Aku Disini Menunggumu – #Chapter_3/55

Ada yang bilang, Aerin bekerja sampingan sebagai hacker international yang dibayar mahal untuk setiap serangan software yang diselamatkannya. Banyak gosip tentang itu, tapi tidak ada yang berani bertanya langsung.

by InfiZakaria

Ruangan IT ramai sore itu, Aerin berdiri di depan staf IT yang semuanya cowok.

“Ingat, selama aku cuti.. .gak ada yang boleh nyenggol-nyenggol kita. Kalau ada sedikit aja yang aneh, pantau terus. Okay?”

“Siap, bos!” jawab Bagas dan lainnya penuh semangat.

Belakangan ini emang banyak black hacker yang mencoba nyenggol sistem software Global, makanya Aerin giat banget meningkatkan kapasitas anggotanya.

“Aku belum tau akan berada dimana selama 1 minggu cuti, so in case of emergency… kalian boleh hubungi aku kalau gangguannya sudah di level 5. Ingat, hanya kalau sudah di level 5! Itupun aku sangat berharap no one call me. Okay?”

“Siap bos!”

Aerin tersenyum puas.

“So, malam ini kita lembur. Kalian mau dinner apa?”
Wajah-wajah di hadapannya tersenyum girang.

“Mario, handle dinner! Order apa aja yang kalian suka.”
Aerin mengeluarkan kartu debit dari dompetnya.

“Asyeek…”
Mario langsung mengambil kartu debit dari tangan Aerin.

Aerin emang terkenal sangat pemurah… duitnya gak pernah habisnya. Sampai sekarang, sumber duit yang dimiliki Aerin sebenarnya sering jadi bahasan umum staf Global, selain tentu saja tentang keindahan sosoknya.

Aerin mengendarai Range Rover Sport yang harganya milyaran,  sementara Pak Rasyid sang CEO hanya mengendarai Toyota New Camry. Aerin juga tinggal di perumahan mewah, yang harga tanah per meternya wow banget. Pakaian yang dikenakannya pun, brandnya bikin mata mendelik.

Ada yang bilang, Aerin bekerja sampingan sebagai hacker  international yang dibayar mahal untuk setiap serangan software yang diselamatkannya. Banyak gosip tentang itu, tapi tidak ada yang berani bertanya langsung.

*****

🎵I’m a big big girl, in a…🎵

Aerin terbangun dari tidurnya. Masih jam 6 pagi, siapa gerangan yang menelpon? Begitu melihat ke nama yang muncul di hpnya, ia mengernyitkan dahi.

“Tante, ini masih terlalu pagi.”

“Irin sayang…”

“Aku baru tidur 3 jam loh… ntar telpon lagi, okay?”

“Sorry sayang. Dengerin tante sebentar aja. Sahabat almarhumah mami kamu, Tante Rossa, hari ini ulang tahun dan dia ngundang kamu datang. Kamu masih ingat rumahnya kan? Jumpa disana pukul 7 malam, ya?” Kalau Tante Mirna, adik almarhumah mami, sudah memberi perintah, Aerin segan banget untuk menolak.

“Baiklah, see you there.”

“Jangan lupa kado dan buket bunga. Tante Rossa suka Lily, kamu masih ingat?”

“Iya, tante. Aku tidur lagi ya, bye.”

Mirna menarik napas panjang. Ia masih sangat mengkhawatirkan Aerin walaupun Aerin sudah sangat dewasa dan sudah sangat mandiri dengan hasil kerja kerasnya sendiri. Hubungan Aerin dengan keluarga besar papanya masih jauh dari kata harmonis. Saudara sedarahnya belum menerima keberadaan Aerin, apalagi sang mama tiri.

Mirna tahu betul, sosok Aerin yang terlihat begitu sempurna di mata orang lain sebenarnya adalah sosok yang sangat kesepian, sosok yang banyak memendam kesedihan.

*****

Andy masuk ke ruangan IT sambil menenteng shopping bag bertuliskan Chanel di tangan kirinya, sementara di tangan kanan menenteng buket bunga lily kuning yang cantik banget.

“Ririn, mana?”

“Lagi sarapan, mas. Di balkon.”

Andy melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul 11 siang.

 “Kalian lembur?”

“Iya.”
Jawab Bagas sambil menguap.

“Good job!”
Andy menepuk bahu Bagas sebelum menuju ke balkon.

Sosok yang dicarinya tampak lahap banget menyantap lontong pecal dengan segelas teh manis. Aerin melihat siapa yang datang.

“Siang, mas. Waah… ada kiriman buat aku kah?”

Andy tersenyum.
Di Global, emang Aerin yang paling sering mendapat kiriman hadiah entah dari siapa aja. Paling sering buket bunga mawar. Saking seringnya, kalau ada buket bunga yang datang, resepsionis bisa langsung ambil buat hiasan di vas bunga, tanpa perlu lagi memberitahukan kepada Aerin. Memberitahukan kepada Aerin nama pengirim buket, sia-sia saja karena Aerin tidak akan ingat itu siapa.

“Dari Tante Mirna.”

“Oh, itu buat acara ntar malam. Sahabat almarhumah mamiku ulang tahun. Tante Mirna pasti khawatir aku ogah datang, makanya dia kirim buket dan baju buat ke pesta.”

Andy tertawa.

“Kamu emang spesial banget ya.”

Aerin ikutan tertawa.
Mas Andy mengenal Tante Mirna. Di awal-awal Aerin berkerja di Global, Tante Mirna sering singgah.

“Oh ya, kamu sudah hand over kerjaan kamu selama cuti kan?”

“Sudah, mas. Don’t worry! Bagas itu calon the next IT Expert. Dia hanya perlu sedikit lagi lebih familiar dengan yang biasa aku kerjakan. Oh ya, aku mau discuss sesuatu. Are you free?”

Andy mengangguk.

“Kita ke ruangan Mas Andy aja, sebentar aku ambil dokumennya.”

Bagas melihat keduanya yang melangkah ke pintu. Ia mendengar dengan jelas saat Aerin membanggakannya. Ia memang mendapat banyak sekali support dari Aerin.

Aerin itu tipe bos yang sangat percaya dengan kemampuan bawahannya. Kapasitas staf IT melesat jauh sejak Aerin bergabung di Global. Dan Aerin juga berhasil mengubah staf IT yang dulunya terkenal jutek dan kuper, menjadi staf yang sangat dominan di Global.

*****

“So, ada apa?”
Andy menatap wajah cantik di depannya.

“Aku hanya ingin Mas Andy untuk aware aja, ada kemungkinan besar saat aku balik dari cuti ntar… aku akan submit resignation letter sesuai dengan pembicaraan awal kita dulu.”

Andy yang kaget, tanpa sadar membuka mulutnya. Tapi wajah Aerin tampak serius banget.

“No…no, no way, impossible! Kamu tidak mungkin resign, kamu sudah sangat betah bekerja disini.”

“Yes, tapi kita sudah membicarakan kondisi ini di awal aku bekerja. Aku punya jangka waktu bisa bekerja disini karena aku punya janji lain yang harus aku penuhi.”

Andy menatap Aerin dengan pandangan yang masih tak percaya. Memang mereka sudah menyutujui syarat yang diajukan Aerin sebelum bergabung di Global.

“Ririn…”

“I’m sorry. I have to”
Ucap Aerin sangat serius.

“Global tidak perlu mencari penggantiku, dengan kekuatan sistem software yang aku buat, sudah cukup Bagas ngelead IT Team. Bagas hanya perlu mendapat beberapa training yang lebih spesifik dan waktu berlatih yang lebih banyak. So….”

Aerin menyodorkan sebuah dokumen ke hadapan Andy.

“Salah satunya ini, short course 3 bulan di NUS Singapore, trainernya salah satu professorku di MIT dan aku pernah jadi assistant trainer sebelum bergabung dengan Global.”

Andy membaca dokumen yang disodorkan Aerin.

“Aku ingin Mas Andy mengapprove ini sebelum CEO baru bekerja karena kita tidak tau peraturan baru apa lagi ntar yang berlaku . Can you help me?”

“I will think about it, okay?”

“Saat aku balik dari cuti, dokumen ini sudah Mas Andy signed dan sudah ada di HR, okay?”

Aerin mengerdipkan sebelah matanya dengan tersenyum menggoda yang bikin pria meleleh. Andy menarik napas panjang.

“You are the real devil.”

Aerin tertawa geli.

“You are the best, brother.”

Aerin bangkit menuju ke posisi Andy dan tanpa diduga memeluk Andy.

“Thank you, Mas Andy.”

Aerin melepaskan pelukannya. Andy hanya bisa menatapnya dengan pandangan pura-pura sebel.

“Seandainya ada cara untuk bisa kuat menolak permintaan kamu…”

Aerin tertawa.
Hubungannya dengan Mas Andy sudah seperti saudara walaupun Aerin tidak pernah berbagi cerita tentang keluarganya. Mas Andy bisa membuat ia merasa mempunyai kakak laki-laki. Sebenarnya ia punya 2 kakak laki-laki, tapi hubungan mereka dipisahkan dengan kisah masa lalu yang cukup rumit.

*****

Siulan menggoda terdengar riuh saat Aerin keluar dari kamar istirahatnya di ruangan IT. Sosok Aerin yang bergaun hitam diatas lutut, sungguh sangat menggoda. Gaun hitam dengan bagian transparan di bagian dada atas ke lengan atas dan sedikit di bagian paha… bikin mata tak bisa berpaling.

Rambut ikalnya diikat rapi, anting-anting berlian berwarna biru berbentuk oval yang dikenakannya membuat wajah Aerin yang bermake up tipis dan berlipstik pink tipis, tampak  sangat berkilau.

Tak ketinggalan kalung emas putih berbandul berlian warna senada yang tak pernah lepas dari lingkaran leher Aerin. Aksesoris lain hanya dompet mungil berwarna silver dan high heels berwarna hitam kombinasi silver. Gaun yang dikenakannya berpotongan sangat sederhana tapi semua tahu itu gaun mahal.

Aerin tertawa kecil.

“Aku gak balik lagi ke kantor, so sampai jumpa setelah cuti ya. Work hard and smart, okay?”

“Siap, mbak!”

“Love you all, bye bye…” Aerin keluar dari ruangan.

“Aaaah, aku gak kuat nahan godaan…”
Protes Mario yang membuat semuanya tertawa ngakak.

Aerin itu seperti mood booster. Kalau pikiran udah buntu, anak-anak IT cukup ngelirik sang goddess. Kerja jadi otomatis semangat lagi.

Bersambung..

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

WhatsApp Image 2021-02-12 at 14.57.39

Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo Sudah Negatif Covid-19

JAKARTA (titiktemu, 12/2)– Setelah hampir tiga pekan (20 hari) menjalani isolasi mandiri, Ketua Satgas …

Logo-Muhammadiyah-OK

PP Muhammadiyah Tetapkan Puasa Mulai 13 April 2021

Pengurus Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1442H jatuh pada hari Selasa Wage, 13 April …

WhatsApp Image 2021-02-10 at 08.34.30

KRL Yogya-Solo Beroperasi Mulai Hari Ini

SOLO (titiktemu, 10/2) – Hari ini menjadi tak biasa bagi masyarakat pelajo Solo-Yogya. Para …