Aku Disini Menunggumu – #Chapter_16/55

Andy tersenyum, mengusap air mata di pipi Aerin, lalu memeluknya. Aerin memang gampang sekali menangis.

by InfiZakaria

🎵I’m a big big girl…🎵

Aerin melihat ke layar monitor Mobil. Ada nama Pak Rasyid.

“Bapak, apa kabar?”

“Sehat-sehat. Kamu dimana? Sudah ada di Jakarta?” Saya di rumah Shopie. Malam balik ke Bandung.”

Shopie adalah putri tertua Pak Rasyid yang sudah menikah. Aerin mengenalnya.

“Sip pak, aku nuju kesana ya. See you!”
Ucap Aerin sambil menghidupkan lampu sign kiri untuk berbelok.

Aerin ingin singgah di Toko Butik Better Chocolate Than Never. Pak Rasyid, biarpun sudah berumur…adalah penggemar coklat sejati. Aerin tersenyum mengingat wajah lucu Pak Rasyid yang suka merem-merem bila sedang menikmati coklat yang pas dihatinya.

Aerin mengenal Pak Rasyid karena mereka pernah tinggal di komplek perumahan yang sama saat Aerin masih kecil. Komplek yang sama tempat Keluarga Arya tinggal. Tapi rumah Pak Rasyid letaknya di blok berbeda. Dulunya Pak Rasyid pernah bekerja di BraDia dan sering ke rumah.

Memasuki komplek, Aerin menjalankan mobilnya dengan pelan. Sebentar lagi ia akan melewati kediaman Arya dan kediaman keluarganya. Menyadari itu, dada Aerin mulai berdebar-debar tak karuan.

Dan… ia sekarang berada pas di depan pintu pagar rumah Arya. Hanya sekitar 3 minggu saja dari terakhir ia singgah disini, situasi rumah Arya berubah total. Pos satpam lebih tampak hidup dengan cctv lengkap, ada beberapa mobil yang terparkir di garasi dan tanaman di halaman depan tampak terawat.

Ia hanya perlu berhenti dan masuk ke dalam, kalau beruntung ia akan bertemu dengan Arya. Aerin tertawa kecil, menertawakan dirinya sendiri. One sided love sungguh membuatnya merana.

Pak Rasyid dan kedua cucunya menyambut kedatangan Aerin. Aerin menjabat tangan Pak Rasyid dan memeluk kedua gadis kecil yang sudah SD itu.

“Apa kabar gadis kecil tante?”

Keduanya menatap Aerin tanpa berkedip, terpesona. Pak Rasyid dan Aerin tertawa.

“Malia, Aisha… Tante Aerin tanya kabarnya loh, kok malah bengong?”

“Baik, good!” jawab Malia.

Aerin menyerahkan 2 paperbag berisi coklat ke tangan kedua gadis itu.

“Buat gadis kecil tante dan buat opa…”
Ucap Aerin sambil melirik Pak Rasyid, yang membuat Pak Rasyid tertawa keras. Aerin paling suka memanjakannya dengan coklat.

Ibu Sri, istri Pak Rasyid terkenal akan masakannya yang lezat. Jadi siang itu Aerin menikmati hidangan makan siang yang lezat.

“Gimana keluarga kamu?”
Tanya Pak Rasyid saat mereka duduk di taman belakang, menikmati dessert, setelah makan siang.

“Aku cuti ke Singapore, pak. Nemenin mama check up.”

Ekspresi wajah Pak Rasyid tampak suprised banget.

“Mereka udah terima aku.”

“Alhamdulillah, pada akhirnya kesabaran kamu berbuah manis.”

Aerin mengangguk.

“Thank you so much for your advices, pak. Nasehat-nasehat bapak menjadi penyeimbang sikapku ke mama papa.”

Mata Aerin berkaca-kaca. Pak Rasyid tau betul hubungannya dengan papa mama.

“Kamu sudah bertemu Arya?”

Pak Rasyid tau Arya adalah teman kecil Aerin, tapi ia tidak tau kalau gadis cantik berdress kuning itu terlibat one sided love dengan Arya.

“Pak, aku mau bapak merahasiakan siapa aku kepada Arya. Aku ingin Arya mengenal aku sebagai IT expert, bukan sebagai teman masa kecilnya. Kalaupun pada akhirnya dia tau, biar dia tau dengan sendirinya. Itu akan memudahkan aku dan Arya.”

Pak Rasyid mengangguk.

Aerin benar, hubungan murni atasan bawahan lebih membuat nyaman dalam mengambil keputusan dalam sebuah perusahaan, daripada hubungan yang melibatkan teman masa kecil.

*****

Malamnya Aerin susah sekali untuk bisa terlelap. Membayangkan besok akan bertemu Arya setelah 19 tahun berlalu, membuat ia berdebar-debar.  
Apakah Arya mengenalinya saat mereka bertemu besok? Atau apakah ia bisa mengenali Arya? Ia membayangkan pria berkulit coklat, bertubuh berisi, berambut klimis dengan jas rapi… duduk di kursi CEO.

Hanya bayangan seperti itu yang ia bisa imajinasikan… seperti sosok remaja Arya yang berambut klimis dan selalu berpakaian rapi. Aerin menarik napas panjang sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.

*****

 Bahagianya bisa kembali ke Global. Aerin menyapa beberapa kolega yang ditemuinya saat menuju resepsionis.

“Pagi, Mbak Ririn”
Sapa Wiwid dengan tersenyum lebar.

Sang goddess yang hari ini memakai kemeja putih dibalut blazer bermotif houndstooth dengan celana hitam, tersenyum.
Rambut ikal sebahunya dibiarkan tergerai indah. Warna rambutnya sudah dicat warna beda, ombre biru. Jadi kesan wajahnya misterius banget. Wiwid paling demen memperhatikan penampilan Aerin.

“Pagi, Miss Wiwid. Ada titipan?”

Wiwid mengambil 1 bundle plastik dan meletakkan di hadapan Aerin.

“Card ucapan ulang tahun plus kado. Buket, coklat, kue… udah dinikmati rame-rame.”

Aerin tertawa geli.
Ia memberikan izin staf di kantor mengambil buket dan hadiah makanan bila ia tidak ada di kantor. Tapi khusus buat card, Aerin mewajibkan dirinya untuk membaca walaupun ia belum tentu mengenal sang pengirim.

Sedangkan buat hadiah, bila itu harganya diatas kewajaran, biasanya ia akan mengembalikan bila ia mengenal pengirimnya. Bila tidak, Aerin akan menjual dan menyumbangkan duit hasil penjualan.

“Thanks, Wid. See you all” pamit Aerin sambil melangkah menuju ke lift VIP.

Sebenarnya lift VIP ini dikhususkan buat CEO dan tamunya, tapi karena lantai tempat Aerin bekerja ada di lantai 14, 1 lantai dibawah kantor CEO, naik lift ini adalah pilihan praktis, tanpa ada gangguan menunggu antrian.

*****

Memasuki ruangan IT, stafnya udah pada nungguin, lengkap dengan sarapan pagi dan kue ulang tahun mungil dengan sebuah lilin yang menyala indah. Ada Mas Andy juga disana. Aerin tertawa.

“Happy birthday, boss!” ucap mereka serentak.

“Thanks so much.”

Mario mendekatkan kue ke hadapan Aerin dan Aerin meniup lilin. Mata Aerin berkaca-kaca melihat keceriaan di wajah orang-orang yang hampir 24 jam sehari bersamanya. Suatu saat nanti, bila ia pergi… ia akan sangat merindukan mereka.

“Mbak Ririn, warna rambut baru bikin pangling”
Goda Benni yang membuat yang lain tertawa.

Andy menyerahkan setangkai bunga mawar merah tua ke Aerin.

“Happy birthday to the wonderful colleague on earth. Happy birthday, sis!”
Ucapan ulang tahun dari Mas Andy sukses membuat air mata mengalir di pipi Aerin.

Andy tersenyum, mengusap air mata di pipi Aerin, lalu memeluknya. Aerin memang gampang sekali menangis. Dia tipikal melankolis yang selalu akan mengeluarkan air mata bila terharu akan kebaikan dan keperdulian orang lain terhadapnya.

“Thank you boss, brother.”
Hubungan Aerin dan Andy memang dekat. Andy itu bos merangkap teman dan saudara.

Bersambung..

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

WhatsApp Image 2021-02-12 at 14.57.39

Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo Sudah Negatif Covid-19

JAKARTA (titiktemu, 12/2)– Setelah hampir tiga pekan (20 hari) menjalani isolasi mandiri, Ketua Satgas …

Logo-Muhammadiyah-OK

PP Muhammadiyah Tetapkan Puasa Mulai 13 April 2021

Pengurus Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1442H jatuh pada hari Selasa Wage, 13 April …

WhatsApp Image 2021-02-10 at 08.34.30

KRL Yogya-Solo Beroperasi Mulai Hari Ini

SOLO (titiktemu, 10/2) – Hari ini menjadi tak biasa bagi masyarakat pelajo Solo-Yogya. Para …