Aku Disini Menunggumu – #Chapter_31/55

Sosok Aerin yang ramah dan sangat menyegarkan mata, membuat banyak orang mencarinya. Aerin mengenalkan dirinya kepada Ibu Farah dan Bapak Ferdinand, sambil membungkukkan sedikit badannya. Keduanya tersenyum sambil menganggukkan kepala..

by InfiZakaria

Andy dan Vita duduk semeja saat makan siang.

“Tadi aku sudah call Ririn, tapi tidak diangkat” terang Andy dengan nada kecewa.

“Aku juga sudah coba call dia, sama juga. Tidak satupun yang diangkat. WA terbaru juga belum dibaca kan?”

Andy mengangguk.

“Apa yang sebenarnya terjadi dengan Ririn ya? Menurut kamu, apa mungkin dia memutuskan keluar dari Global tanpa permisi?”

Andy ragu sendiri dengan pikiran ngawurnya. Vita langsung melototkan matanya sebagai tanda protes dengan pertanyaannya.

“Kamu ini, berapa lama sih kamu kenal Ririn? How could you ask such a question?”

Protes Vita dengan nada tinggi.

“Iya…iya, sorry. Aku gak tau harus menebak alasan apa lagi.”

“Ririn tidak mungkin seperti itu. Kalau dia berniat menghilang tanpa permisi, bagaimana mungkin beberapa jam sebelum itu dia mau bantu Global Bank?”

Andy tak mau lanjut menjawab, ia tau pikirannya sedang tidak waras… berpikir yang bukan-bukan.

*****

Setelah makan siang, semua top management kembali berkumpul di ballroom. Dari sejak meeting dimulai Kamis kemarin, ketidakhadiran Aerin menjadi tanda tanya besar bagi semua orang. Sosok Aerin yang ramah dan sangat menyegarkan mata, membuat banyak orang mencarinya.

“Assalammualaikum, selamat siang. Bagaimana makan siangnya, laziis?”
Tanya Rachel, staf PR yang didaulat menjadi MC selama meeting berlangsung.

Semua menjawab salam dan terdengar jawaban ‘laziis’ membahana di ruangan, diikuti oleh suara tawa.

“Alhamdulillah. Insyaa Allah besok malam, hm…bakalan lebih lezat lagi. Mau makanan apa aja, adaaa. Ada 5 chef yang akan memasak makan malam buat kita besok malam. Jadi, pastikan hadir dengan perut kosong” canda Rachel yang membuat semua tertawa.

“Baiklah, presentasi terakhir hari ini akan disampaikan oleh bagian IT. Kalau kita berbicara Bagian IT, pastilah semua langsung mengingat seseorang… kangen ama Mbak Ririn kan? Ayoo kita doakan, semoga Mbak Ririn baik-baik saja dan bisa segera berkumpul lagi bersama kita…”

Arya merasakan suasana menjadi begitu hening saat sang MC mulai menyebut nama Aerin.

“Presentasi IT akan disampaikan oleh Mas Andy, Technical and IT Director.”

Andy yang duduk di deretan kursi bagian depan, langsung berdiri dan membungkukkan sedikit badannya sebelum melangkah, namun pintu ballroom yang tiba-tiba terbuka membuat perhatian dari sosok Andy berpindah ke pintu.

Dan, ada sosok yang baru saja memenuhi pikiran mereka.

“Aerin… Aerin…”

Terdengar teriakan yang membuat suasana ballroom menjadi sangat hidup.
Sosok Aerin yang kini berambut berwarna caramel, warna cokelat dengan sedikit sentuhan warna kekuningan… tersenyum manis sambil melambaikan tangannya, melangkah menuju ke bagian depan.

Andy tertawa kecil sambil mengacungkan dua jempolnya ke Aerin yang membalasnya dengan kerdipan sebelah matanya.

“Assalammualaikum, apa kabar semuanya?”

Terdengar suara riuh, Aerin tertawa sebentar, suara tawa yang terdengar begitu seksi.

“Maaf aku tidak bisa hadir di kantor dari Hari Senin. I was so tired last week, kondisi kesehatan aku memburuk dan harus diopname.” Aerin diam sejenak.

“I was at Mount Elizabeth Hospital Singapore since Sunday morning setelah sekitar 12 jam dirawat di Emergency room RS Premier Jakarta. Just landed in Jakarta yesterday afternoon. So Pak Arya, i was absent from the office and at this meeting just because i was sick, not for other reasons.”

Aerin menatap Arya sesaat, ia tau Arya cukup suprised mendengar penjelasan langsungnya. Oh God, menatap sosok Arya… membuat ia masih terluka.

Arya menganggukkan kepalanya sebagai respon menerima penjelasan Aerin. Aerin menatap dua sosok yang duduk di sebelah Arya.

“It’s an honor to meet both of you, Bapak dan Ibu Ferdinand. I’m Aerin Alessandra, IT Expert.”

Aerin mengenalkan dirinya kepada Ibu Farah dan Bapak Ferdinand, sambil membungkukkan sedikit badannya. Keduanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.

****

Aerin mengeluarkan HP-nya dan menekan sebuah tombol, tiba-tiba saja semua lampu di ruangan ballroom mati, kecuali lampu di podium.

Vita dan Andy tertawa kecil, Aerin sudah mempersiapkan diri dengan sangat baik.

“Okay, let’s start the presentation. Sebenarnya Mas Andy dan bagian IT sudah mempersiapkan sebuah presentasi yang sangat bagus, i really appreciate it. Tapi isi yang kurang lebih sama, sudah pernah aku sampaikan saat pertama meeting dengan Pak Arya, beberapa bulan yang lalu. So i think that Bapak dan Ibu Ferdinand have been well informed, so my presentation will focus on how to upgrade the capacity building for IT Staff.”

Farah menatap sosok cantik itu tanpa berkedip. Dari cara Aerin berbicara, semua orang akan tau kalau gadis itu sangat pintar dan sangat tau capacity building seperti apa yang dia inginkan buat stafnya.

Bahkan dia sudah merancang proposal jadwal training terbaru buat stafnya untuk satu tahun kedepan. Dia ingin setiap staf IT di kantor pusat menguasai atau expert di satu bidang IT sehingga setelah ikut training masing-masing staf bisa sharing ilmu.

“Ini akan menghabiskan banyak sekali biaya, but believe me… FF Group akan mendapatkan benefit yang sangat besar di kemudian hari. Apa yang terjadi pada Global Bank Sabtu yang lalu, sudah cukup menjadi sebuah teguran buat kita bersama akan arti pentingnya staf IT yang kompeten dan benar-benar expert dibidangnya.”

Diam sejenak. Aerin menatap Arya yang tentu saja dari tadi tak pernah lepas menatapnya.

“I don’t want to praise myself because you know my capacity. You were really lucky to have me at that moment, but I will not be here forever. Jadi FF Group harus mempersiapkan diri before I’m leave.”

“Thanks for your attention. Any question?”
Tanya Aerin sambil kembali menekan salah satu tombol di HPnya dan semua lampu kembali hidup.

Farah mengangkat tangannya sebagai tanda ingin bertanya. Aerin melangkah mendekat.

“Apa mimpi kamu bersama Global?”

Andy dan Vita cukup suprised melihat reaksi Aerin yang diam mematung mendapat pertanyaan yang sangat simple dari Ibu Farah. Aerin tidak biasanya seperti itu. Aerin adalah sosok yang akan menjawab dengan cepat setiap pertanyaan.

“When I join Global, I want to be one of the biggest shareholders here.”

Ibu Farah dan Pak Ferdinand tersenyum mendengar jawaban polos Aerin.

“That was my dream five years ago, but now I have changed my dream. My dream that Global will continue to exist forever without me becoming a shareholder. I love everyone here, this is my second family.”

Mata Aerin berkaca-kaca, sungguh ia tidak bisa menahan diri untuk tidak bersedih. Waktunya bersama mereka akan segera berakhir..

Bersambung..

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Extra Part

Arya menyentuh alis Aerin yang berbentuk melengkung setengah lingkaran, lalu sentuhannya turun ke hidung mancungnya dan berakhir di bibir penuh Aerin, sebuah masterpiece yang membuat ia tak bisa jauh dari itu…

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_55/55

Bramantio menggandeng tangan Aerin. Arya melihatnya dengan agak cemburu. Huh… seharusnya ia yang lebih berhak menggandeng tangan itu. Tasya yang melihat arah pandangan Arya, langsung menggandeng tangan Arya. Aerin melihat keduanya yang berjalan di depannya.

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_54/55

Kembali ke Global Cell membuat Aerin bahagia. Wiwid, Vita dan pasukan IT menyambut kedatangannya di lobby. Aerin sangat terharu, ah… bagaimana mungkin ia sanggup meninggalkan mereka dalam waktu yang tak lama lagi.