Aku Disini Menunggumu – #Chapter_26/55

Aerin menunggu lift dari lobby. Begitu lift khusus ke lantai 15, dari basement berhenti di lobby... pintu lift terbuka, ada Arya disana yang sepertinya juga kaget melihat dirinya...

by InfiZakaria

Aerin menunggu lift dari lobby. Begitu lift khusus ke lantai 15, dari basement berhenti di lobby…pintu lift terbuka, ada Arya disana yang sepertinya juga kaget melihat dirinya.

Aerin diam mematung, keduanya saling menatap. Kalau ia tidak jadi masuk ke lift karena ada Arya, jadinya childish banget. Akhirnya Aerin masuk juga dan berdiri sejajar dengan Arya dengan posisi agak jauh.

🎡I’m a big big girl, in a big…🎡 3

Handphone Aerin berbunyi. Arya yang sedang berpikir harus ngomong apa, mengurungkan niatnya.

“Iya, ma.”

“Gimana pertemuan dengan Bian?” Selidik mama dari seberang.

“Tidak begitu sukses. Aku bahkan tidak ingat wajah dia. Untung dia manggil aku, tapi dia menyenangkan.”

Mau nggak mau, Arya ikut mendengar.

“Oh my God! Kamu ini, gimana mau sukses blind dates kalau setelah ketemuan, kamu langsung lupa wajah pria yang kamu temui.”

Aerin tertawa pasrah.

“Malam ini, Radit anaknya Pak Prasetya lagi ada di Jakarta. Kamu bisa ketemuan sama dia? Biar mama kasih no hp kamu.”

“Not tonight, ma. I am not in good mood for blind dates.”

Aerin yang keceplosan langsung menatap Arya yang berwajah kaget. Arya langsung melihat kearah lain. Aerin tersenyum sendiri, sudah terlanjur terdengar oleh Arya.

“Kamu baik-baik aja kan?” Ada nada khawatir dari seberang.

“Baik, ma. Cuma aku lelah banget hari ini, rasanya pengen tinju orang.”

Mama tertawa.
Aerin kembali melirik ke samping. Arya masih melihat kearah lain.

“Oke sayang, jaga diri baik-baik ya. I missed you.”

“Bye, ma.”
Aerin mematikan handphone nya.

Lift berhenti di lantai 14. Aerin melangkah keluar. Ia tidak pasti apa Arya menatapnya, Saat sudah diluar lift dan sebelum lift tertutup, Aerin berbalik dan Arya memang sedang menatapnya.

“Hi Mas Arya, are you available for blind dates?” Tanyanya dengan senyum manis dan mengerdipkan sebelah matanya dengan ekspresi menggoda.

Arya yang bengong belum sempat merespon, pintu lift sudah tertutup. Aerin tertawa sendiri, sementara Arya merasakan debaran kencang di dadanya. Gadis itu, bila dia berekspresi menggoda seperti itu… benar-benar bisa membuat seorang pria sanggup berenang menyebrangi Laut China Selatan dan mendaki puncak Gunung Everest sekalipun.

Arya akhirnya tersenyum sendiri. Ia sudah sering menerima godaan dari gadis-gadis yang dijumpainya tapi tak berefek apapun terhadap kelelakiannya. Tapi yang barusan tadi, sungguh bisa membuat tembok pertahanan diri yang ia pupuk sejak ia menyadari bahwa ia mencintai Irin, menjadi retak-retak.

Mood Aerin berubah drastis setelah menggoda Arya tadi. Aerin jadi senyum-senyum geli sendiri dengan hal yang nggak pernah ia lakuin hingga usianya sedewasa ini.

Tadi itu adalah kali pertama ia secara sadar, menggoda seorang pria. Masih sangat jelas gimana suprisednya wajah Arya begitu mendapat godaan. Ah, apakah ia boleh terus menggoda sampai Arya jatuh cinta kepadanya?

*****

Jelang 1 jam sebelum jam resmi pulang kantor, ada info dari Vita kalau ada meeting dadakan khusus top management. Andy menuju ke ruangan Aerin, yang dicarinya sedang santai di balkon sambil minum teh.

“Hai, santai amat. Good mood, hah?” Goda Andy yg membuat Aerin tertawa.

“What’s up?”

“Meeting sekarang, yook.”

Aerin terdiam sebentar, berpikir apakah ia bisa menolak untuk hadir. Tapi begitu sebuah rencana gokil muncul di benaknya, ia segera bangkit dengan penuh semangat.

“Ayo mas, we are obedient staff right?”

Andy tertawa. Keduanya menuju ke lantai atas.

*****

Semua sudah berkumpul, Aerin dan Andy kebagian kursi paling ujung dengan posisi mereka menghadap langsung dengan kursi utama tempat Arya duduk.

Arya yang dari tadi menyadari kehadiran Aerin, hanya melirik sekilas. Wajah itu sudah begitu santai, bahkan menebarkan senyum manis yang membuat ruangan terasa lebih ceria.

“Assalammualaikum, selamat sore semua. Maaf, menganggu waktunya” sapa Arya, memulai meeting.

Aerin menatap Arya dengan pandangan penuh arti. Jarang sekali matanya berkedip sangking fokusnya memperhatikan Arya yang mengungkapkan alasan kenapa acara gathering diadakan lumayan mendadak.

Rupanya Tante Farah dan Om Ferdinand akan berangkat bulan madu tahun emas perkawinan selama 3 bulan keliling dunia, tepat setelah acara gathering berlangsung. Jadi sebelum mereka berangkat, keduanya ingin sekali beramah tamah dengan seluruh staff Global.

****

Suatu ketika, Arya remaja menyuruhnya pulang ke rumahnya karena teman-teman sekolah Arya akan datang dan Arya tidak mau mereka melihat ada anak kecil yang mengekorinya.

Tapi walaupun udah diusir dengan kasar, ia tetap tidak mau pulang. Ia berdiri jauh dari posisi Arya dengan mata tak lepas menatap Arya. Saat itu ia belum bisa mengerti kenapa kehadirannya bisa menganggu Arya.

“Heh, kamu! Udah aku bilangin pulang, kamu pulang! Ngapain kamu terus natap aku kayak gitu? Bikin aku tidak bisa konsentrasi aja. Pulang, sana!”
Usir Arya yang membuat mata Aerin berkaca-kaca.

Tante Farah muncul, wajahnya tampak gak senang dengan ucapan Arya.

“Arya, tidak boleh ngomong seperti itu kepada Irin.”

“Irin, ma… ngapain dia natap aku terus? Bikin aku gak konsen ngobrol sama temanku” protes Arya dengan wajah geram.

“Irin sayang, maafin Mas Arya ya. Mas Arya marah karena nggak nyaman ditatapin terus sama Irin.”
Ia hanya mengangguk walaupun tak mengerti. Bagaimana mungkin tatapannya bisa membuat Arya tak nyaman?

*****

Β Dan cara Aerin menatap Arya sekarang, membuat Arya dejavu. Ia merasa konsentrasinya dalam memimpin rapat agak terganggu. Arya berusaha keras untuk tidak melihat Aerin tapi tetap saja, tatapan itu membuatnya kalah.

“Okay, any question?” Tanya Arya akhirnya.

“Pak Arya bilang, semua sudah ada yang urus termasuk persiapan gala dinner. Jadi kami hanya perlu hadir saja?” Tanya Pak Roy, Direktur PR.

“Ya, hanya perlu hadir saja” jawab Arya yang membuat banyak wajah menarik napas lega setelah mendapat konfirmasi yang menyenangkan.

Mereka merasa sangat dimanjakan tanpa perlu rempong mempersiapkan ini itu.

“Ada pertanyaan lagi?” Semua diam karena merasa sudah sangat jelas.

“Aerin, any question?” Semua melihat ke Aerin yang tampak kaget tapi segera dapat mengatasi kekagetannya.

Vita tertawa kecil, wajah Aerin sangat mengemaskan.

“What is your favorite color?” Semua tertawa mendengar pertanyaan usil Aerin. Arya tersenyum.

“White and dark grey” jawab Arya yang membuat yang hadir tertawa lagi.

White adalah warna kemeja yang dipakai Aerin saat ini dengan celana panjang berwarna dark grey.

“Okay, thanks everyone. Have a nice weekend.”

Arya mengakhiri meeting dengan mata melirik Aerin yang masih senyum-senyum. Vita melambaikan tangannya kepada Aerin, sebelum mengikuti langkah Arya keluar ruangan.

“Kamu ini…” protes Andy yang masih tertawa.

“Abis… ngapain coba dia tiba-tiba tanyain aku? Daritadi aku kan patuh banget, bahkan aku sudah pasrah trainingku diundur.”

“Kamu natap dia tanpa berkedip, makanya dia serang kamu.”

Aerin tertawa, ah ternyata Mas Andy memperhatikan juga keisengannya.

Bersambung..

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Extra Part

Arya menyentuh alis Aerin yang berbentuk melengkung setengah lingkaran, lalu sentuhannya turun ke hidung mancungnya dan berakhir di bibir penuh Aerin, sebuah masterpiece yang membuat ia tak bisa jauh dari itu…

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_55/55

Bramantio menggandeng tangan Aerin. Arya melihatnya dengan agak cemburu. Huh… seharusnya ia yang lebih berhak menggandeng tangan itu. Tasya yang melihat arah pandangan Arya, langsung menggandeng tangan Arya. Aerin melihat keduanya yang berjalan di depannya.

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_54/55

Kembali ke Global Cell membuat Aerin bahagia. Wiwid, Vita dan pasukan IT menyambut kedatangannya di lobby. Aerin sangat terharu, ah… bagaimana mungkin ia sanggup meninggalkan mereka dalam waktu yang tak lama lagi.