Aku Disini Menunggumu – #Chapter_15/55

Mirna sudah 10 menit yang lalu tiba di Cafe Gran Via, tempat ia janjian dengan Aerin buat makan siang. Aerin bilang ada good news tentang dirinya, Mirna sangat penasaran. Apa Aerin sudah menemukan pria yang dicintainya?

by InfiZakaria

Mirna sudah 10 menit yang lalu tiba di Cafe Gran Via, tempat ia janjian dengan Aerin buat makan siang. Aerin bilang ada good news tentang dirinya, Mirna sangat penasaran. Apa Aerin sudah menemukan pria yang dicintainya?

Sosok Aerin yang memakai midi dress berwarna carmine dengan motif bunga mawar kecil, tak lama muncul. Seperti biasa, kehadirannya membuat orang-orang disekitarnya melirik.

Mirna tersenyum sambil melambaikan tangan. Keponakannya itu memang sesuatu. Padaha penampilannya sangat sederhana, tanpa make up hanya memakai lipstik tipis warna bibir, rambut di bun agak berantakan, memakai flatshoes berwarna putih dan dompet kecil warna senada. Yang paling mencolok dari sosoknya, mungkin hanya kalung dengan liontin blue diamond yang bersinar indah sekali.

Keduanya berpelukan.

“Apa kabar gadis kecil tante?” Aerin tertawa.

“Well, sangat amat baik. Dan apa kabar my lovely tante rempong?”

Mirna memonyongkan bibir tipisnya.

“Very good. So, good news apa?”

“Tante, aku lapar banget. Kita makan dulu.”

“Baiklah….”

Mirna yang penasaran mengikuti kemauan Aerin. Keduanya menikmati makan siang sambil sesekali bercanda.

Saat dessert tiba, Aerin mengeluarkan sebuah benda kecil bergambar owl dari dompet nya.

“Tante mau tau sekarang?”

Mirna yang tak terlalu paham mengangguk. Aerin menekan tombol on, dan terdengarlah sebuah suara…

"Assalammualaikum, selamat malam semuanya. Terimakasih sudah berkenan hadir di acara khusus keluarga kami malam ini."
"Malam ini, kami mengundang saudara dan rekan-rekan sekalian untuk memperkenalkan adik perempuan kami. Adik kandung saya dan Chandra, yang berbeda ibu."
"Mama kedua kami sudah meninggal saat adik perempuan kami berumur 5 tahun, dan itu sudah 24 tahun yang lalu."
"So, please welcome adik kami... Aerin Alessandra Bramantio."
"Assalammualaikum, selamat malam." Terdengar suara Aerin.
"Aerin besok ulang tahun, jadi acara ini sekalian buat merayakan ulang tahun Aerin yang ke 29 tahun. Masih single, yang masih lajang...boleh mendekat."

Mata Mirna berkaca-kaca dengan senyum bahagia.
Mirna menyeka air matanya yang tak terbendung. Akhirnya… segala penderitaan dan ketidakadilan telah berakhir.

Aerin menekan tombol off. Tante Mirna masih terisak bahagia. Aerin bangkit dan memeluk erat tantenya. Selama ini, Tante Mirna selalu merasakan penderitaannya karena ia tidak dianggap ada di Keluarga Bramantio. Ia telah menjadi beban buat Tante Mirna.

“So sekarang tante tidak usah khawatirkan aku lagi. Aku sudah punya keluarga yang sebenarnya. Makasih tante, sorry aku sudah sangat banyak merepotkan tante.” Keduanya saling terisak.

“I love you, Irin. I am happy for you. Mulai sekarang kamu harus lebih bisa menjaga diri karena kamu sudah secara resmi membawa nama Bramantio. Jaga nama baik keluarga kamu.” ucap Mirna sambil mengelus kepala Aerin. Aerin mengangguk.

“Iya, tante. I love you too.”

*****

Seorang pria setengah baya menghampiri meja mereka. Aerin tersenyum begitu mengenali pria itu.

“Apa kabar Pak Bass?” sapanya.

Pria itu menyalami tangannya.

“Baik. Kamu kemana aja? Rabu kemarin saya ke Global, katanya kamu on leave.”

Biasanya kalau Pak Bass berkunjung ke Global, pasti akan singgah di ruangan Aerin sekedar buat say hello.
Pak Bass adalah direktur Bank Global, salah satu anak perusahaan FF Group. Bank Global berkembang stabil dengan cabang di beberapa Kota besar di Indonesia.

“Ada yang urgent di keluarga, Pak. Oh ya, ini kenalin tanteku.”

Tante Mirna dan Pak Bass saling berjabatan tangan. Setelah beramahtamah sebentar, Pak Bass permisi karena harus kembali ke mejanya. Dia sedang menjamu makan siang para koleganya.

*****

“Ada masalah yang urgent, tante.”

Mirna yang sedang menghabiskan sendok terakhir ice cream, hampir tersedak.

“Aku harus sudah menikah sebelum usia ke 30.” sambung Aerin dengan wajah kocak.

“What!”

Aerin mengangguk.

“Itu janjiku sama papa. So, berhubung cinta pertamaku sudah kembali tapi dia sudah akan menikah, aku harus segera move on biar bisa kejar deadline. Tante punya banyak kenalan, can you arrange blind dates for me?”

Mirna terkaget-kaget tapi pada akhirnya ia tertawa senang.

“Akhirnya… sure, itu yang sudah lama tante tunggu. Kamu sudah menyia-nyiakan waktu begitu lama. Sebagian besar pria-pria yang dulu pernah meminta tolong tante untuk dikenalkan ke kamu, bahkan sudah menikah dan punya anak.”

Aerin tertawa geli.

Dulu saat ia kembali dari Amerika, Tante Mirna emang rempong banget sibuk mau mengenalkan ia dengan anak teman dan kolega suaminya. Aerin selalu menolak sampai Tante Mirna menyerah.

“Kamu sudah bertemu dengan Arya?”

Aerin menggeleng.

“Ada meeting senin pagi.”
Mbak Vita sudah mengirim chat.

“Aku agak nervous, tante. Apa aku sanggup bersikap tidak kenal? Aku tidak mau dia mengenaliku. Aku takut… aku akan menangis saat melihat dia. Aku takut tidak bisa mengontrol perasaanku.” suara Aerin tampak putus asa.

“Irin sayang…”
Mirna menggenggam tangan Aerin yang dingin dan berkeringat.

“Kamu pasti bisa, karena kamu Irin keponakan tante. Kamu sudah melalui banyak hal dan kamu selalu bersinar. Fighting!”

Aerin tersenyum, Tante Mirna paling bisa menjadi energy booster buatnya.

*****

Minggu pagi, Aerin menjemput Bagas dan mengantarnya ke bandara. Bagas nampak keren banget memakai Jam Tissot darinya.

“So, mulai hari ini… kamu akan ingat aku 24 jam.” goda Aerin sebelum Bagas masuk ke dalam.

“Pasti mbak. Aku akan pakai terus jam ini. Mbak Ririn, thanks for everything. Tanpa support Mbak Ririn, aku gak mungkin bisa ikut short course ini.”

“Call me if you need anything.” Aerin memeluk erat Bagas.

“Can I kiss you?”
Tanya Bagas dengan senyum menggoda yang membuat Aerin tertawa.

Aerin menunjuk pipi sebelah kanannya. Bagas yang mendapat lampu hijau, happy banget dan langsung mengecup lembut pipi Aerin.

“See you, study hard. Okay?”

Bagas mengangguk, memeluk Aerin sekali lagi sebelum masuk ke dalam.
Aerin baru beranjak pergi begitu sosok Bagas menghilang dari pandangannya. Ada rasa kehilangan berpisah dengan pria yang sudah ia anggap sebagai saudara laki-lakinya. Usia mereka hanya terpaut 2 tahun saja…

Bersambung..

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

WhatsApp Image 2021-02-12 at 14.57.39

Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo Sudah Negatif Covid-19

JAKARTA (titiktemu, 12/2)– Setelah hampir tiga pekan (20 hari) menjalani isolasi mandiri, Ketua Satgas …

Logo-Muhammadiyah-OK

PP Muhammadiyah Tetapkan Puasa Mulai 13 April 2021

Pengurus Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1442H jatuh pada hari Selasa Wage, 13 April …

WhatsApp Image 2021-02-10 at 08.34.30

KRL Yogya-Solo Beroperasi Mulai Hari Ini

SOLO (titiktemu, 10/2) – Hari ini menjadi tak biasa bagi masyarakat pelajo Solo-Yogya. Para …