Aku Disini Menunggumu – #Chapter_22/55

Farah memperhatikan sosok Arya yang melangkah lemah memasuki ruang makan. Arya yang tadi sangat bersemangat pengen interogasi Sri, pasti tak berhasil. Arya memeluk mamanya, mencari kekuatan.

by InfiZakaria

Farah memperhatikan sosok Arya yang melangkah lemah memasuki ruang makan. Arya yang tadi sangat bersemangat pengen interogasi Sri, pasti tak berhasil.

“Buntu, ma” ucap Arya begitu melihat mamanya tersenyum kearahnya.

Farah mengusap-usap bahu Arya, yang jauh lebih tinggi darinya.

“Sabar, nanti begitu Diana datang, pasti akan langsung mama tanyain.”

“Dan langsung kita lamar ya ma?” Sambung Ferdinand, papa Arya yang tiba-tiba saja sudah ada di ruang makan. Ketiganya tertawa.

“Irin itu sabar nungguin kamu selama 19 tahun tanpa kabar apapun dari kamu. Jadi saat dia bilang dia akan melepaskan impian masa kecilnya, mama yakin itu sangat tidak mudah. Tidak akan mungkin dia bisa cepat menerima pria lain mengisi hatinya. Dia kenal kamu dari usia 5 tahun loh… dan masih menunggu kamu sampai dengan usianya hampir 29 tahun.”

Arya memeluk mamanya, mencari kekuatan.

“Dia udah nunggu kamu bertahun-tahun, sekarang giliran kamu yang harus sabar nunggu dia. Don’t give up.”

Arya mengangguk.

“Pasti, pa!” ucap Arya dengan keyakinan penuh. Memang sekarang dia yang harus sabar menanti Irin muncul.

*****

Dan pagi itu, di Global heboh dengan berita Meet n Greet Dinner bersama owner FF Group yang akan dilangsungkan Sabtu depan. Semua staf Global diundang datang.

Berita itu tentu saja disambut dengan bahagia oleh semua staf yang selama ini memang belum pernah diundang khusus ke acara dinner bersama, apalagi ini kali pertama punya kesempatan untuk berjumpa dengan founder FF Group. Bu Farah dan Pak Ferdinand memang belum pernah berkunjung ke Global. Mereka hanya tahu Arya.

“Semua kepala cabang akan diundang ke Jakarta. Kamis dan Jumat ada meeting khusus buat kepala cabang, para manager dan expert. Sabtu malam lanjut dengan dinner bersama seluruh staf Global.”

Aerin terdiam sesaat, Mario membacakan email yang baru aja mereka terima dari Mbak Vita.

“My training…” Ucap Aerin setelah sadar bahwa trainingnya yang akan berlangsung di Makassar dari rabu sampai jumat, juga akan terancam batal.

Aerin buru-buru bangkit dan melangkah keluar. Mario dan yang lain bisa menebak apa yang akan terjadi.

*****

Andy menatap dokumen training yang diajukan Aerin kemarin. Di lembaran pertama ada catatan dari Pak Arya bahwa training pada tanggal yang diajukan Aerin, ditolak karena ada acara meeting khusus top management di waktu yang bersamaan.

Pak Arya juga memberi catatan agar training bisa dimajukan atau dimundurkan waktu pelaksanaannya. Sebenarnya itu hal yang biasa, tapi menjadi hal yang luar biasa karena yang mengajukan training adalah Aerin, si perfect dalam timing dan planning.

“Mas Andy, what’s happened here? Kenapa bisa ada meeting khusus dadakan? How about my training?” Tanya Aerin dengan nada tinggi.

Aerin merasa wajar untuk protes kepada supervisornya yang bisa tidak tau apa-apa tentang meeting khusus top management.

“I have no idea, aku juga baru tau tadi pagi. Vita juga baru dapat info tadi pagi. See…ini murni rencana dadakan Pak Arya.”

Aerin speechless mendengar jawaban Andy.

“Apa dia pikir… top management disini terdiri dari orang-orang bego yang gak punya planning? I am very disappointed” ucap Aerin sambil mengambil berkas trainingnya dari tangan Andy.

Aerin tertawa pasrah saat membaca catatan dari Arya.

“Let’s reschedule…”

“I will meet him!” Aerin bangkit.

“Rin, jangan berlebihan oke? Dia bukan Pak Rasyid.”

Andy ikutan bangkit dan menahan langkah Aerin. Andy tau betul bagaimana gilanya Aerin kalau lagi marah. Aerin tersenyum.

“Tenang, mas. Kalaupun sesuatu terjadi, toh aku memang akan segera submit my resignation letter. So, no problem kan?”

“Rin… don’t do that. Please… Rin!”

Aerin keluar dari ruangan Andy tanpa menggubris Andy yang sangat nervous.

*****

Tiba di lantai 15, suasana hening seperti biasanya. Vita yang melihat wajah galak Aerin, sudah mendapat info dari Andy.

“Hai…”
Sapa Vita pura-pura tidak tau. Tapi Aerin tidak mengubrisnya, dia langsung melangkah ke arah ruangan Arya.

Vita yang panik, langsung bangkit dan mengejar Aerin.

“Rin, Pak Arya lagi ada tamu.” Vita berusaha menghalangi Aerin.

“I don’t care.”

“Ririn, please… setidaknya kasih aku waktu buat info ke Pak Arya” rayu Vita.

Aerin menatap Vita sesaat.

“Mbak Vita, biarkan aku selesaikan urusanku secepat mungkin. If something bad happened, I will take full responsibility. Okay?” Nada Aerin sangat tegas.

Vita mengangkat kedua tangannya tanda menyerah dan kembali melangkah ke meja kerjanya. Aerin tersenyum, kenapa semua orang sangat mengkhawatirkan dirinya? Apakah ia sangat parah bila sedang marah? Aerin geleng-geleng kepala sendiri sebelum memutar handle pintu ruangan Arya..

Bersambung..

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Extra Part

Arya menyentuh alis Aerin yang berbentuk melengkung setengah lingkaran, lalu sentuhannya turun ke hidung mancungnya dan berakhir di bibir penuh Aerin, sebuah masterpiece yang membuat ia tak bisa jauh dari itu…

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_55/55

Bramantio menggandeng tangan Aerin. Arya melihatnya dengan agak cemburu. Huh… seharusnya ia yang lebih berhak menggandeng tangan itu. Tasya yang melihat arah pandangan Arya, langsung menggandeng tangan Arya. Aerin melihat keduanya yang berjalan di depannya.

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_54/55

Kembali ke Global Cell membuat Aerin bahagia. Wiwid, Vita dan pasukan IT menyambut kedatangannya di lobby. Aerin sangat terharu, ah… bagaimana mungkin ia sanggup meninggalkan mereka dalam waktu yang tak lama lagi.