Aku Disini Menunggumu – #Chapter_24/55

Aerin menatap pemandangan Kota Jakarta yang diselimuti mendung tipis. Ia akan selalu berada di rooftop bila sedang bad mood. Terdengar suara langkah mendekat dibelakangnya dan Aerin tau itu siapa.

by InfiZakaria

Aerin menatap pemandangan Kota Jakarta yang diselimuti mendung tipis. Ia akan selalu berada di rooftop bila sedang bad mood. Terdengar suara langkah mendekat dibelakangnya dan Aerin tau itu siapa.

“I don’t know how to cheer you up”
Ucap Vita yang berdiri di samping Aerin. Keduanya tidak saling menatap tapi Vita tau Aerin menangis.

“I am really tired!”
Ucap Aerin dengan nada lemah.

I feel he does not care about my hard work.”

“I don’t think so. Dia sangat perduli. Kamu gak liat gimana wajah kusutnya dia tadi. Nampak banget dia menyesal udah mengecewakan kamu. Bahkan dia nyuruh aku ngikutin kamu” terang Vita yang membuat Aerin memalingkan wajahnya dan berusaha tersenyum.

Wajah Aerin tampak letih banget.

“Mbak Vita, I’m sorry… suaraku tadi agak keras ke Mbak Vita.”

“Oh… Aku bahkan sudah lupa.”

Keduanya berpelukan, Vita menepuk-nepuk bahu Aerin, memberi kekuatan.

“Hello ladies…”

Suara Andy membuat keduanya melepaskan pelukan. Andy tersenyum sambil mengangkat 3 cup kopi dengan senyum menggoda.

“Coffee?”

“Thanks”
Ucap Vita yang langsung mengambil cup besar berisi cappuccino, sementara Aerin dan Andy menikmati black coffee dalam cup kecil.

“Vit, waktu kamu ajak Pak Arya keliling kantor dulu… pasti kamu lupa ajak Pak Arya kemari.”

“Eh, jangan ngomongin Pak Arya. Aerin bisa ngamuk lagi.” Aerin tersenyum.

“It’s okay.”

Keduanya tau Aerin tipikal yang gak bakalan lama-lama betah ber bad mood ria. Dia bisa sangat meledak-ledak melampiaskan kemarahannya, tapi saat dia merasa cukup, dia akan kembali ceria.

“Iya, aku lupa. Emangnya kenapa?”

“Kalau Pak Arya dulu kamu bawa kemari, tempat ini pasti akan seindah cafeteria. Aku baru tahu ternyata Pak Arya itu aslinya seorang arsitek yang cukup diperhitungkan loh di Amerika sana. Dia khusus merancang boutique hotel.”

“Wow…”

Vita suprised. Aerin diam saja.

“Tadi pagi pas ke ruangannya, aku nggak sengaja liat banyak dokumen yang lagi dia koreksi. Di kopnya tertulis AA Architecture Innovation. Aku penasaran kenapa dia buat banyak koreksi di dokumen itu, jadi aku browsing dan ternyata itu perusahaannya dia dan dia masih menjabat COE disitu.”

🎵I’m a big big girl, in a big…🎵

Perbincangan terhenti karena handphone Aerin berbunyi.

“Iya, Wid?”
Sapa Aerin sambil melihat jam esprit di pergelangan tangannya.

“Kami sudah di cafetaria, mbak.”

“Oh oke, I am on my way ya. Thanks, Wid.” Aerin bangkit.

“Sorry, aku ada tamu yang nunggu di cafetaria. Mbak, Mas mau ikutan sekalian buat lunch?” Keduanya menggeleng.

“Duluan gih, aku belum laper”
Jelas Vita sambil menepuk-nepuk perutnya yang agak buncit.

“Aku juga harus sign beberapa dokumen sebelum jam istirahat siang.”

“Okay, thanks for cheer me up.”
Aerin mengerdipkan sebelah matanya dengan senyum manis, sebelum berbalik dan melangkah pergi.

*****

Suasana cafetaria masih sepi siang itu, jam baru menunjukkan pukul 12.00 belum banyak yang datang buat makan siang. Bian yang mengikuti Wiwid, berhenti di meja 2 kursi dekat jendela dengan pemandangan Kota Jakarta yang agak mendung.

“Mas Bian mau minum apa?”
Tanya Wiwid yang senyum-senyum sendiri karena banyak mata yang menatap penuh tanda tanya ke arahnya. Tentu saja, sosok Bian yang klimis dengan kacamata minus begitu menggoda.

“Lemon tea hangat. Nyaman sekali disini. Ini cafetaria kantor?”

Wiwid mengangguk.
Design yang sangat cantik bikin orang luar susah untuk percaya bahwa ini adalah cafetaria kantor. Tempat ini lebih pantas menjadi cafe komersil.

“Sebentar aku pesankan, mas.”

“Makasih.”

Segerombolan orang masuk yang membuat perhatian beralih dari sosok Bian. Bian ikut memperhatikan rombongan itu.

Dua wanita di dalam rombongan itu tentu saja dikenalnya, satunya supermodel top dan satunya lagi designer terkenal. Sementara ke-5 pria lainnya sepertinya juga bukan staf Global, pakaian yang mereka kenakan terlalu santai, tidak seperti staf lainnya.

Mereka menempati meja di sebelahnya. Beberapa staf yang kebetulan melewati meja mereka, berhenti sebentar… menyapa salah satu dari pria itu.

Bian memperhatikan dengan seksama pria berambut agak gondrong yang memakai kemeja santai hitam. Sepertinya itu adalah bos FF Group. Bian pernah membaca dari jurnal bisnis kalau sekarang FF Group dipimpin langsung oleh putra pendiri FF Group, seorang arsitek yang cukup punya nama di Amerika. Seorang arsitek yang punya spesialisasi merancang hotel butik.

*****

Aerin muncul di pintu cafetaria. Matanya memandang ke sekeliling ruangan, tapi ia tidak menemukan sosok Bian. Aerin jadi nervous banget, apa ia lupa wajah Bian? Ia hanya pernah bertemu Bian sekali di acara ulang tahunnya. Sekali lagi Aerin melihat sekeliling cafetaria dengan lebih serius, tapi tetap aja wajah Bian yang ada di benaknya… tak ia temukan disana. Lantas, wajah siapa yang diingatnya?

“Irin…”

Tiba-tiba terdengar teriakan yang lumayan keras, yang membuat semua melihat ke sosok pria yang duduk sendirian, yang sudah dari sejak masuk ke cafetaria tadi, menjadi pusat perhatian karena dia bukan staf Global.

Pria itu melambaikan tangannya ke arah pintu cafetaria. Arya yang mendengar seseorang menyebut nama ‘Irin’, reflek ikutan melihat. Ada sosok Aerin yang tersenyum manis sambil melangkah masuk ke dalam cafeteria, menuju ke meja tempat pria itu.

“Mas Bian, sorry nunggu lama” ucap Aerin sambil duduk di kursi yang ditarik Bian untuknya.

“Aku tau kamu pasti sibuk banget. Thanks udah nyempatin ngundang aku.”

Aerin tertawa kecil dengan mata menatap ke sekeliling dan selalu… ada sosok Arya selurusan pandangannya, yang sedang menatapnya. Teman-teman Arya juga ikutan menatapnya. Aerin langsung melihat ke arah lain, lalu bangkit dan menggeser posisi kursinya ke arah berbeda, supaya pandangannya tidak bertemu langsung dengan Arya.

“Disini pemandangannya lebih indah”
Jelasnya karena menangkap kebingungan di wajah Bian, yang akhirnya tertawa lucu. Ekspresi Aerin sangat mengemaskan.

Wiwid muncul bersama waiter cafetaria yang membawa hidangan. Aerin mengerdipkan matanya ke Wiwid yang melaksanakan tugasnya dengan sangat baik.

“Aku udah order spaghetti, is it okay?”

Aerin memang memesan menu khusus sama chef cafeteria untuk Bian.

“It’s okay. Makasih.”

“Wid, mau ikutan lunch bersama?” Tawar Aerin yang disambut dengan gelengan.

“Thanks, mbak. Itu Mbak Vita udah nunggu di pojokan”
Terang Wiwid sambil menunjuk ke Vita. Aerin melambaikan tangannya ke Vita yang membalas lambaian..

Bersambung..

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Extra Part

Arya menyentuh alis Aerin yang berbentuk melengkung setengah lingkaran, lalu sentuhannya turun ke hidung mancungnya dan berakhir di bibir penuh Aerin, sebuah masterpiece yang membuat ia tak bisa jauh dari itu…

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_55/55

Bramantio menggandeng tangan Aerin. Arya melihatnya dengan agak cemburu. Huh… seharusnya ia yang lebih berhak menggandeng tangan itu. Tasya yang melihat arah pandangan Arya, langsung menggandeng tangan Arya. Aerin melihat keduanya yang berjalan di depannya.

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_54/55

Kembali ke Global Cell membuat Aerin bahagia. Wiwid, Vita dan pasukan IT menyambut kedatangannya di lobby. Aerin sangat terharu, ah… bagaimana mungkin ia sanggup meninggalkan mereka dalam waktu yang tak lama lagi.