Aku Disini Menunggumu – #Chapter_33/55

Sudah jam 11 malam, lampu ruang dapur rumah Aerin sudah dimatikan dan itu tandanya Mbak Sri mungkin sudah tidur. Arya yang bermaksud hendak membunyikan bel, mengurungkan niatnya. Ia melangkah kearah kanan rumah, tepat ke posisi kamar Aerin...

by InfiZakaria

Sudah jam 11 malam, lampu ruang dapur rumah Aerin sudah dimatikan dan itu tandanya Mbak Sri mungkin sudah tidur. Arya yang bermaksud hendak membunyikan bel, mengurungkan niatnya.

Ia melangkah kearah kanan rumah, tepat ke posisi kamar Aerin. Lampu masih hidup tapi bayangan yang tadi diliatnya sudah tidak tampak atau mungkin tidak tampak karena ia melihat dari bawah. Akhirnya Arya memutuskan untuk bertanya ke satpam.

“Den Arya…”

Sapa Pak Rahmat begitu melihat sosok Arya yang memakai piyama muncul dari dalam perkarangan rumah majikannya. Tapi itu hal yang biasa, pintu pagar penghubung antar 2 rumah, memang tak diperbolehkan untuk dikunci dari sebelum ia bekerja disini karena hubungan akrab pemiliknya. Jadi tidak heran begitu sosok Arya muncul tiba-tiba.

“Pak Rahmat, apa Irin ada disini?”

Pak Rahmat langsung menggeleng dengan wajah sangat yakin, ia harus menjaga rahasia.

“Tapi aku liat ada orang di kamar Irin.”

“Bener den, tapi itu bukan Non Irin. Itu anaknya Den Chandra, Non Clara yang sore tadi baru nyampe dari Surabaya.”

Pak Rahmat melihat kekecewaan di wajah Arya.

“Oh… okay. Sorry aku udah ganggu Pak Rahmat malam-malam.”

“Ah, ndak apa den.”

“Ya udah, aku balik dulu ya Pak.”

Arya melangkah dengan lemas, ia bisa merasakan keringat dingin membasahi piyamanya karena berlari tadi. Apa lagi yang harus ia lakukan untuk bisa bertemu dengan Irin?

Tentu saja selain opsi ke Surabaya, bertanya langsung ke orang tua Irin. Tapi itu adalah pilihan terakhir saat ia menyerah kalah dengan usahanya sendiri. Sekarang ia masih sangat optimis bahwa ia akan menemukan keberadaan Aerin dengan usahanya sendiri.

Aerin tadi juga sempat melihat sosok Arya yang berdiri balkon. Lampu balkon kamar Arya sangat terang sehingga dari balik gorden kamarnya yang agak transparan, ia bisa melihat jelas sosok Arya. Dan, Aerin menyadari itu sangat riskan, besok ia harus minta Mbak Sri mengganti gorden kamarnya ke warna yang gelap.

Malam itu Aerin sangat sibuk menginstall semua peralatan komputernya dan memasang sistem pengaman sehingga ia tidak sempat berlama-lama memperhatikan apalagi memikirkan Arya.

*****

Saat pagi tiba, Aerin melihat kesibukan di taman rumah Arya. Persiapan untuk dinner malam nanti sudah dimulai, tenda besar juga sudah dipasang dari kemarin. Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi saat Aerin memutuskan untuk ke kantor, ia kangen dengan pasukannya yang hampir seminggu tidak bertemu.

Di kantor ternyata banyak orang, para manager dari daerah semuanya hadir dengan kepentingan masing-masing. Para direktur juga hadir, mereka memanfaatkan waktu jelang makan malam buat berdiskusi dan menyelesaikan beberapa urusan administrasi yang belum beres.

Aerin cukup suprised begitu mendapat info dari Wiwied yang juga hadir, bahwa beberapa manager daerah bahkan sudah menunggunya di ruang IT.

Aerin yang sama sekali tidak tahu kalau ia sudah ditunggu, segera buru-buru berlari kecil menuju ke lift khusus yang pintunya hampir tertutup… tapi begitu mengenali sosok yang ada di dalam yang juga sedang menatapnya, Aerin berhenti.

Arya segera menahan pintu lift.

“Ikut?”

Tanyanya dengan nada ramah yang dalam penglihatan Aerin, seolah tidak ada kejadian apa-apa diantara mereka. Tentu saja, Arya sudah memintanya melupakan kejadian ciuman itu. Ingat itu, Aerin jadi sangat emosi. Ia masih sangat marah.

“No!”

Arya tau ada kemarahan dari jawaban Aerin. Sepertinya mereka harus berbicara untuk menjernihkan insiden ciuman itu.

“Okay. See you!”
Respon Arya akhirnya sambil menekan tombol menutup pintu lift.

Aerin yang melihat kearah lain, bahkan tidak berpaling menatapnya sampai pintu lift tertutup sempurna.

*****

Mood Aerin yang semula sangat bagus, berubah drastis. Melihat Arya, bisa tiba-tiba membuat emosinya membara. Rasanya tadi ia ingin berteriak keras kepada Arya, memprotes banyak hal yang telah Arya lakukan terhadapnya.

Memprotes Arya akan sikapnya yang kasar saat ia kecil. Memprotes Arya karena tidak pernah membalas satupun kartu ucapan ulang tahun yang ia kirimkan. Memprotes Arya karena tidak mencarinya saat Arya telah kembali ke Jakarta. Memprotes Arya karena telah mencuri ciuman pertamanya lalu meminta ia untuk melupakan kejadian itu.

Tak terasa airmata menetes dipipinya. Begitu lift terbuka, Aerin segera melangkah buru-buru ke dalam lift. Ia tidak ingin seorang pun melihat ia menangis. Tapi…

“Are you okay?”

Aerin kaget banget mendengar suara yang tiba-tiba bertanya padanya, lebih kaget lagi setelah ia tau itu suara siapa tanpa perlu berpaling. Arya yang semula bermaksud balik ke basement karena ia lupa membawa dokumen dari mobilnya, mengurungkan niatnya dan ikut naik lift lagi.

“Kamu masih marah?”

Arya bertanya lagi karena Aerin tidak menjawab. Air mata Aerin semakin deras mengalir, gadis cantik itu menangis tanpa suara.

“Aerin…”

Arya mendekat, kali ini Aerin berpaling melihatnya.

“Stay away from me!”
Ucapnya dengan nada lemah.

Rasanya ingin saja Arya memeluk gadis itu, mendekap tubuh langsingnya, membiarkan dia menangis di dada bidangnya.

“We have to talk. Kita bekerja di satu perusahaan, sering bertemu… kita tidak mungkin seperti ini setiap bertemu. Let’s talk about what happened that night” nada suara Arya sangat tegas.

Saat lift berhenti di lantai 14, Arya segera memegang erat tangan Aerin agar Aerin tidak keluar. Aerin diam saja, tidak protes.

*****

Begitu tiba di lantai 15, Arya menarik Aerin untuk keluar bersamanya dan membawanya ke ruang kerjanya. Hanya ada mereka berdua di lantai 15, Vita tidak masuk hari ini karena ikut mempersiapkan acara dinner nanti malam.

Arya melepaskan pegangan tangannya begitu mereka berada di dalam ruang kerjanya. Ia menuju ke dapur dan menuangkan segelas air buat Aerin.

Aerin yang sudah tidak menangis menatap setiap pergerakan Arya dengan takjub. Moodnya sudah berangsur kembali lagi, melihat Arya membawa segelas air putih untuknya, sungguh membuat ia bahagia.

Arya meraih tangan kanan Aerin dan menggenggamkan gelas yang berisi air hangat. Aerin merasakan tubuhnya ikut menghangat. Ia segera meminumnya dengan tatapan teduh dari Arya.

“Makasih”
Ucapnya setengah berbisik dengan wajah agak tersipu.

Arya mengangguk sambil tersenyum melihat perubahan ekspresi wajah Aerin yang menjadi lebih ramah. Aerin minum lagi, menghabiskan sisa air di gelas.

Kenapa air putih ini rasanya bisa lezat sekali? Aerin memperhatikan dengan teliti tetes terakhir air di gelas… tidak ada yang aneh! Warnanya bening seperti air putih biasa dan dari brand yang sama dengan air mineral di ruang kerjanya.

Bersambung..

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

WhatsApp Image 2021-02-12 at 14.57.39

Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo Sudah Negatif Covid-19

JAKARTA (titiktemu, 12/2)– Setelah hampir tiga pekan (20 hari) menjalani isolasi mandiri, Ketua Satgas …

Logo-Muhammadiyah-OK

PP Muhammadiyah Tetapkan Puasa Mulai 13 April 2021

Pengurus Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1442H jatuh pada hari Selasa Wage, 13 April …

WhatsApp Image 2021-02-10 at 08.34.30

KRL Yogya-Solo Beroperasi Mulai Hari Ini

SOLO (titiktemu, 10/2) – Hari ini menjadi tak biasa bagi masyarakat pelajo Solo-Yogya. Para …