Aku Disini Menunggumu – #Chapter_28/55

Setelah sekian lama bersama di ruangan kerja Aerin, baru sekarang Aerin menatapnya. Aerin terduduk lemas di lantai, ia menangis sesunggukan dan merasakan tubuhnya sama sekali tak bertenaga..

by InfiZakaria

Arya yang melihat senyum puas Aerin, ikutan bangkit. Setelah sekian lama bersama di ruangan kerja Aerin, baru sekarang Aerin menatapnya.

“Done, boss.”

Handphone Arya langsung berdering, dari Pak Bass. Keduanya terlibat percakapan singkat yang memberitahukan kalau data sudah bisa diakses kembali.

Arya merasa sangat lega dan tak tau bagaimana meluapkan rasa bahagianya yang membuat ia secara reflek memeluk erat tubuh Aerin.

Aerin yang ngantuk berat dan sudah dalam keadaan antara sadar dan tidak, merasakan tiba-tiba tubuhnya menghangat. Arya memeluknya erat sekali, bahkan begitu melepaskan pelukan, Arya malah mengecup lembut keningnya yang membuat kesadarannya kembali pulih.

Keduanya berdiri mematung, saling menatap dalam. Arya cukup kaget dengan apa yang telah ia lakukan tadi. Wajah cantik yang sangat dekat dengan wajahnya itu, sekarang membuat ia tak berkedip dan tak kuasa menahan gejolak kelelakiannya. Secara sadar, Arya menundukkan sedikit wajahnya dan mengecup lembut bibir Aerin, hanya sesaat. Aerin tak merespon apa-apa dan juga tidak menolak.

Mata Aerin tampak berkaca-kaca yang membuat Arya mengelus lembut pipinya sebelum mendaratkan ciuman bibir berikutnya. Kali ini, Arya tak kuasa untuk berhenti saat Aerin menyambut ciumannya. Arya melingkarkan tangannya ke tubuh langsing Aerin, keduanya mulai saling berciuman lebih dalam… menikmati saat lidah mereka saling melumat.

Aerin benar-benar menikmati ciuman itu, melepaskan segala kerinduan yang sudah sangat lama ia pendam. Tiba-tiba Arya merasakan respon Aerin mulai berkurang, bahkan tak ada pergerakan sama sekali. Arya melepaskan bibirnya dari bibir Aerin dan ia cukup kaget melihat mata Aerin yang tertutup dengan napas teratur seperti tertidur.

Arya menahan tubuh Aerin agar tidak jatuh, lalu ia menggendong Aerin dan membawanya ke kamar dekat ruang santai mini, sepertinya itu adalah kamar Aerin, dan ternyata benar.

Arya menempatkan tubuh Aerin diatas tempat tidur, lalu memeriksa denyut nadi. Semuanya normal-normal saja, Aerin pasti tertidur karena sangat lelah. Akhirnya Arya tersenyum geli sendiri, apa saat Aerin membalas ciumannya tadi… dia melakukannya antara sadar dan tidak? Bagaimana mungkin seseorang bisa tertidur saat sedang hot-hot nya berciuman?

Tapi ada untungnya juga dengan tertidurnya Aerin, kalau tidak… ciuman itu pasti akan berlanjut ke hal-hal lain. Arya memutuskan menunggu Aerin terbangun, ia tidak tega meninggalkan Aerin… khawatir terjadi apa-apa.

*****

Sambil menunggu Aerin bangun, Arya menghabiskan waktu berkeliling ke setiap sudut rumah. Yang paling aneh adalah, ia tak menemukan satupun photo Aerin bahkan photo keluarga Aerin, yang lazim ada di setiap rumah. Bahkan di kamar tidur Arya, ia punya photonya bersama orangtuanya.

Rumah Aerin didesain sangat minimalis dengan memadukan warna netral dan warna-warna ceria. Rumah ini memang didesain buat gadis single yang lebih banyak menghabiskan waktu diluar rumah.

Arya keluar ke taman belakang, koleksi tanaman buah yang kebanyakan sedang berbuah, membuatnya takjub. Dan ada banyak sekali pohon mangga dari berbagai jenis. Taman belakang sangat asri, penuh dengan perpohonan.

Di sudut kiri taman ada kolam renang berbentuk persegi-panjang yang tidak terlalu besar. Arya melangkah ke pohon pisang yang buahnya sudah menguning, ia memetik sebuah dan melahapnya dengan nikmat.

Sudah jam 10 pagi, perutnya mulai terasa lapar. Tadi ia sempat memeriksa isi kulkas Aerin, hanya ada susu dan bumbu spaghetti. Di lemari dapur hanya ada bungkusan spaghetti mentah yang tersusun rapi. Benar-benar penikmat pasta tulen.

*****

Aerin yang tertidur lelap, terbangun dengan kepala masih pusing berat. Ia menguap sebentar dan langsung bangkit begitu menyadari kalau ia masih memakai baju kerja kemarin.

Aerin langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. 15 menit kemudian ia sudah terlihat sangat segar dengan celana jeans pendek dan kaos ungu muda. Perutnya berbunyi nyaring, tentu saja sudah hampir jam 11 siang. Aerin segera keluar menuju ke dapur.

 Seseorang yang sedang duduk di meja makan dan tengah menikmati secangkir kopi beserta sepiring mangga, membuat Aerin kaget.

“Pak Arya, kenapa masih ada disini?” Tanya Aerin bingung sendiri.

Benar Arya datang ke rumahnya dini hari tadi, tapi masalah dengan Global Bank sudah tuntas. Bukankah seharusnya Arya sudah meninggalkan rumahnya?

Arya yang melihat kebingungan di wajah Aerin, tersenyum penuh arti. Benar saja, Aerin tidak mengingat kejadian penting dini hari tadi. Senyum Arya membuat Aerin tertegun dan perlahan tapi pasti… bayangan Arya memeluknya, mencium keningnya, mencium bibirnya sampai akhirnya mereka terlibat saling mencium, melintas cepat di ingatannya.

Aerin menutup mulutnya dengan wajah sangat kaget yang dalam penglihatan Arya, wajah itu penuh penyesalan. Arya terdiam, tak tau harus merespon apa. Benarkah Aerin menyesali momen indah yang terjadi antara mereka? Arya merasa sangat kecewa, harga dirinya sebagai lelaki seperti diinjak-injak.

“Let’s forget what happened last night.” Mendengar ucapan Arya, bagaikan ada seribu panah yang menusuk dada Aerin.

Bagaimana mungkin Arya memintanya untuk melupakan kejadian tadi malam? Bagaimana mungkin ia bisa melupakan momen indah saat ia melampiaskan semua rasa rindunya?

Aerin menarik napas panjang, menguatkan dirinya. Ia tau tubuhnya tiba-tiba melemah.

“Yes, let’s forget everything!” balasnya dengan nada tegas.

“Sorry, I started kissing you. I can not control myself, it should not happen because I already have someone I love.”

Aerin menahan airmatanya untuk tidak keluar. Pernyataan itu sungguh menyakitkannya setelah 19 tahun menunggu.

“You can leave now.”

Arya mengangguk sambil bangkit. Aerin mengusirnya secara halus.

“Aerin, makasih sudah menyelamatkan Global Bank. I owe you a lot, just tell me how much you want. Take care.”

Dan, perasaan Aerin semakin tercabik-cabik.
Apa yang telah ia perbuat untuk Global Bank, ia lakukan dengan tulus. Kenapa Arya bisa-bisanya menganggap itu sebagai bisnis?

*****

Begitu sosok Arya menghilang di pintu utama, tubuh Aerin yang lemah sudah tak sanggup bertahan. Aerin terduduk lemas di lantai, ia menangis sesunggukan dan merasakan tubuhnya sama sekali tak bertenaga.

Di ujung kesadarannya, ia masih sempat menekan satu nomor darurat di handphone nya sebelum tak sadarkan diri. Dalam lima menit kemudian, dua pria tinggi besar berperawakan ala militer memasuki kediaman Aerin dengan buru-buru.

Keduanya memiliki password pintu gerbang dan pintu utama. Begitu melihat Aerin tak sadarkan diri, salah satunya segera mengendong Aerin dan melarikannya ke mobil.

Bersambung..

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Extra Part

Arya menyentuh alis Aerin yang berbentuk melengkung setengah lingkaran, lalu sentuhannya turun ke hidung mancungnya dan berakhir di bibir penuh Aerin, sebuah masterpiece yang membuat ia tak bisa jauh dari itu…

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_55/55

Bramantio menggandeng tangan Aerin. Arya melihatnya dengan agak cemburu. Huh… seharusnya ia yang lebih berhak menggandeng tangan itu. Tasya yang melihat arah pandangan Arya, langsung menggandeng tangan Arya. Aerin melihat keduanya yang berjalan di depannya.

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_54/55

Kembali ke Global Cell membuat Aerin bahagia. Wiwid, Vita dan pasukan IT menyambut kedatangannya di lobby. Aerin sangat terharu, ah… bagaimana mungkin ia sanggup meninggalkan mereka dalam waktu yang tak lama lagi.