Aku Disini Menunggumu – #Chapter_29/55

Suasana sangat hening, Arya langsung masuk ke dalam, ke kamar Aerin. Tempat tidur Aerin terlihat berantakan dengan sprei yang sama seperti malam itu. Ia memasuki kamar mandi, baju kerja Aerin yang dikenakan Jumat yang lalu, masih ada di keranjang laundry...

by InfiZakaria

Aerin hanya sempat dirawat 12 jam di RS Premier Jakarta. Setelah kesadarannya pulih, Diana yang terbang ke Jakarta dengan pesawat pribadi, langsung menerbangkan Aerin ke Singapore untuk full body check up di Mount Elizabeth Hospital.

*****

Senin pagi Andy dan Vita serta pasukan Aerin sibuk menghubungi Aerin, tapi HP nya mati. Sudah pukul 10 pagi tapi Aerin belum muncul di kantor. Dia melewatkan weekly meeting tanpa ada kabar apapun.

Bahkan sampai dengan keesokan harinya HP Aerin masih tetap off. Vita menjadi panik, tidak pernah Aerin seperti ini. Vita mengecek file biodata Aerin, seharusnya ada nomer HP keluarga yang bisa dihubungi. Vita menemukan sebuah nomer tapi sama saja, saat ia hubungi nomer tersebut juga off.

Andy bahkan sudah ke rumah Aerin, tapi tentu saja ia tidak bisa masuk karena tidak mempunyai password. Aerin merancang sistem keamanan yang canggih pada rumahnya. Dari security guard akhirnya ia tau kalau Aerin keluar dengan bodyguardnya Sabtu sekitar pukul 11 siang lewat dan sampai saat ini belum kembali.

Arya mendengar laporan dari Vita yang belum bisa menghubungi Aerin. Arya begitu suprised setelah tau bahkan Aerin punya bodyguard. Sudah hari rabu, besok acara pertemuan top management akan dilangsungkan.

“Oke. Minta stafnya atau Andy siapin presentasi untuk Jumat sore.  Kamu dan Aerin bersahabat dekat kan? How can you have no any information about her family?” Tanya Arya tak bisa mengerti.

Vita terdiam. Pertanyaan yang sangat bagus, bahkan ia saja bingung kenapa sampai saat ini ia bahkan tak mengenal keluarga Aerin? Sementara Aerin mengenal semua keluarga terdekatnya.

“Sorry Pak Arya, Aerin sangat tertutup tentang keluarganya. Dia hanya pernah bilang kalau mamanya sudah meninggal dan papanya tinggal di Surabaya.”

Arya sangat mengerti, bahkan di rumah Aerin pun ia tidak menemukan photo keluarga.

“Oke, keep trying to call her number and her family’s number.”

“Baik, Pak.”

*****

Sejujurnya Arya sangat khawatir, info dari Andy kalau Aerin meninggalkan komplek perumahannya dengan bodyguard pada Sabtu pukul sebelas lewat, membuat Arya sangat tak tenang. Itu seharusnya tak beberapa lama setelah ia meninggalkan rumah Aerin.

Akhirnya Arya menuju ke rumah Aerin. Ia mengucapkan password yang sama seperti malam itu, ternyata Aerin belum menggantinya.  Mendekati pintu utama, Arya kembali mengucapkan password yang sama dan pintu terbuka.

Suasana sangat hening, Arya langsung masuk ke dalam, ke kamar Aerin. Tempat tidur Aerin terlihat berantakan dengan sprei yang sama seperti malam itu. Ia memasuki kamar mandi, baju kerja Aerin yang dikenakan Jumat yang lalu, masih ada di keranjang laundry.

Arya keluar menuju ke ruang kerja, tidak ada yang berubah. Secangkir kopi yang ia buat untuk Aerin di malam itu, masih ada diatas meja kerja. Tiba-tiba Arya merasa sangat kalut, bayangan-bayangan buruk melintas di benaknya. Arya berlari keluar menuju ke dapur. Dan seperti yang ia pikirkan, secangkir kopi yang isinya sudah habis beserta piring yang berisi potongan mangga yang sudah membusuk masih ada diatas meja makan.

Oh my God! Apa yang sebenarnya telah terjadi? Rasa dekat yang terhubung sebagai efek ciuman malam itu, membuat Arya begitu was-was sesuatu yang buruk sedang menimpa Aerin. Pertemuan terakhir mereka sungguh tidak menyenangkan dan sama-sama emosi.

*****

Sementara di Singapore, Aerin menikmati masa istirahatnya dengan tenang tanpa punya akses ke HP. Mama yang setia menunggguinya, menyita HP supaya ia bisa beristirahat tanpa gangguan apapun.

Setelah melakukan check up secara  menyeluruh, ternyata tidak ditemukan ketidakstabilan pada kesehatannya, semuanya baik-baik saja. Dokter menyimpulkan mungkin ia punya masalah secara psikis yang mempengaruhi fisiknya melemah.

Diana tak mau menanyai Aerin lebih lanjut tentang masalah yang sebenarnya. Ia menunggu Aerin menceritakan masalahnya secara sukarela.

“Kalau kamu ngerasa bekerja di Global sangat melelahkan, kamu bisa keluar. Tidak usah memaksakan diri harus bekerja disana hanya karena Arya ada disana.”

 Aerin yang sudah sehat, memeluk mamanya.

“I will resign soon but it takes time because I have to finish what I planned from the start. Aku gak mungkin langsung keluar tiba-tiba. I love my staff, I love everyone there but for sure, I will submit my resignation letter within the next week.”

“Arya?”

Pancing Diana dengan senyum menggoda. Aerin menarik napas panjang lalu tersenyum.

“Let’s forget Arya, ma. I’m done with Arya!” ucapnya dengan sangat yakin.

Dalam masa istirahatnya, Aerin berpikir cukup panjang tentang masa depan cinta sepihaknya dengan Arya. Pernyataan Arya bahwa dia telah punya seseorang yang dicintainya, sudah cukup membuat ia berhenti bermimpi. Ia tidak akan pernah mengganggu pria yang sudah punya seseorang yang dicintainya. Ia tidak mau mengulang kesalahan yang sama seperti yang pernah dilakukan almarhum mami.

Bersambung..

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

WhatsApp Image 2021-02-12 at 14.57.39

Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo Sudah Negatif Covid-19

JAKARTA (titiktemu, 12/2)– Setelah hampir tiga pekan (20 hari) menjalani isolasi mandiri, Ketua Satgas …

Logo-Muhammadiyah-OK

PP Muhammadiyah Tetapkan Puasa Mulai 13 April 2021

Pengurus Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1442H jatuh pada hari Selasa Wage, 13 April …

WhatsApp Image 2021-02-10 at 08.34.30

KRL Yogya-Solo Beroperasi Mulai Hari Ini

SOLO (titiktemu, 10/2) – Hari ini menjadi tak biasa bagi masyarakat pelajo Solo-Yogya. Para …