Aku Disini Menunggumu – #Chapter_30/55

Aerin mulai membaca satu-persatu pesan yang masuk untuk memahami apa yang terjadi selama ia menghilang. Saat ini para top management sedang mengikuti meeting. Mas Andy dan pasukannya sudah menyusun presentasi dan mengirimkan kepadanya walaupun mereka tau ia belum tentu akan hadir.

by InfiZakaria

Kamis jelang sore, Aerin kembali ke Jakarta. Ia berpisah dengan mama di bandara karena mama segera terbang ke Surabaya. Mas Anton dan Mas Hendra, dua bodyguard yang dipekerjakan oleh papa, menjemputnya.

“Aku belum sempat ngucapin makasih. Makasih untuk responnya yang sangat cepat” ucap Aerin tulus.

Keduanya tersenyum sangat sopan. Ini kali pertama Aerin berjumpa dengan keduanya padahal keduanya sudah menjaganya hampir lima tahun… sejak ia menetap di Jakarta sekembalinya dari Amerika.

“Sudah tugas kami.”

“Dalam lima tahun bertugas, baru Sabtu kemarin itu, kami melakukan tugas yang sebenarnya.”

Aerin tertawa.
Ya tentu saja, tidak ada kejadian tragis yang menimpanya dalam lima tahun ini ini yang membutuhkan perlindungan ekstra dari bodyguard. Bahkan ia baru tau kalau ia punya bodyguard beberapa bulan yang lalu.

Aerin mengeluarkan dua paperbag dari backpacknya dan menyerahkan kepada keduanya.

“Hadiah perkenalan kita.”

Keduanya merasa sangat tersanjung bahwa Aerin yang berada di Singapore untuk berobat, masih sempat memikirkan memberikan hadiah buat mereka.

*****

Begitu Aerin menghidupkan HP, ada banyak WA yang masuk dan missed call yang tak terhitung. Mas Andy menduduki peringkat teratas, disusul oleh Mbak Vita, pasukannya dan Wiwid beserta banyak staf Global lainnya.

Aerin mulai membaca satu-persatu pesan yang masuk untuk memahami apa yang terjadi selama ia menghilang. Saat ini para top management sedang mengikuti meeting.

Bagian IT kebagian melakukan presentasi di Jumat sore, Mas Andy dan pasukannya sudah menyusun presentasi dan mengirimkan kepadanya walaupun mereka tau ia belum tentu akan hadir.

Aerin membaca isi presentasi dengan serius dan ia tersenyum senang. Mas Andy dan pasukannya berkolaborasi dengan sangat baik, sebuah indikasi bahwa mereka akan baik-baik saja saat ia meninggalkan Global nantinya.

*****

Farah yang duduk di samping Arya, sudah dari tadi celingak-celinguk melihat satu per satu staf Global yang ada di ballroom. Ia tidak menemukan sosok gadis seperti yang dideskripsikan Arya.

Ada beberapa wanita, mungkin kisaran usia tiga puluh ke empat puluhan tapi tidak sesuai dengan deskripsi Arya. Seseorang yang bernama Aerin Alessandra dengan jabatan IT Expert dan selalu memakai kalung berliontin blue diamond… sangat membuatnya penasaran.

“Dimana dia?”

Akhirnya Farah bertanya ke Arya, di sela-sela mendengarkan presentasi dari bagian marketing.

Arya tau banget siapa yang dimaksud. Selain penasaran dengan sosok Aerin, orang tuanya juga ingin menyampaikan rasa terimakasih karena Aerin telah mengatasi serangan hacker pada Global Bank.

“Dia tidak ada disini, ma. Sudah dari Senin, dia tidak masuk kerja.”

“Dia kenapa? Sakit?”

Arya menggeleng.

“No news. Kami sudah mencoba menghubungi nomer HP keluarganya, tapi tidak berhasil. Sudah ke rumahnya juga, tapi tidak ada siapapun.”

Farah tau Arya tampak khawatir.

“Mama yakin dia baik-baik saja. Orang baik, langkahnya pasti akan baik.”

Vita yang duduk disamping Arya tersenyum mendengar ucapan Ibu Farah. Ia tidak mengikuti betul percakapan ibu dan anak itu karena fokusnya terpecah dengan masuknya WA dari Mas Andy yang mengabarkan bahwa chat WA ke Aerin sudah ada tanda dibaca.

Vita langsung memeriksa juga chat yang ia kirimkan untuk Aerin, benar saja. Semua sudah ada tanda sudah dibaca, walaupun Aerin belum membalas. Setidaknya mereka tau HP Aerin sudah aktif kembali. Vita menyodorkan HPnya kepada Arya  sambil menunjuk tanda crosscheck sudah dibaca. Seketika senyum lega hadir di wajah Arya.

*****

Pak Bramantio masih sangat mengkhawatirkan kesehatan anak gadisnya, walaupun sudah mendapatkan laporan dari istrinya bahwa kondisi Aerin sudah seperti semula, tapi ia tetap tak tenang. Akhirnya ia memutuskan sebuah rencana.

🎵I’m a big big girl, in a big…🎵

“Papa… apa kabar?”

Aerin sangat tau papanya masih sangat mengkhawatirkannya. Selama di Singapore, hampir setiap saat papa mengecek kondisinya.

“Sangat baik setelah mendengar mama bilang kondisi kamu sudah seperti sebelumnya. Tapi papa masih tidak tenang karena kamu tinggal sendirian. Papa sangat khawatir kejadian yang sama akan terulang dan kamu belum tentu selalu sempat menghubungi emergency number. So, I have decided that you have to move to our family house, starting from tomorrow.”

Aerin tau ia tidak boleh menolak. Ini bukan permintaan, tapi sebuah perintah.

“Baik, pa. I will move out tomorrow” jawabnya dengan nada pasrah.

Pak Bramantio tersenyum puas.

“Thanks, my girl. Take care and see you soon ya.”

Aerin menghempaskan tubuh letihnya ke kasur dengan pikiran agak semrawut. Tinggal di rumah yang bersebelahan dengan Arya, tentu saja identitasnya akan sangat mudah terbongkar, kecuali kalau ia bisa mengajak semua orang yang tinggal di rumah untuk mengrahasiakan kehadirannya.

Ia masih belum lelah untuk menyembunyikan dirinya dari Arya walaupun ia tau menyembunyikan identitas dirinya juga tidak berarti apapun lagi sekarang ini karena Arya sudah punya seseorang yang dicintainya.

Kesempatannya untuk membuat Arya jatuh cinta kepadanya sudah tidak ada kecuali kalau Sang Pengatur mengtakdirkan ia dan Arya untuk bersatu. Tak terasa, air mata Aerin menetes dengan sukses. Tentu saja sebagai manusia biasa yang sangat percaya pada takdir, ia sudah pasrah akan mimpi-mimpi indahnya bersama Arya.

*****

Jumat pagi Aerin memutuskan untuk tidak datang ke meeting, ia harus mengemas barang-barangnya sesegera mungkin dan meluncur ke rumah keluarga. Papa pasti akan mengecek kepada pekerja disana tentang kehadirannya.

Setelah hubungannya dengan keluarga membaik, ia tak ingin sekalipun membuat keluarganya kecewa. Ia telah menghabiskan 29 tahun dari kehidupannya dengan hubungan yang tidak harmonis dengan keluarga.

Sekarang ini ia tidak akan menyia-nyiakan waktunya yang tersisa. Ia ingin membuat keluarganya bahagia, salah satunya dengan mengikuti kemauan keluarga. Dan, disinilah Aerin berada. Diam terpaku di depan pintu gerbang rumah keluarganya.

Seorang satpam muncul, membukakan pintu gerbang dengan tombol otomatis dan menuju ke Range Rovernya. Aerin menurunkan kaca jendela mobil.

“Selamat siang. Maaf, mbak cari siapa ya?”

Tanya pak satpam yang berumur sekitar 50 an yang di seragamnya bertuliskan nama ‘Rahmat’.
Aerin tersenyum sambil  melepaskan sunglasses nya, tapi Pak Rahmat tetap tak mengenalinya. Ia malah mendapati tatapan bengong plus kagum. Aerin tertawa kecil.

“Irin,” ucap Irin sambil mengulurkan tangannya.

Wajah di sampingnya langsung berubah kaget dan menyambut uluran tangannya dengan penuh antusias.

“Ya ampuun, Non Irin…. maaf bapak tidak bisa mengenali Non Irin.”

Mata Pak Rahmat berkaca-kaca sangking senangnya berjumpa kembali dengan putri majikannya yang sudah menjelma dari anak kecil yang suka menangis menjadi seorang gadis yang sangat cantik.

“Senang banget bapak masih bekerja disini. Aku akan tinggal disini mulai hari ini. Bantu aku angkat barang, setelah itu…kita ngumpul di dalam. Ada yang mau aku omongin.”

“Siap, non”.

Aerin memasukkan mobilnya ke halaman rumah dan langsung ke garasi. Pak Rahmat mengikutinya.

*****

Suasana heboh dan penuh haru terjadi lagi begitu Aerin mengenalkan dirinya kepada Mbak Sri, nanny nya saat ia dibawa ke rumah ini sampai ia ikut pindah ke Surabaya.

Mbak Sri memeluk dan mengusap-usap punggungnya dengan lembut, seperti yang selalu dia lakukan saat Aerin menangis. Tak terasa air mata Aerin menetes, ia membalas pelukan Mbak Sri dengan erat. Keduanya saling terharu. Selain Mbak Sri, ada Mbak Lastri dan Mbak Wati yang juga bekerja dan tinggal dirumahnya.

“Senang sekali bisa kembali kesini dan bertemu dengan orang-orang yang pernah bersamaku dulu. Aku akan tinggal disini mulai hari ini. Tapi aku ingin keberadaanku disini dirahasiakan dari siapapun. Hanya aku, keluargaku dan orang-orang yang tinggal di rumah ini saja yang boleh tau…”

Ada wajah-wajah bengong penuh dengan tanda tanya. Aerin tersenyum, sangat mengerti.

“Termasuk keluarga Pak Ferdinand?” Tanya Mbak Sri, Aerin langsung mengangguk.

“Termasuk Pak Ferdinand, Tante Farah, Mas Arya, satpam dan ART mereka” jawab Aerin dengan nada tegas.

“Den Arya dan Ibu Farah pernah kesini nanyain Non Irin ada dimana?”

Aerin tersenyum mengerti. Sebagai tetangga yang dulunya sempat sangat dekat, wajar saja bila Tante Farah dan Arya menanyakan dirinya.

“Untuk saat ini, aku tidak mau orang luar tau kalau aku ada disini. Bantu aku menjaga rahasia ini.”

“Baik, non.” Keempatnya menjawab hampir bersamaan.

“Terimakasih banyak. Mbak Sri, bantu aku beres-beres ya. Aku mau tidur di kamarku yang dulu.”

Sri mengangguk, nada suara Aerin, masih semanja dulu. Nada manja yang selalu membuatnya tersentuh karena Aerin hanya bisa bermanja-manja dengannya, dengan Ibu Farah dan dengan Ibu Mirna.

*****

Begitu sampai di kamarnya yang di lantai atas, Aerin tersenyum puas. Perabotan di kamarnya sudah diganti yang baru. Tempat tidur single nya sekarang sudah diganti dengan tempat tidur ukuran besar, begitu juga lemari dan lain-lain.

Bahkan kamarnya sudah punya connecting door dengan kamar disebelah sehingga ia bisa menjadikan kamar sebelah sebagai ruang kerja. Peralatan komputernya akan segera memenuhi kamar sebelah.

Setelah mengecek semua sudut, Aerin keluar ke balkon dan berdiri mematung dengan mata menatap balkon kamar Arya… yang walaupun jaraknya lumayan jauh tapi berhadapan langsung dengan balkon kamarnya. Tidak ada yang berubah.

Bersambung..

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Extra Part

Arya menyentuh alis Aerin yang berbentuk melengkung setengah lingkaran, lalu sentuhannya turun ke hidung mancungnya dan berakhir di bibir penuh Aerin, sebuah masterpiece yang membuat ia tak bisa jauh dari itu…

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_55/55

Bramantio menggandeng tangan Aerin. Arya melihatnya dengan agak cemburu. Huh… seharusnya ia yang lebih berhak menggandeng tangan itu. Tasya yang melihat arah pandangan Arya, langsung menggandeng tangan Arya. Aerin melihat keduanya yang berjalan di depannya.

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_54/55

Kembali ke Global Cell membuat Aerin bahagia. Wiwid, Vita dan pasukan IT menyambut kedatangannya di lobby. Aerin sangat terharu, ah… bagaimana mungkin ia sanggup meninggalkan mereka dalam waktu yang tak lama lagi.