Aku Disini Menunggumu – #Chapter_17/55

Vita bangkit menuju ke bagian belakang ruangannya. Tak beberapa lama, muncul dengan membawa sebuah kotak kue bening yang di dalamnya ada Cheese Cake berbentuk hati. Vita membuka kotak berbungkus kertas kado berwarna emas. Matanya terbelalak saat melihat tulisan di box kecil di dalamnya..

by InfiZakaria

Pukul 9 kurang 10 menit, Aerin naik ke lantai atas. Vita sudah menunggunya disana.

“Wow, I love your hair color.”

Pujian tentang warna rambut barunya sepertinya akan jadi hot topic hari ini. Aerin tertawa. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku blazernya.

“Hadiah dari yang ulang tahun buat yang tidak berulangtahun. Mana kado buat aku?”
Tagih Aerin dengan wajah sengaja dibuat sebel.

“Pasti ada dong sayang, wait…”

Vita bangkit menuju ke bagian belakang ruangannya. Tak beberapa lama, muncul dengan membawa sebuah kotak kue bening yang di dalamnya ada Cheese Cake berbentuk hati. Aerin tertawa senang.

“Fresh from my kitchen, harus dihabisin… tidak boleh dibagi ke anak IT.”

Vita tau banget, Aerin pasti akan berbagi apapun makanan yang di dapatnya dengan anak IT.

“Oh, I love it. Thanks so much, Mbak.”

“So, aku buka yang ini ya…”

Vita membuka kotak berbungkus kertas kado berwarna emas. Matanya terbelalak saat melihat tulisan di box kecil di dalamnya TIFFANY & Co. 1

“Ririn, ini mahal banget.”

Aerin tersenyum.

“Take it easy, mbak. Hadiahin ini for my sis, gak akan bikin aku miskin.” canda Aerin yang membuat Vita senyum-senyum senang.

“Oh, my God. Oh…”

Dan isi kotaknya adalah sepasang anting berbentuk teardrop. Vita sampai menutup mulutnya, menahan biar ia tidak menjerit

“Suka?”

“Makasih banyak. Bahkan suamiku belum pernah kasih hadiah semahal ini.”

Aerin tertawa geli. Vita yang memang suka memakai anting, langsung mencopot anting yang sebelumnya dipakainya, dan mengganti dengan anting hadiah dari Aerin.

“Cantik banget, mbak!” puji Aerin senang.

“Makasih. Happy birthday, my little sister. Semoga selalu bahagia, selalu punya hati yang baik, sehat wal afiat dan segera bertemu Mr Right….”

Pukul 09.00 pas.

“Can I come in?” Tanya Aerin, ia memang sangat strict dengan waktu. Apalagi hari ini adalah hari pertamanya bekerja setelah cuti.

“Wait, tamu Pak Arya belum keluar.” ucap Vita yang ragu untuk menelpon Arya, mengingatkan meetingnya dengan Aerin. Tamu Arya sudah hampir 1 jam belum keluar-keluar.

“I don’t have free time today, mbak. Let’s reschedule the meeting for tomorrow.” saran Aerin yang memberi solusi.

Pukul 10 tepat ia harus memulai computer check up bersama stafnya dan itu mungkin akan berakhir sampai malam. Ada 250 lebih staf di kantor pusat Global dan 85% diantaranya memakai komputer kantor yang secara regular mereka cek.

“Wait ya.”
Dengan ragu Vita menekan beberapa nomor. Hubungan tersambung.

“Pak Arya, ada meeting deng…”

Vita menghentikan bicaranya. Di seberang yang menjawab bukan suara Arya. Aerin memperhatikan perubahan ekspresi wajahnya.

“Sip, oke.”

“Batal?”

“Pak Arya masih ada meeting via video call. Can you wait?”

Aerin menarik napas panjang.

“Berapa lama?”

“Aku juga tidak pasti.”

Pria yang sudah 19 tahun ditunggunya, sudah ada di dalam ruangan yang hanya berjarak sekitar 6 meter dari posisinya berada, tapi masih ada kendala untuk bertemu. Itu membuat Aerin menertawakan dirinya sendiri.

Aerin menekan sejumlah nomor di hpnya, menelpon.

“Rio, tolong bawakan laptop ku ke tempat Mbak Vita ya.”

Vita tersenyum lega, Aerin mau menunggu. Tak beberapa lama Mario datang dengan membawa laptop Aerin.

Aerin memanfaatkan waktu kosong  dengan melakukan video call ke beberapa kantor cabang. Sampai dengan ia selesai, waktu sudah menunjukkan pukul 09.30.

*****

Suara pintu ruangan Arya yang terbuka, membuat Aerin dan Vita serentak melihat ke sana. Sebuah sosok yang berjalan lenggak lenggok seperti di atas catwalk. Aerin mengenali sosok itu, Indah Clarissa… cinta pertama Arya.

Jadi meeting yang harus dia tunggu adalah meeting dengan cinta pertama Arya? Indah yang menyadari ada sosok lain selain sekretaris Arya, menatap Aerin dengan pandangan penasaran. Aerin tidak perduli, dari mata penuh selidik Indah, ia tau Indah tidak bisa mengenalinya. 

Vita menyapa Indah, Aerin tetap tidak bergeming. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Ada rasa sedih mendalam yang menyusup secara perlahan ke setiap denyut nadinya.

Ironi sekali, saat ia belum lagi bisa bertemu Arya… ia malah bertemu Indah, sosok yang dulu membuat ia cemburu berat. Ternyata hubungan Arya dan Indah masih berlanjut walaupun Indah dulu menolak cinta Arya. Apakah Indah gadis yang membuat Arya kembali?

Indah melangkah tak tenang menuju lift. Sudah lumayan sering ia mengunjungi Arya, baru kali ini ia bertemu sosok cantik nan stylist itu yang bersikap acuh kepadanya.

Selama ini, semua staf Arya yang ia temui selalu menyapanya dengan ramah walaupun ia tidak sepenuh hati membalas sapaan mereka. Arya memang ada bilang punya janji meeting dengan IT expert nya… apakah gadis tadi adalah orang yang dimaksudnya? Indah tiba-tiba saja merasa sangat tidak nyaman.

“Coba tanya mbak, apa aku bisa masuk sekarang?”

Vita menangkap kesedihan dalam suara Aerin.  Ekspresi Aerin juga penuh misteri.
Vita menelpon Arya.

“Pak Arya, Aerin sudah menunggu disini. Baik, Pak.”

Vita menutup telpon dan memberi insyarat kepada Aerin untuk masuk.
Langkah Aerin tampak lemah, menuju ke ruangan Arya. Aerin berdiri mematung di depan pintu kamar Arya. Butuh waktu untuk menenangkan diri sebelum tangannya yang berkeringat dingin, punya kekuatan untuk mengetuk pintu.

Vita memperhatikan dari meja kerjanya. Ia sangat tidak mengerti apa yang terjadi. Aerin berubah total saat melihat Indah keluar dari kamar Arya tadi.

“Come in.”

Terdengar suara ngebass dari dalam. Suaranya masih seperti suara Arya yang dulu. Suara sexy yang selalu dirindukannya.
Aerin menarik napas panjang, sebelum memutar handle pintu dan otomatis matanya langsung tertuju ke meja kerja CEO, tapi tidak ada seorang pun disana.
Apalagi ini? Aerin berdiri mematung sambil menenangkan debaran jantungnya yang berdetak kencang. Ia bermaksud menelpon Vita untuk bertanya, tapi….

Bersambung…

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Extra Part

Arya menyentuh alis Aerin yang berbentuk melengkung setengah lingkaran, lalu sentuhannya turun ke hidung mancungnya dan berakhir di bibir penuh Aerin, sebuah masterpiece yang membuat ia tak bisa jauh dari itu…

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_55/55

Bramantio menggandeng tangan Aerin. Arya melihatnya dengan agak cemburu. Huh… seharusnya ia yang lebih berhak menggandeng tangan itu. Tasya yang melihat arah pandangan Arya, langsung menggandeng tangan Arya. Aerin melihat keduanya yang berjalan di depannya.

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_54/55

Kembali ke Global Cell membuat Aerin bahagia. Wiwid, Vita dan pasukan IT menyambut kedatangannya di lobby. Aerin sangat terharu, ah… bagaimana mungkin ia sanggup meninggalkan mereka dalam waktu yang tak lama lagi.