Aku Disini Menunggumu – #Chapter_23/55

Sekumpulan orang-orang yang berada di dalam dan sepertinya sedang serius berdiskusi, mengalihkan pandangan ke pintu. Sosok Aerin yang jelas-jelas menatap hanya kepadanya, tampak penuh misteri..

by InfiZakaria

Sontak sekumpulan orang-orang yang berada di dalam dan sepertinya sedang serius berdiskusi, mengalihkan pandangan ke pintu. Ada wajah-wajah suprised melihat siapa yang muncul, ada yang berekspresi senang dan ada yang bengong, ada yang berekspresi tak suka. Arya, termasuk yang bengong.

Sosok Aerin yang jelas-jelas menatap hanya kepadanya, tampak penuh misteri. Arya melihat ke berkas yang ada di tangan Aerin, seketika ia tau apa maksud kedatangan Aerin yang tanpa pemberitahuan dari Vita, bahkan tanpa mengetuk pintu.

Tidak ada yang mulai menyapa. Aerin melangkah ke arah sofa. Sosoknya yang memakai kemeja putih lengan panjang ngepas badan dan celana panjang motif kotak-kotak berwarna abu tua… sangat mempesona.

Indah dan Nadine yang juga ada disana, saling menatap. Sebagai model papan atas dan designer, keduanya tau kalau sosok yang sedang menuju ke arah mereka itu, memakai kemeja dan celana dari Dolce n Gabbana.

“I need to talk to you, right now!” ucap Aerin sambil menunjuk kearah Arya.

Teman-teman Arya cukup kaget dengan cara Aerin menunjuk jarinya kearah Arya, tapi Arya tidak terpengaruh. Arya mengangguk, lalu bangkit dari sofa.

“Aku tinggal sebentar ya.”
Arya melangkah ke kamar rapat mini di sudut lain ruangannya, yang hanya dibatasi dengan dinding kaca.

“Please come in
Arya membuka pintu ruangan dan dengan nada yang sangat ramah mempersilahkan Aerin buat masuk. Ia sama sekali tidak terpengaruh dengan ketidaksopanan Aerin. Aerin masuk ke dalam masih dengan wajah datar, tanpa ekspresi.

Arya duduk tapi Aerin tetap berdiri, diam mematung dengan mata masih menatapnya setajam saat dia pertama masuk ke ruangannya.

“Aerin, sit down and let’s talk.” Arya  menarik kursi buat Aerin, tetap tidak ada respon.

“5 tahun aku bekerja disini tapi baru kali ini aku benar-benar kecewa and I give up. Bagaimana kamu bisa membuat rapat khusus top management, mengharuskan semua untuk hadir… tanpa pernah berdiskusi terlebih dulu dengan orang-orang di posisi top management! Kamu pikir, kami disini orang-orang pasif yang tidak punya rencana kerja?” Tanya Aerin dengan emosi meledak-ledak.

Aerin semakin emosi karena Arya hanya menatapnya dengan pandangan lembut, tanpa merespon apapun.

Aerin membuka lembaran ketiga dari berkas yang dibawanya. Ada schedule training disana.

“Baca! Bahkan di hari terakhir training, ada 1 sesi live dengan training yang sedang diikuti Bagas di Singapore. Tidak sembarang orang bisa mendapatkan kehormatan ini. Ini karena aku sangat perduli kepada Global. You see… bagaimana aku mempersiapkan training ini? Ini semuanya buat siapa? I will leave soon, for sure! You, your family, Global and FF Group yang akan sangat diuntungkan dengan training ini.”

Arya tak juga merespon apa-apa. Wajahnya masih sangat tenang bahkan tidak terpengaruh dengan telunjuk Aerin yang sudah beberapa kali menunjuk-nunjuk bahkan hampir mengenai wajahnya. Aerin speechless.

“Are you suddenly mute? Speak!”
Perintahnya dengan nada setengah membentak. Kedua tangannya memegang bahu Arya dan menguncangnya.

Aerin merasa putus asa karena ia sudah capek berbicara tapi Arya tetap diam. Teman-teman Arya yang menonton dari kaca, sangat suprised dengan kontak fisik yang dilakukan Aerin. Entah apa yang Aerin katakan kepada Arya, mereka tidak bisa mendengar karena ruang meeting mini itu kedap suara.

Indah yang dari tadi sudah tidak tenang, semakin merasa tidak nyaman. Cara Arya menatap Aerin, sungguh penuh arti. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang berantem, bukan seperti bos dan bawahan yang sedang beradu pendapat.

Arya membiarkan bahunya diguncang Aerin, tampak sekali kalau Aerin sudah berada di batas akhir kesabarannya. Setelah sesaat menikmati guncangan dari Aerin, akhirnya ia tersenyum.

Ia memang sengaja tidak merespon Aerin karena bagaimanapun ia merespon, Aerin pasti akan lebih meledak-ledak lagi saking emosinya. Melihat Arya tersenyum membuat Aerin sesaat terdiam dan melepaskan tangannya dari bahu Arya. Apa yang terjadi?

Kenapa setelah ia meledak-ledak, Arya malah memberinya senyuman penuh arti yang membuat dadanya berdebar kencang. Arya merusak suasana penuh kemarahan menjadi suasana yang sedikit romantis. Oh, God…!

“I’m sorry. Sorry karena tidak mengajak semua pihak mendiskusikan acara ini. Aku gak mau staf Global sibuk karena aku tau mereka sudah punya jadwal padat setiap harinya. So, arrangement untuk acara ini dibantu oleh mereka, my friends.” Arya menunjuk ke teman-temannya.

“I can’t postpone my training!” Ucap Aerin tegas. Apapun alasannya Aerin tetap mau trainingnya berjalan sesuai jadwal.

“Sorry, you have to. Kamu bisa majukan ke awal minggu depan, atau mundurkan ke minggu berikutnya.”
Arya yang tadinya masih bicara dengan nada lembut, sekarang menjadi lebih tegas tapi masih dengan pandangan yang penuh arti.

“You are selfish! I don’t need to attend top management meeting, Mas Andy is my supervisor and he knows all about my work.” Aerin kembali emosi.

“Kamu harus hadir di top management meeting, this is the boss’s order!”

“No! You have no right to impose your will because in this case, you are wrong for announcing a meeting suddenly.”

“Aerin, I am the boss! Aku bisa memerintahkan bawahanku seperti yang aku mau.”
Kali ini Arya tersenyum lebar yang membuat Aerin tau batasannya.

“Sure, you are the boss! You can postpone my training but you can’t force me to attend your meeting. I don’t care! You and Global who need me, not I need you. Even today, I don’t know why I’m stuck here. I’m tired to be here. So, just fire me!” Mata Aerin berkaca-kaca, ekspresinya penuh kekecewaan.

Arya cukup kaget dengan Aerin yang tampak mau menangis. Apa maksud dari kata-kata terakhirnya itu? Aerin berbalik dan melangkah menuju ke pintu. Arya segera menghalanginya.

“Kamu kenapa?”
Tanya Arya sambil memegang tangan Aerin. Keduanya saling menatap, dalam.

“I hate you! I really hate you!”
Aerin menarik dengan keras tangannya dari genggaman Arya dan melangkah cepat keluar ruangan.

Arya yang sempat bengong mencerna apa maksud perkataan Aerin, akhirnya mengejar.

“Aerin, kita belum selesai bicara!”
Teriak Arya tapi Aerin tidak perduli, terus melangkah ke pintu keluar dan menghilang dari pandangan.

Teman-teman Arya yang menonton adegan romantis itu jadi penuh tanya.

“Aerin..!”
Teriak Arya lagi yang membuat Vita kaget.

Tampak Aerin yang berlari kecil melewati meja kerjanya dengan wajah sedih dan ada Pak Arya yang berdiri di pintu dengan tatapan penuh arti.

“Vita, please follow her”
Vita dengan sigap mengangguk dan mengikuti Aerin yang menuju ke rooftop.

“Dia marah karena trainingnya di Makassar harus tertunda karena acara ini. I admit she is an expert in planning. Dia sudah prepare trainingnya dengan sangat baik termasuk ada live training dari sebuah training di Singapore. Makanya dia kecewa sekali. This is all my fault, aku tidak menyangka training yang dia rencanakan akan sehebat itu.” Arya diam.

Indah menatap sosok Arya yang sedang memijat dahinya dengan  ekspresi berpikir keras. Apa yang sebenarnya terjadi? Terus terang ia merasa sangat cemburu melihat adegan pertengkaran yang terlihat sangat romantis tadi. Entah mengapa, ia merasa Arya dan Aerin seperti menyembunyikan perasaan yang sebenarnya karena dari cara keduanya memandang, tampak sekali kalau keduanya saling punya rasa.

Indah menarik napas panjang, ia tidak bisa fokus ke diskusi yang sedang dipimpin oleh Sandy. Sudah lama ia bersama Arya sejak Arya kembali, tapi belum ada kemajuan apapun dalam hubungan mereka. Arya mengaggapnya seperti teman biasa, tak pernah ada lagi pandangan penuh pesona asmara seperti saat mereka remaja. Apakah ia harus mencoba lebih keras menebarkan pesonanya?

Bersambung..

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Extra Part

Arya menyentuh alis Aerin yang berbentuk melengkung setengah lingkaran, lalu sentuhannya turun ke hidung mancungnya dan berakhir di bibir penuh Aerin, sebuah masterpiece yang membuat ia tak bisa jauh dari itu…

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_55/55

Bramantio menggandeng tangan Aerin. Arya melihatnya dengan agak cemburu. Huh… seharusnya ia yang lebih berhak menggandeng tangan itu. Tasya yang melihat arah pandangan Arya, langsung menggandeng tangan Arya. Aerin melihat keduanya yang berjalan di depannya.

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_54/55

Kembali ke Global Cell membuat Aerin bahagia. Wiwid, Vita dan pasukan IT menyambut kedatangannya di lobby. Aerin sangat terharu, ah… bagaimana mungkin ia sanggup meninggalkan mereka dalam waktu yang tak lama lagi.