Aku Disini Menunggumu ā€“ #Chapter_21/55

Bian menatap pemandangan malam Kota Jakarta dari jendela kamar hotelnya. Pagi tadi ia baru tiba di Jakarta untuk meeting singkat di kantor cabang BraDia dan besok siang harus kembali ke Surabaya. Dari sejak menginjakkan kakinya di Jakarta, ada keinginan untuk menelpon Aerin tapi ia begitu ragu.

by InfiZakaria

Bian menatap pemandangan malam Kota Jakarta dari jendela kamar hotelnya. Pagi tadi ia baru tiba di Jakarta untuk meeting singkat di kantor cabang BraDia dan besok siang harus kembali ke Surabaya. Dari sejak menginjakkan kakinya di Jakarta, ada keinginan untuk menelpon Aerin tapi ia begitu ragu.

šŸŽµI’m a big big girl, in a big…šŸŽµ

Aerin yang lagi beberes hendak pulang, melihat ke layar handphone, Mas Ricky menelpon.

“Yees, my darling brother… apa kabar?”

Terdengar suara tawa Ricky dari seberang.

“Good beneeer. Kamu sehat?”

“Yups, sehat banget.”

“Udah ketemu calon suami?” Aerin tertawa ngakak, membuat anak-anak IT yang masih lembur ikutan tersenyum.

“Well, masih diproses mas” jawab Aerin sambil tertawa lagi.

“Bian lagi di Jakarta, besok siang dia balik ke Surabaya. Call him, siapa tau dia bisa jadi salah satu kandidat.”

“Oh, tentu mas. Dia teman ngobrol yang asyik, syarat pertama sudah terpenuhi. I will call him.”

“Okeeh, my darling sister. I missed you, take care ya.”

“Thanks, mas. Salam buat mbak dan anak-anak ya.”

Ricky tersenyum penuh arti.

*****

Dari sejak Bian mengenal Aerin, Bian sering menanyakan tentang Aerin kepadanya. Sifat Bian yang pemalu membuat proses pendekatannya dengan Aerin menjadi tertunda-tunda. Bahkan Ricky tau, Bian sangat bersemangat meeting di BraDia Jakarta karena ada kemungkinan untuk bertemu Aerin.

Bian yang masih ragu dengan pandangan masih menatap nama Aerin di handphonenya… nama Aerin muncul disana. Sebuah kebetulan yang membuat dadanya berdebar kencang.

“Mas Bian, apa kabar?” Sapa Aerin dengan nada sangat akrab.

“Ba… baik.”

Aerin tau Bian pasti kaget mendapat telpon darinya.

“Mas Bian lagi di Jakarta kan?”

“Iya… besok jam 3 siang sudah harus check in.”

Bian sangat berharap Aerin menangkap maksud dibalik ucapannya.

“Let’s meet! Tapi schedule ku besok sangat padat. On the way ke airport… Mas Bian bisa singgah di Global Building?” Bian tersenyum lebar.

“Ya, bisa banget” jawabnya cepat.

Aerin bisa merasakan kebahagian dari nada diseberang.

“Okay, ntar aku WA ya. See you, bye bye.”

Aerin memutuskan hubungan telpon lalu melihat ke sekeliling. Pasukan anti badainya pada senyum-senyum menggoda… Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam… saatnya untuk pulang.

*****

Arya yang sedang merokok di balkon kamarnya, menatap lurus kedepan… ke balkon rumah tetangga, kamar yang dulunya dihuni oleh Irin. Tadi saat pulang, mama bilang kalo Mbak Sri yang dulunya nanny Irin, sudah kembali bekerja di rumah Irin. Bukan hanya Mbak Sri, bahkan ada 2 orang ART lainnya yang sejak hari ini mulai tinggal di rumah Irin, rumah yang sebelumnya hanya dijaga oleh 2 orang satpam dengan sesekali ada ART yang datang buat bersih-bersih.

Mama juga bilang, akan ada anggota keluarga Pak Bramantio yang akan tinggal disana. Apakah anggota keluarga yang dimaksud adalah Irin?

Arya menarik dalam isapan rokoknya, mencari Irin ternyata tak segampang yang ia bayangkan. Semua kartu ucapan ulang tahun yang dikirimkan Irin buatnya setaunya diantar oleh kurir. Satpam di rumah Irin yang pernah ia tanyai tentang keberadaan Irin bahkan mengatakan bahwa mereka ketemu terakhir dengan Irin saat Irin menamatkan SD di Jakarta.

Setelah itu, mereka tidak pernah mendengar kabar tentang Irin bahkan Pak Bramantio dan keluarga tidak pernah kembali ke rumah itu. Semua urusan tentang rumah diurus oleh perwakilan BraDia Jakarta.

Arya pernah berencana menghubungi Pak Bramantio tapi ia sangat sungkan, menghubungi pengusaha sukses dan terkenal itu hanya untuk bertanya tentang Irin.

*****

Sri tersenyum lebar menatap siapa yang muncul dari pintu dapur bagian belakang yang menghadap ke taman samping, dimana ada pintu besi penghubung 2 rumah.

“Apa kabar, Mbak Sri?” Sapa Arya yang masih sangat mengenali wanita paruh baya itu.

“Baik, den. Waah…. senangnya mbak bisa bertemu Den Arya lagi”

Keduanya saling menjabat tangan.

“Bik Sakinah masih ada?”

Bik Sakinah adalah ibu Mbak Sri yang dulu bekerja sebagai tukang masak di rumah Arya.

“Alhamdulillah masih ada dan sehat, umurnya sudah 80 tahun.”

“Alhamdulillah. Sudah lama sekali ya mbak. Mbak Sri sudah bekeluarga?”

Sri tersenyum. Arya masih tetap Arya yang dulu, selalu sangat perhatian dengan orang-orang yang bekerja di rumah mereka. Bahkan dulu karena ibunya bekerja di rumahĀ  Arya… Arya jadi mengenal dan sangat perhatian kepada seluruh anggota keluarganya.

“Mbak sudah punya 3 orang anak. Yang paling besar sudah SMA, nomor 2 sudah SMP dan yang bungsu masih kelas 5 SD. Suami mbak sudah meninggal 2 tahun yang lalu.”

Tak ada kesedihan dalam nada bicaranya.

“Nanti kapan-kapan kita ke rumah Mbak Sri, aku pengen ketemu dengan Bik Sakinah dan anak-anak Mbak Sri.”

“Iya, den. Sudah sarapan?”

Wangi nasi goreng yang masih di dalam wajan penggorengan sudah dari tadi menggoda Arya. Arya menggeleng dengan senyum lebar.

“Ayo… sarapan bareng seperti dulu, tapi tidak ada Irin” goda Mbak Sri yang membuat Arya tertawa kecil.

Tentu saja, dulu saat ia masih SD… ia dan Irin selalu bersama, hanya berpisah saat ke sekolah dan saat tidur malam saja. Setiap pagi, kalau bukan ia yang lari ke rumah Irin buat sarapan, pasti Irin yang akan lari ke rumahnya buat sarapan. Tapi sejak ia SMP semua berubah, ia menjadi sok gede dan ogah berteman dengan anak kecil yang hobinya menangis.

“Setelah aku dan keluargaku pindah ke Amerika, mbak masih bekerja sama Pak Bramantio sampai sekarang?” Tanya Arya di sela-sela menikmati nasi goreng yang rasanya membawa nostalgia masa kecil.

“Nggak den, keluarga bapak pindah ke Surabaya setelah Irin tamat SD. Saat itu mbak baru menikah, suami mbak punya kerjaan tetap di Jakarta. Jadi mbak tidak ikut ke Surabaya.”

“Irin ikut ke Surabaya juga?”

“Iya. Tantenya Irin, Bu Mirna sempat mau mengambil Irin untuk tinggal bersamanya di Jakarta, tapi bapak gak kasih izin.”

Masih jelas terbayang gimana Irin kecil menangis histeris karena tidak mau ikut pindah bersama keluarga papanya. Saat itu ia tau, Irin tidak mau berpisah dengan Bu Mirna yang dia anggap satu-satunya keluarga mamanya yang sangat memperhatikannya.

“Apa keluarga Pak Bramantio akan kembali ke Jakarta?”

“Mbak kurang tau juga, nyonya hanya bilang bakalan ada anggota keluarga yang akan tinggal disini.” Arya merasakan dadanya mulai berdebar-debar.

“Siapa mbak? Irin?” Sri tersenyum menggoda.

“Non Irin memang ada di Jakarta, tapi nyonya bilang Non Irin punya rumah sendiri. Jadi mungkin yang akan tinggal disini Den Ricky atau Den Chandra atau anak-anak mereka.”

Ada rona kekecewaan dari ekspresi Arya.

“Mbak juga tidak pernah bertemu Non Irin, terakhir ketemu ya waktu non pindah ke Surabaya dulu. Den Arya sudah bertemu Non Irin?”

Arya menggeleng.
Tadinya ia pikir Mbak Sri punya informasi tentang Irin, tapi sama saja… yang ia tau dan Mbak Sri tau, kurang lebih sama.

“Tantenya Irin, mbak tau tinggal dimana?”Arya merasa punya secercah harapan.

“Dulu rumahnya di Kemang, mbak pernah kesana tapi ternyata itu rumah sewa. Pemilik rumah bilang Bu Mirna pindah ke Makassar karena kerjaan suaminya pindah kesana.”

Jalan buntu lagi. Arya menggaruk-garuk rambutnya yang tak gatal. 2

“Den Arya tenang saja, nanti begitu ada anggota keluarga bapak yang datang kemari, pasti akan mbak tanyain. Mbak juga penasaran banget dengan Non Irin, soalnya saat pindah ke Surabaya dulu hubungannya dengan bapak dan nyonya memang sangat buruk. Saat itu Non Irin mulai suka membangkang walaupun tak banyak bicara. Non Irin mulai gede, udah berani melawan. Aduuh, seperti apa Non Irin sekarang ya? Mbak pernah melihat photo keluarga bapak di koran. Hanya ada bapak, nyonya, Den Chandra dan Den Ricky saja.”

Sri ingat, ia menangis saat itu saking sedihnya tidak ada sosok Irin di dalam photo keluarga tuannya.

Arya bisa merasakan kesedihan dalam nada Mbak Sri. Apa yang terjadi pada Irin? Apa Pak Bramantio sudah resmi mencoret Irin dari anggota keluarganya? Apa Irin melarikan diri dari rumah dan hidup sendiri? Tak terasa keringat dingin membasahi keningnya.

“Mbak tau nama lengkap Irin?” Tanya Arya setelah sadar, ada bagian penting yang seharusnya ia tau dari dulu. Bagian penting yang mungkin saja membuat pencariannya buntu.

“Aerin Saraswati. Non Aerin tidak memakai nama belakang bapak di belakang namanya. Saraswati nama maminya.”

Arya terpaku. Seburuk itukah hubungan Aerin dengan papanya? Bahkan dia memakai nama maminya di belakang namanya.

Bersambung..

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Extra Part

Arya menyentuh alis Aerin yang berbentuk melengkung setengah lingkaran, lalu sentuhannya turun ke hidung mancungnya dan berakhir di bibir penuh Aerin, sebuah masterpiece yang membuat ia tak bisa jauh dari itu…

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu ā€“ #Chapter_55/55

Bramantio menggandeng tangan Aerin. Arya melihatnya dengan agak cemburu. Huh… seharusnya ia yang lebih berhak menggandeng tangan itu. Tasya yang melihat arah pandangan Arya, langsung menggandeng tangan Arya. Aerin melihat keduanya yang berjalan di depannya.

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu ā€“ #Chapter_54/55

Kembali ke Global Cell membuat Aerin bahagia. Wiwid, Vita dan pasukan IT menyambut kedatangannya di lobby. Aerin sangat terharu, ah… bagaimana mungkin ia sanggup meninggalkan mereka dalam waktu yang tak lama lagi.