebar-debar saat memasuki gerbang rumah Arya. Ini kali pertama ia berada di dalam kediaman Arya setelah 17 tahun berlalu.

Terakhir ia kemari sebelum ke Surabaya setelah menamatkan SD di Jakarta. Dulu sekali, walaupun Arya sudah tidak tinggal disini, Aerin yang patah hati… tetap bermain di taman rumah Arya untuk sekedar mengobati kerinduannya kepada Arya.

“Aerin… Oh, my girl. You are so gorgeous tonight”
Sapa Vita dengan suara lumayan keras yang membuat para undangan melihat kearah keduanya yang berpelukan.

Wiwid dan Andy yang melihat keduanya, langsung menghampiri, diikuti oleh beberapa orang yang lain.

Aerin jadi malu sendiri, penyambutan kehadirannya sudah seperti menyambut tamu kehormatan.

“Udah, udah. ayo pada lanjutin dinnernya. Apaan sih?”

Protes Aerin yang membuat semua tertawa. Pipi Aerin tampak sedikit memerah. Dress Chloe printed flou berwarna hitam yang dikenakannya sangat indah, didukung dengan Vara Pumps Merah dengan inisial huruf AΒ  dari Ferragamo.

*****

Nadine yang sedang santai bersama teman-temannya termasuk Arya, ikut memperhatikan sosok Aerin yang masih dikerumuni oleh staf Global. Dari ekspresi wajah Aerin, tampak sekali gadis itu sangat tidak nyaman mendapat banyak perhatian.

“Wow… busyet daaah! Itu dressnya brand Chloe, shoesnya Ferragamo. Amazing!” Nadine geleng-geleng kepala.

Indah yang dari tadi juga memperhatikan Aerin, ikutan tersenyum walaupun agak kecut. Melihat sosok itu, masih membuat ia tidak nyaman. Selain karena pesonanya yang luar biasa, sosok itu juga tak ramah menatapnya. Tidak seperti staf Global lainnya.

“Joko kan tajir, ntar lu suruh beliin sama dia.”

Victor menggoda Nadine. Joko adalah tunangan Nadine yang juga pengusaha. Nadine memonyongkan bibirnya.

“Beli itu, bisa-bisa aku gak jadi kawin. Habis modal, nasib dah!”

Semua tertawa.

*****

Mereka memperhatikan Aerin yang meninggalkan kerumunan  teman-temannya dan menuju ke Tante Farah yang juga sedang tersenyum menanti sosoknya mendekat.

“Apa kabar, bu?”

“Baik. Call me, Tante.”

Aerin tersenyum lebar. Matanya tampak berkaca-kaca. Keduanya berpelukan.

“Tante Farah, happy wedding anniversary. Ini buat tante.”

Farah suprised banget, selain buket bunga… ternyata Aerin juga memberinya kado mungil.

“Makasih. Ayo masuk ke dalam, tante juga punya sesuatu buat kamu.”

Farah tertawa kecil melihat mata Aerin yang berbinar-binar, ia seperti merasa dejavu. Dulu sekali, Irin kecil akan berekspresi seperti itu setiap ia memberikannya hadiah.

Keduanya memasuki ruang depan rumah Arya. Aerin menunggu di ruang keluarga. Tatapannya terpaku pada photo keluarga di dinding ruangan. Photo Tante Farah, Om Ferdinand dan Arya remaja yang masih bertubuh gemuk. Sepertinya Tante Farah belum sempat mengganti dengan photo baru.

Aerin melangkah ke sudut lain ruangan, photo-photo dalam frame kecil, seperti dulu masih tergantung rapi disana. Dan, tentu saja ada banyak photo kecilnya bersama Arya. Aerin memperhatikan satu-persatu photo-photo itu dengan perasaan campur aduk. Antara senang karena Tante Farah masih menggantungnya, dan sedih karena cintanya pada Arya tak kesampaian..

Bersambung..

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

WhatsApp Image 2021-02-12 at 14.57.39

Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo Sudah Negatif Covid-19

JAKARTA (titiktemu, 12/2)– Setelah hampir tiga pekan (20 hari) menjalani isolasi mandiri, Ketua Satgas …

Logo-Muhammadiyah-OK

PP Muhammadiyah Tetapkan Puasa Mulai 13 April 2021

Pengurus Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1442H jatuh pada hari Selasa Wage, 13 April …

WhatsApp Image 2021-02-10 at 08.34.30

KRL Yogya-Solo Beroperasi Mulai Hari Ini

SOLO (titiktemu, 10/2) – Hari ini menjadi tak biasa bagi masyarakat pelajo Solo-Yogya. Para …