Aku Disini Menunggumu – #Chapter_2/55

Airin melihat ke layar hpnya. Mama! Sudah lama sekali mama tidak menelponnya. Terakhir saat papa harus diopname di rumah sakit, mama menelpon menyuruhnya pulang. Itu sembilan tahun yang lalu.

by InfiZakaria

🎵I’m a big big girl, in a…🎵

Airin melihat ke layar hpnya. Mama… Sudah lama sekali mama tidak menelponnya. Terakhir saat papa harus diopname di rumah sakit, mama menelpon menyuruhnya pulang. Itu… 9 tahun yang lalu.

“Mama, apa kabar?”
Sapa Aerin dengan nada suara bergetar.

“Minggu depan, kamu pulang!”
Nada tegas tanpa basa-basi. Bahkan saat ia pulang ke rumah, mama hanya menjawab sesingkat mungkin bila ia menyapa.

“Hm…ada apa, ma?”

“Apa perlu alasan untuk pulang ke rumah?”

Sekian lama ia menghabiskan masa kecilnya bersama mereka, tapi hubungan antara ia dan mama masih sedingin saat ia pertama kali dibawa dengan paksa untuk tinggal bersama mereka. Salah satu alasan kenapa saat ia dewasa dan mandiri, ia memilih bekerja di Jakarta.

“Minggu depan ulang tahun kamu. Papa ingin ada makan malam keluarga. Minggu sore kamu sudah harus sampai di rumah.”

“Baik, ma. Aku akan pulang.”

Hubungan terputus. Hampir 5 tahun sejak ia kembali, tidak pernah ada makan malam khusus di hari ulang tahunnya. Juga, ia tidak pernah mendapat undangan untuk pulang saat papa, mama dan saudara-saudaranya berulang tahun padahal ia tahu pasti, selalu ada acara makan malam keluarga.

*****

Andy membaca leave form yang disodorkan Aerin untuk ia tandatangani. Ia mengernyitkan keningnya sambil mengeleng-gelengkan kepala.

“No way! Tidak ada yang boleh cuti dalam minggu depan. Kamu tidak baca email dari HR?”

“Emang kenapa?”

“CEO baru datang dalam minggu depan.”

“So, masalahnya apa? Kalo dia mau datang, ya datang saja. Kenapa tidak boleh cuti?”
Andy mendelikkan matanya. Ia tahu gimana keras kepalanya Aerin. Sosok cantik itu tampak sangat sebel. Wajah putih nan mulusnya sampai merona merah, menahan amarah.

“Ganti tanggal cuti!”

“No!”

Aerin mengambil kembali leave form dari tangan Andy dan keluar ruangan.

“Ririn…!”

Aerin berbalik, tersenyum sambil mengerdipkan mata kirinya. Andy menarik napas panjang, menatap sosok Aerin yang keluar ruangan.

*****

“Hai, Mbak Vita. Apa kabar?”
Vita yang sedang membereskan dokumen, melirik siapa yang datang. Si cantik Aerin yang memakai kemeja soft grey dipadan celana hitam dan sepatu jenis ballet flat berwarna grey.

Sosok tingginya tentu saja tidak perlu memakai high heels. Wajah putihnya selalu terlihat segar dengan make up simple. Rambut ikal sebahu yang dicat warna mahogany, alis berbentuk melengkung setengah lingkaran, warna bola mata hitam pekat, hidung mancung dan bibir penuh membuat sosoknya sangat menarik dan sexy

“Kabar baik. Mau ketemu Pak Bos?”

Aerin mengangguk.

“Bisa?”

Vita menekan tombol PABX.

“Bos, ada Ririn nih.”

“Come in”

Terdengar suara Pak Rasyid dari dalam. Aerin tersenyum.

“Thanks Mbak Vita. Tunggu aku buat lunch ya.”

“Okeeeh”

Sambut Vita dengan semangat. Udah lama mereka tidak lunch bareng. Dari awal bulan lalu, jadwal Aerin berkunjung ke daerah begitu padat.

*

Pak Rasyid yang sudah mendapat info dari Andy tentang cuti Aerin, menatap sosok yang baru masuk ke ruangan. Dari cara Pak Bos menatapnya, Aerin sudah tau kalau Mas Andy sudah kasih bocoran tentang tujuannya datang kemari.

” Ririn, please…”

“Aku bener-bener harus balik ke Surabaya minggu pagi, bos. Bos tau kan, gimana jeleknya hubunganku dengan mamaku? Hampir 9 tahun, baru kali ini mama menelponku untuk pulang. Jadi ini, sesuatu yang tidak bisa aku lewatkan. I’m sorry.”

“Tapi, kamu salah satu staf yang akan memberi briefing kepada Pak Arya.”

“Bagas can do it! Aku mendidik Bagas untuk selalu siap bila suatu hari aku pergi.”

Pak Rasyid mengambil pena dan menandatangani leave form. Aerin tersenyum penuh kemenangan.

“You’re the best. I will miss you, Pak.”

“Kamu juga tidak bisa hadir di farewell party saya?”

“Pak bos, I’m sorry. Gimana kalau weekend aku ke Bandung?”

“Bener?”

Aerin mengangguk. Hubungannya dengan Pak Rasyid sudah seperti hubungan keluarga. Ia mengenal istri dan anak-anak Pak Rasyid dengan sangat baik. Bahkan, di suatu waktu dulu Pak Rasyid pernah bermaksud menjadikan ia istri buat anak laki-lakinya yang bungsu.

*****

Begitu Aerin keluar dari ruangan Pak Rasyid, Vita udah siap sedia buat lunch.

“Kita kemana?”

“Gusto Resto aja, gimana mbak? Aku lagi malas keluar, macet banget.”
Gusto Resto berjarak hanya sekitar 10 menit jalan kaki dari kantor Global.

“Okeeh. Let’s go, aku udah lapar banget.”
Aerin menggandeng tangan Vita dan menuju lift. Ruangan Pak Rasyid berada di lantai 15, lantai tertinggi gedung Global.

Sinar matahari siang itu tidak terlalu terik, angin juga sepoi-sepoi…saat yang pas buat berjalan kaki.

“Udah lama aku nggak jalan kaki buat lunch.”

Aerin tertawa kecil. Vita yang lebih tua darinya 6 tahun tampak santai banget. High heels yang biasa dikenakannya diganti dengan sendal jepit.

“Mbak Vita sih, go food terus.”

“Yaa…gimana lagi? Pak bos tuh, gak bisa jauh dari aku.” Keduanya tertawa.

“Kamu yang jam kerjanya free banget, bisa break sesuka hati dan gak akan ada yang berani protes. Memang anak-anak IT ini ya, bikin sebel.”

Aerin tertawa.
Gusto Resto tidak terlalu ramai siang itu. Aerin suka nongkrong disini, selain makanannya otentik Italia banget, interior ruangan resto yang simple tapi indah, bikin betah. Kokinya juga asli orang Italia.

“Ayam Parmigiana dan orange juice. Kamu mau ayam juga?”

Aerin menggeleng.

“Linguine Alle Vongole, porsi kecil aja dan iced lemon tea.”

“Baik, mbak. Ditunggu sebentar.”

Sang waiter berlalu, terdengar suara merdu Carla Bruni menyanyikan Tu es ma came.

“Mantaap” ucap Vita sambil tertawa.

Aerin tersenyum melihat ekspresi Vita yang sangat menikmati suasana. Bisa keluar buat lunch dan menikmati suasana santai seperti ini, sesuatu yang istimewa banget. Pintu resto terbuka, dua sosok yang baru masuk, sangat mereka kenal.

“Rena dan Bima resmi jadian?”

Vita mengangguk.

“Wow… akhirnya, kejadian juga.” Aerin gak bisa menahan tawa bahagianya.

“Si Rena itu ya, emang luar biasa banget, sabar banget. Kamu harus belajar banyak dari dia.”

Semua tahu Bima sang playboy semula tak menganggap Rena ada. Tapi Rena yang berwajah standar aja, tak perduli. Walaupun Bima selalu sebal melihatnya, ia tetap gigih mengejar cinta Bima.

“Iya, mbak. Hidup ini sangat fair ya. Liat Rena, secara fisik biasa banget, tapi dia bisa mendapat pria impiannya. Terus, liat aku. Antrian panjang pria menanti. Kalau aku mau tinggal pilih aja, tapi hatiku… malah tertancap pada pria yang aku gak yakin apa ia mengingatku. Hah…”

Aerin menarik napas panjang, dari sudut ujung ruangan tampak Rena dan Bima yang saling menatap mesra.

“Mikirin ini, bikin aku sesak napas dan pengen makan banyak.”

“Birthday nya kemarin, kamu antar kartu ucapan?”
Vita tau sekilas kisah cinta masa kecil Aerin, tapi Aerin merahasiakan siapa sosok yang ditunggunya.

“Iya dan itu kartu ucapan terakhir.” Ekspresi Aerin tampak sedih.

“Kenapa?”

“Dia akan menikah.”

“What!”

Aerin mengangguk.

“Selama cincin kawin belum tersemat, kamu masih punya kesempatan.”

“No! Aku tidak akan mendekati pria yang sudah punya pacar, apalagi menggoda pria yang akan menikah. Aku takut banget sama karma.”

“Give up?”

“Ya… mungkin dia memang bukan untukku.”
“Mungkin ada Mr Right lain yang sedang menungguku. Mungkin aku hanya perlu melepaskan yang ini dengan ikhlas, biar Mr Right yang lain bisa masuk tanpa hambatan cinta di masa lalu.”

Vita memegang erat tangan.

“Aku percaya kamu akan mendapat yang terbaik karena kamu orang baik.” Mata Aerin berkaca-kaca.

“Amiiin. Thanks mbak.”

Waiter datang membawa orderan mereka.

“Makasih.”

“Ini tiramisu cake, kiriman mas yang disana buat Mbak Aerin”
Info waiter sambil menunjuk ke pojokan ruangan sebelah kiri. Aerin dan Vita serentak melihat ke pojokan kiri.

Ada seorang pria memakai jas coklat yang duduk sendirian disana yang juga sedang melihat ke arah mereka. Pria itu tersenyum, Aerin membalas senyumnya sambil mengucapkan ‘Thank you’ dari jauh.

“Siapa?” Selidik Vita.

“Aku juga gak ingat. Mbak tau kan, aku susah banget mengingat wajah pria… apalagi yang satu dua kali ketemu.”

Vita tertawa. Itu salah satu kelemahan Aerin dan ada banyak cerita lucu karena itu..

Bersambung…

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

WhatsApp Image 2021-02-12 at 14.57.39

Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo Sudah Negatif Covid-19

JAKARTA (titiktemu, 12/2)– Setelah hampir tiga pekan (20 hari) menjalani isolasi mandiri, Ketua Satgas …

Logo-Muhammadiyah-OK

PP Muhammadiyah Tetapkan Puasa Mulai 13 April 2021

Pengurus Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1442H jatuh pada hari Selasa Wage, 13 April …

WhatsApp Image 2021-02-10 at 08.34.30

KRL Yogya-Solo Beroperasi Mulai Hari Ini

SOLO (titiktemu, 10/2) – Hari ini menjadi tak biasa bagi masyarakat pelajo Solo-Yogya. Para …