Aku Disini Menunggumu – #Chapter_18/55

Sapaan dari samping kirinya membuat Aerin kaget dan otomatis melihat ke samping. Disana berdiri seorang cowok atletis, berambut agak gondrong, berkulit coklat. Dia...

by InfiZakaria

“Good morning, please sit…”

Sapaan dari samping kirinya membuat Aerin kaget dan otomatis melihat ke samping.
Disana berdiri seorang cowok atletis, berambut agak gondrong, berkulit coklat. Dia… jauh sekali dari sosok Arya yang dibayangkannya.
Arya tersenyum, mereka sama-sama kaget melihat sosok masing-masing, tapi ia bisa menyembunyikan kekagetannya sedangkan Aerin tidak bisa.

Wajah gadis cantik itu masih tetap bengong saat ia melangkah ke meja kerjanya. Pasti karena dia ingat kalau mereka pernah bertemu.

“Aerin Alessandra?” tanya Arya begitu Aerin duduk di depannya.

“Iya, aku IT Expert.” jawab Aerin setelah bisa mengatasi rasa kagetnya dan berusaha untuk tidak terus memandang Arya.

“Kita pernah berjumpa sebelumnya kan?”

Sosok didepannya tampak berpikir, lalu menggeleng.

“Sorry, aku punya kelemahan mengingat wajah orang yang baru sekali dua kali bertemu. Kita bertemu dimana ya?” Aerin balas bertanya.

Arya yang pede karena berpikir Aerin mengingatnya jadi tersenyum sendiri. Lantas, kenapa Aerin sangat kaget melihat sosoknya tadi?

“Oh, di pesta ulang tahun mamanya temanku, sekitar seminggu yang lalu. Kamu menyendiri di teras belakang dan sepertinya sedang menangis. Aku menyapa kamu dan bertanya nama kamu, tapi kamu hanya merespon dengan melambaikan tangan dan langsung pergi.” terang Arya sedetail mungkin.

Susah untuk percaya ada gadis yang bisa melupakan wajahnya.
Aerin menatap Arya dengan mata yang sebenarnya sudah berkaca-kaca.
See… sebenarnya ia telah dipertemukan  dengan Arya di pesta Tante Rossa tanpa ia sadari.
Arya benar, itu memang reaksi khasnya terhadap pria yang baru berjumpa dan langsung menanyakan namanya.
Aerin pada akhirnya bisa tersenyum dan menguasai dirinya.

“Ya..aku ingat. Thanks sudah bertanya keadaanku saat itu. Sorry.”

Aerin melirik jam tangannya. Pukul 09.50.

“Pak Arya, let’s reschedule our meeting, I don’t have free time now. Pukul 10 aku ada jadwal computer check up dan mungkin akan selesai sampai malam. So, see you next time and it’s my pleasure to meet you” ucap Aerin dengan mata tajam menatap Arya.

Arya bener-bener tidak mengenalinya. 

“Hai, kita bahkan belum bicara kerjaan.” protes Arya setelah melihat Aerin bangkit dari kursi dan berbalik berjalan menuju pintu.

Aerin menghentikan langkahnya.

“Aku sudah menunggu diluar sejak pukul 9 tepat. You wasted my precious time.” balas Aerin tanpa berpaling.

“Sorry, tapi tadi ada pembicaraan yang sangat urgent.”

Arya membela diri, ia juga tidak tau kenapa harus memberi penjelasan.

“Your business is not my concern. Yang menjadi concernku adalah kerjaanku. Dan sekarang aku harus keluar dari ruangan ini karena staf IT sudah menunggu. That is it, bye.” Tetap tanpa berpaling.

Suasana menjadi agak tegang dengan sikap Aerin yang tiba-tiba berubah. Arya menarik napas berat. Disaat semua orang menghormatinya, yang ini malah sama sekali tidak perduli dengan hubungan yang seharusnya antara atasan dan bawahan.

“Stop!” teriak Arya yang mulai terganggu dengan sikap Aerin.

Kali ini gadis itu berbalik dan menatapnya dengan pandangan sebel dan Arya merasa sangat mengenal pandangan sebel itu.

“Kalau bos belum suruh kamu keluar, kamu tidak boleh keluar. Come back here and sit!” Perintah Arya dengan suara tegas sambil menunjuk kursi di depannya untuk Aerin duduk.

Aerin bengong dan menatap Arya yang menekan tombol speaker PABX.

“Vita, please info ke IT staff. Computer check hari ini, batal. Aerin will have a full day meeting with CEO. So, please cancel all my schedule for today. Dan tolong suruh seseorang bawa laptop Aerin ke ruangan saya. Thanks.” ucap Arya dengan tatapan penuh kemenangan.

Vita yang mendengar nada suara Arya, bisa merasakan ada yang tidak beres terjadi di dalam.

“You can’t do that!” protes Aerin dengan suara keras.

“Yes, I can. I am the CEO!”

Aerin terdiam. Tentu saja, CEO punya hak melakukan itu. Aerin seolah tersadar, apakah reaksinya terhadap meeting yang tertunda, agak berlebihan? Sehingga  membuat Arya malah mempersulitnya. Meeting yang seharusnya hanya 1 jam sekarang akan menjadi full day meeting.

*****

Mbak Vita muncul membawa laptopnya. Arya melihat Vita yang sangat seksama memperhatikan Aerin. Aerin hanya tersenyum kecil dengan wajah masih agak sebel.

“Kamu mau minum dan makan apa buat lunch?”

Aerin udah bisa membayangkan sepanjang apa meeting yang harus dilaluinya. Masih jam 10 Arya sudah mempersiapkan lunch buatnya.
Vita tertawa kecil melihat wajah Aerin yang tampak menahan diri untuk tidak meledak.

“Aku siapin jus jeruk sekarang ya? Dan spaghetti plus ice lemon tea buat lunch.”

Tentu saja Vita sangat tau apa yang disukai Aerin.

“Pak Arya mau apa?”

“Black coffee, nasi for lunch. Saya mau yang berkuah dan hangat. Soup, soto, whatever.”

“Baik Pak. Saya balik ke depan. Aerin, cheers up!” Goda Vita sambil mengerdip-ngerdipkan matanya.

Aerin tak bereaksi. Mbak Vita sungguh terlalu, dia menikmati kesengsaraannya. Arya menyembunyikan senyumnya melihat wajah Aerin.

*****

“Can we start?”

Aerin tidak menjawab. Ia mulai menghubungkan kabel projector ke laptopnya. Arya melihat ke pancaran sinar projector. Aerin mengetik cepat dan dalam sekejap muncul skema database Global.

“Ini salah satu kerjaan rutinku setiap harinya. Memeriksa software yang kita pakai, mencari celah kelemahannya dan mengupgrade sistemnya. Semua software ini tergabung dalam 1 database yang mempunyai 10 level pertahanan untuk menghindari hacking.”

Aerin mencoba menjelaskan dengan bahasa sesederhana mungkin.

“Kenapa hanya 10, tidak lebih?”

“10 level sudah lebih dari cukup karena yang bikin sistemnya itu… an international certified hacker.”

Aerin menatap Arya, menanti reaksinya. Arya yang juga menatapnya, speechless.

“Perlu hacker dengan level yang sama untuk bisa menembus database Global, itupun belum tentu bisa tembus. Kalaupun bisa, butuh waktu berhari-hari untuk bisa naik ke level 2. Dan saat si  pengganggu mencapai level 2, otomatis  komputernya… BOOM! Meledak dengan sendirinya karena overload virus.”

Arya mendelik.

“Wow…. really?”

Aerin mengangguk.

“Gimana dengan kantor cabang?”

“Keamanan kantor cabang tergantung pada keamanan database kantor pusat. So selama kantor pusat tidak ada gangguan, kantor cabang juga akan aman.”

Arya mengangguk puas.

*****

Saat Vita membawa jus jeruk dan black coffee, keduanya terlihat sangat serius. Kehadirannya tidak membuat keduanya berpaling.
Begitu juga saat Vita kembali membawa makan siang dan menaruhnya diatas meja makan mini.
Aerin tampak asyik memainkan spidol di atas whiteboard, Arya menjadi pendengar yang aktif mengajukan pertanyaan.
Sikap Aerin juga sudah kembali seperti Aerin yang biasanya, tidak ada wajah sebel dan sedih seperti tadi pagi.

“Aku lapar, ini sudah seperti memberikan kuliah.”

Arya tertawa.
Tentu saja, ia sudah mengexplore begitu dalam tentang dunia IT dan Aerin adalah sosok yang tepat untuk memberinya penjelasan.

“Oke, ayo lunch.”

Arya bangkit melangkah ke dapur mini di bagian kiri ruangan kantornya.

“Can I invite Vita to join us? Aku nggak nyaman lunch dengan orang asing.”

Aerin sebenarnya menghindari kekikukannya. Bisa-bisa ia tidak bisa menelan makanan. Arya menahan senyumnya.

“Orang asing, aku?”

Arya menunjuk ke dirinya, Aerin mengangguk.

“Sure, you can invite Vita.” ucapnya sambil garuk-garuk kepala yang tak gatal.

Sungguh terlalu, tidak nyaman lunch dengan orang asing… apa maksudnya itu?

Vita yang happy mendapat ajakan lunch bareng, segera muncul dengan membawa lunchnya dan cheese cake Aerin.
Ketiganya menikmati makanan sambil sesekali ngobrol. Aerin menatap Arya yang lahap dengan soup dagingnya.
Arya tau Aerin sering secara sembunyi memperhatikannya. Aerin melihatnya dengan ekspresi sedih bahkan Arya sempat melihat matanya yang berkaca-kaca.
Aerin lebih banyak diam, tidak terlalu merespon pembicaraan dirinya dan Vita.

“Kamu mau soup?” Tanya Arya begitu Aerin tertangkap basah memperhatikannya lagi.

Gadis yang sudah melepas blazernya, tampak begitu pure dengan kemeja putihnya.

“A.. apa?” respon Aerin kaget.

Vita tertawa.

“Pak Arya tanya, kamu mau soup?” jelas Vita.

Aerin langsung menggeleng.

“No, thanks” jawabnya sambil melanjutkan makan.

*****

Dulu sekali, ia yang sering mengekor Arya, akan ikutan makan bila Arya makan. Arya yang tak suka diikuti, biasanya akan membawa piring makannya ke ruangan lain untuk menghindarinya.

Di lain kesempatan, saat ia pengen makanan yang sedang dimakan Arya, Arya menyuruhnya mengambil makanan yang sama di dapur. Dia tidak mau berbagi makanan dengannya.

Suatu saat ada temen perempuan Arya main ke rumah, ia melihat Arya berbagi makanan dengan temannya. Saat itu ia langsung menangis tersedu-sedu tidak bisa mengontrol rasa sedihnya. Jadi saat sekarang Arya menawari soup yang sedang dimakannya, itu adalah sesuatu banget.

“Pak Arya mau cheese cake?”

Tawar Vita.
Arya mengangguk.

“1 slice saja” jawab Arya sambil melihat Vita memotong cheese cake berbentuk hati.

“Ini kue ulang tahun buat Aerin” terang Vita.

Aerin yang belum selesai menghabiskan spaghetti-nya diam saja.

“Oh, yang last week banyak kiriman buket?”

Arya ingat betul, itu hari pertamanya ngantor di Global. Vita tertawa.

“Iya. Kasihan banget pria-pria yang udah rempong kirimin hadiah ulang tahun. Yang berulang tahun gak akan ingat siapa mereka.”

Penjelasan Vita mengkonfirmasi kenapa Aerin tidak mengingat wajahnya setelah mereka bertemu sebelumnya. Keduanya tertawa.
Aerin hanya tersenyum. Itu memang kelemahannya yang ia sukai. Otaknya sudah full dipenuhi dengan memori wajah seorang remaja pria bertubuh gendut yang sekarang menjelma menjadi sesosok pria atletis dengan wajah yang sangat nyaman dipandang. Otaknya tidak punya space kosong untuk mengingat wajah pria lain yang baru dikenalnya.

*****

Meeting berlanjut. Arya menahan senyum melihat Aerin yang beberapa kali menguap tanpa menutup mulutnya. Tapi begitulah, saat menguap saja sangat enak dipandang.

“Ada yang mau ditanyakan lagi?”

Aerin menutup laptopnya. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Arya mengangguk.

“Kenapa kamu memilih bekerja di Global?” Pertanyaan yang diluar perkiraan Aerin.

Wajah didepannya itu agak kaget dan butuh waktu beberapa saat untuk menjawab.

“Memangnya tidak boleh?” Aerin balas bertanya.

“Seorang lulusan computer science MIT seharusnya bekerja di silicone valley atau di perusahaan IT ternama. Kenapa bisa berakhir di Global?”

“Pak Arya ingin aku resign?”

“No!” response Arya cepat.

Aerin tertawa.

“So, no question! Kecuali kalau Pak Arya mau aku resign” jawab Aerin santai sambil bangkit.

“See you!”
Pamitnya sambil berbalik dan melangkah keluar ruangan. Tahukah kamu? Aku stuck disini karena menunggumu. Karena aku tau suatu saat kamu pasti akan kembali kesini..

Bersambung..

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

WhatsApp Image 2021-02-12 at 14.57.39

Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo Sudah Negatif Covid-19

JAKARTA (titiktemu, 12/2)– Setelah hampir tiga pekan (20 hari) menjalani isolasi mandiri, Ketua Satgas …

Logo-Muhammadiyah-OK

PP Muhammadiyah Tetapkan Puasa Mulai 13 April 2021

Pengurus Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1442H jatuh pada hari Selasa Wage, 13 April …

WhatsApp Image 2021-02-10 at 08.34.30

KRL Yogya-Solo Beroperasi Mulai Hari Ini

SOLO (titiktemu, 10/2) – Hari ini menjadi tak biasa bagi masyarakat pelajo Solo-Yogya. Para …