Aku Disini Menunggumu – #Chapter_25/55

Arya makan dengan tidak begitu tenang. Panggilan nama Irin tadi untuk Aerin, sangat menganggunya. Otaknya sudah dipenuhi dengan banyak tanya mengingat kata-kata yang diucapkan Aerin tadi saat marah, sekarang ditambah lagi dengan Aerin yang ternyata juga punya nama panggilan Irin.

by InfiZakaria

Arya makan dengan tidak begitu tenang. Panggilan nama Irin tadi untuk Aerin, sangat menganggunya.  Otaknya sudah dipenuhi dengan banyak tanya mengingat kata-kata yang diucapkan Aerin tadi saat marah, sekarang ditambah lagi dengan Aerin yang ternyata juga punya nama panggilan Irin.

“Aerin itu sebenarnya siapa?”

Tiba-tiba Nadine bertanya.

“I don’t know” jawab Arya cuek.

“Lu tau kemeja dan celana yang dia pakai? Itu kurang lebih benilai 20 juta per piece nya” terang Nadine yang membuat yang lain melongo, kecuali Arya dan Indah.

Arya sudah tau kalau pakaian yang selalu dikenakan Aerin memang dari branded terkenal semua. Profesi Aerin sebagai certified hacker sangat memungkinkan dia punya income yang sangat besar.

“Wow… semakin diluar jangkauan” gumam Baldi yang membuat lainnya tertawa.

“Pantas aja dia gak ngaruh ama pria-pria kaya yang mencoba mendekat” sambung Victor pasrah.

“Lu tau Adrian anaknya Pak Bagaskara?” Tanya Sandy, lainnya mengangguk, kecuali Arya yang belum kenal banyak orang di Jakarta.

“Gue pernah liat dia diacuhin ama Aerin.” Mereka tertawa.

“Busyet dah! Kalau sekelas Adrian aja diacuhin… apalagi kelas tanggung kayak gue?” Ucap Imam dengan wajah bermimik lucu.

“Eh, emang lu pikir semua cewek tuh bakalan keplek-keplek sama cowok kaya? No man! Rasa disini lebih penting” protes Nadine sambil memegang dadanya.

Langsung aja semua meledeknya. Indah dan Arya lebih banyak diam.

*****

“Kamu terkenal banget disini” ucap Bian yang membuat Aerin tertawa ngakak.

Pasti Bian terganggu dengan banyaknya staf Global yang singgah ke meja mereka sekedar untuk menyapanya.

“Aku gak pernah ngundang orang luar buat lunch di cafetaria, makanya mereka pada kepo” terang Aerin yang membuat Bian ikutan tertawa.

“Ricky bilang kamu lagi sibuk blind date” Aerin mengangguk dengan ekspresi agak malu. Mas Ricky malu-maluin aja.

“Yes, but not really busy… aku lebih sibuk dengan kerjaanku disini. Blind dates adalah usaha terakhir sebelum menyerah kalah.”

Bian tertawa.
Bian tau Pak Bramantio sangat serius soal Aerin yang harus menikah sebelum menginjak usia 30 tahun, tapi cara Aerin menghadapi paksaan itu lumayan tenang.

“Jadi sudah ketemu?” Tanyanya penasaran.

Aerin menggeleng dengan mimik lucu.

“Masalahnya adalah, aku belum bisa move on…”

“Move on dari???”
Ada banyak hal yang ingin Bian tau. Aerin tersenyum lebar. Haruskah ia berbagi dengan Bian? Tapi Bian teman ngobrol yang asyik.

“Cinta masa lalu. Walaupun aku sudah bilang ‘I gave up’ tapi kenyataannya… tidak!” Ekspresi wajah Aerin tampak sedih.

Ternyata itu masalahnya. Bian menyembunyikan rasanya, perlu usaha ekstra keras untuk bersaing dengan cinta masa lalu.

“Kamu jadi sedih, sorry… kita ngobrol yang lain saja.”

Aerin mengangguk.

“Mas Bian, kenapa belum menikah?” Tanya Aerin yang membuat Bian terbatuk-batuk.

Aerin tertawa.
Bian mengambil minum, sebelum siap menjawab pertanyaan dadakan dari Aerin.

“Belum ketemu yang pas aja.”

“Yang pas itu seperti apa?”

Pertanyaan Aerin membuat Bian agak kelabakan. Aerin tau pria yang sudah cukup dewasa untuk menikah didepannya itu, bingung tuk menjawab apa.

“Menikah itu tidak harus dimulai dari yang pas sempurna, karena menikah itu adalah proses dua jiwa untuk bisa saling menghargai perbedaan. Kalau syaratnya harus mendapat yang pas dulu, baru menikah… aku pikir pernikahan akan sangat membosankan.”

Aerin diam sesaat.

“So, by the end I think that forced marriage is not bad karena pastilah setiap orangtua akan berpikir panjang sebelum mengambil keputusan kepada siapa mereka memberikan kehormatan untuk menjaga anak gadisnya.”

Bian menatap Aerin dengan kagum.

“Aku termasuk orang yang menganggap akad nikah itu adalah sesuatu yang sangat sakral dan responsibility nya itu besar banget karena saat seorang pria mengucapkan akad nikah, itu dicatat di bumi dan di langit. So, mungkin saat menikah… tidak ada rasa cinta, mungkin hanya ada rasa hormat kepada pria yang bersedia mengambil responsibility untuk menjaga aku. Trus, setelah dia mengambil tanggungjawab besar itu, bagaimana aku tidak belajar untuk mencintai my husband?” Aerin tersenyum lebar.

“So, no body is perfect. Just like me, aku mungkin terlihat sangat sempurna tapi aku punya banyak banget kekurangan. Salah satunya aku menghabiskan hampir 19 tahun dari hidupku, terjebak dalam cinta masa lalu.”

Bian menahan senyum yang membuat Aerin tertawa lebar… menertawai kisahnya sendiri.

“Cinta ini begitu dalam bahkan mengacaukan memoriku. Mas Bian tau kan, kalau aku susah mengingat wajah pria?”

Bian yang sangat suprised dengan keterusterangan Aerin, mengangguk. Tentu saja, itu yang membuatnya memanggil keras nama “Irin” tadi karena ia pikir mungkin Aerin yang berdiri bengong dengan mata mencari-cari, tidak mengingat wajahnya. Sesuatu yang sangat menyakitkan baginya, tapi ia menutupinya rapat-rapat.

“Aku sempat berkonsultasi dengan psikolog. Dengan IQ diatas rata-rata yang aku punya, seharusnya aku punya daya ingat yang sangat bagus. Tapi ntah kenapa aku bisa tidak mengingat wajah pria yang baru aku kenal… padahal yang lebih sukar dari itu misalnya coding data, aku bisa mengingatnya dengan sangat baik makanya aku menjadi hacker. Setelah banyak menghabiskan sesi konsultasi, psikolognya sampai pada sebuah teori bahwa rasa cintaku itu telah memperlambat memoriku dalam mengingat pria lain karena otakku hanya terfokus pada satu pria saja. How unlucky I am.”

Aerin tersenyum manis, ia harap Bian bisa mencerna dengan baik maksud dibalik penjelasan panjang lebarnya. Ia tau Bian tertarik padanya tapi fakta bahwa ia tidak mengingat wajah Bian, adalah pertanda jujur dari batinnya bahwa tidak ada yang spesial dari Bian.

Aerin juga ingin Bian tau kalau ia tidak sesempurna sosok yang ada dalam pikiran Bian karena ia punya kisahnya sendiri. Ia juga ingin Bian mengerti bahwa bila pada akhirnya orang-tuanya memilih Bian sebagai suaminya karena ada kemungkinan untuk itu… ia siap belajar mencintai suaminya.

*****

Arya menatap Aerin yang bangkit dari kursi dan beranjak meninggalkan cafeteria, diikuti oleh pria yang Arya tau menaruh rasa suka pada Aerin. Pandangan mata pria itu dari tadi tak pernah lepas dari Aerin.

“Lihat dia, udah senyum-senyum ceria… seperti gak ada kejadian apapun sebelumnya” komentar Indah yang mengikuti arah tatapan Arya.

“Padahal tadi dia garang banget, seperti mau nelan lu hidup-hidup.” Semua tertawa mendengar ucapan Victor, termasuk Arya.

“Gue suka dia, cool.”

Nadine memuji Aerin, Indah mendelik tak senang tapi Nadine tak perduli. Tak lama mereka keluar juga dari cafetaria, Arya mengantar teman-temannya ke basement..

Bersambung..

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

WhatsApp Image 2021-02-12 at 14.57.39

Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo Sudah Negatif Covid-19

JAKARTA (titiktemu, 12/2)– Setelah hampir tiga pekan (20 hari) menjalani isolasi mandiri, Ketua Satgas …

Logo-Muhammadiyah-OK

PP Muhammadiyah Tetapkan Puasa Mulai 13 April 2021

Pengurus Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1442H jatuh pada hari Selasa Wage, 13 April …

WhatsApp Image 2021-02-10 at 08.34.30

KRL Yogya-Solo Beroperasi Mulai Hari Ini

SOLO (titiktemu, 10/2) – Hari ini menjadi tak biasa bagi masyarakat pelajo Solo-Yogya. Para …