Aku Disini Menunggumu – #Chapter_14/55

Aerin dan mama kembali ke Surabaya. Papa dan yang lain sudah menunggu di rumah buat makan malam bersama karena besok pagi-pagi sekali, Aerin akan kembali ke Jakarta...

by InfiZakaria

Jumat malam, Aerin dan mama kembali ke Surabaya. Keduanya sangat happy setelah menghabiskan quality time tanpa ada yang mengganggu.

Papa dan yang lain sudah menunggu di rumah buat makan malam bersama karena besok pagi-pagi sekali, Aerin akan kembali ke Jakarta. Ia telah mendapat kabar dari penyelenggara training kalau Bagas harus tiba di Singapore seminggu sebelum acara dimulai karena ada banyak briefing yang harus diikuti. Jadi saat training berlangsung semua peserta bisa fokus ke teori dan praktek tanpa terganggu dengan urusan teknis lainnya.

Aerin membelikan oleh-oleh sepatu buat semua keponakannya. Mereka happy sekali.

“Begini rasanya punya tante cantik, baik hati… I love you Tante Irin”

Ucap Clara yang berbinar-binar melihat sepatu Novello Loafers dari Salvatore Ferragamo berwarna silver dengan hiasan pita cantik yang memang sedang diidamkannya.

Saat ulang tahun Tante Irin, Clara yang juga memakai gaun silver, memang pernah bilang ke Tante Irin kalau gaun malam yang ia kenakan paling pas dipakai dengan sepatu Novello Loafers dari Salvatore Ferragamo. Clara benar-benar suprised, tidak menyangka Tante Irin mengingatnya.

“Irin, ini.”

Papa meletakkan sebuah black card bertuliskan American Express di hadapan Aerin.

“Apa ini, pa?”

“Allowance kamu” terang mama.

“Allowance? Tapi aku sudah dewasa dan punya penghasilan sendiri yang sangat berlebih.”

“Kami tau, tapi ini allowance dari orangtua untuk anaknya. Tidak perduli seberapa banyak yang dihasilkan anaknya, memberi allowance kepada anak menjadi suatu kebanggaan bagi orang tua.”

“Mama.”

“Bahkan Chandra dan Ricky yang sudah setua itu… masih harus mau menerima allowance dari kami.”

Aerin tidak bisa membantah lagi.

“Itu allowance kamu dari sejak kembali dari Amerika. Papa sengaja menahan allowance kamu karena kamu tidak mau bergabung di BraDia. Papa pikir kamu akan kekurangan uang, tapi ternyata tidak. Passwordnya 6 digit tanggal lahir kamu.”

“Makasih ma, pa.”

Aerin memeluk keduanya dengan erat.

*****

Bagas melambaikan tangannya saat melihat sosok Aerin keluar dari pintu kedatangan bandara. Walapun sosoknya yang berjaket kulit dengan celana jins biru yang bolong sana-sini dan berkacamata hitam agak susah dikenali, tapi Bagas sangat mengenalnya.

“Apa kabar, mbak? Surabaya bikin cewek makin wow…”

Aerin menurunkan sedikit kacamatanya dan mendelik ke Bagas. Bagas tertawa ngakak.

” I really missed you, boss. Let’s go!”
Ucapnya sambil merampas paksa koper Aerin dan mendorongnya menuju tempat Range Rover terparkir.

“Kamu sudah siap berangkat besok?” Tanya Aerin begitu mereka masuk ke mobil.

“Semua sudah beres, mbak.”

“Sudah kasih handover report ke Mas Andy?”

“Sudah juga.”

“Ada yang perlu aku bantu? Kamu akan pergi selama 3 bulan. Kamu punya duit yang cukup buat orangtua kamu?”

Bagas adalah tulang punggung keluarga, ia masih punya ayah-ibu dan 3 orang adik yang masih bersekolah dan membutuhkan biaya. Bagas tersenyum, Aerin memang sangat memperhatikan stafnya, bukan hanya ia.

“Tabunganku cukup, mbak. Ntar kalo kelurgaku ada keperluan mendesak, aku akan hubungi Mbak Ririn.”

“Okay, keep your promise. Aku mau kamu disana fokus dengan ilmu yang diajarkan, tidak terganggu dengan urusan lain. Urusan keluarga kamu disini, akan menjadi urusan kami. Deal?”

Bagas mengangguk.

“Makasih banyak, Mbak Ririn.”

“Bye the way, cuaca di Singapore lagi panas banget. Jaga kesehatan.”

“Mbak Ririn cuti ke Singapore?”

Ririn mengerdipkan matanya sambil merogoh kantong backpacknya.

“Ini buat kamu. Prof. Daniel sangat strict dengan waktu, so kamu perlu jam yang lebih canggih.”

Aerin tersenyum lebar melihat reaksi Bagas yang terkaget-kaget melihat kotak jam di tangannya yang bertuliskan TISSOT.

“Iya, ini jam Tissot yang selalu kamu liat-liat, tapi gak beli” Ledek Aerin sambil mencibirkan bibir indahnya.

Nah kan, mata Bagas langsung berkaca-kaca. Memang sudah lama ia terpesona dengan  jam Tissot T Touch Expert Solar II Swiss Edition. Harganya yang mahal membuat ia harus berpikir panjang untuk memilikinya.

Sebenarnya ia bisa membeli dengan menabung beberapa bulan, tapi setelah dipikir-pikir sayang banget duit yang dihabiskan untuk kesenangan itu. Sementara masih banyak kebutuhan lain yang lebih penting daripada sebuah jam tangan mahal.

“Makasih kembali” Sambung Aerin yang tahu Bagas tak kuasa mengucapkan terimakasih.

Sebelum Aerin cuti, Aerin memang pernah meminta semua staf IT untuk menulis di secarik kertas tentang barang apa yang sangat mereka impikan dan belum terpenuhi. Dan saat itu Bagas menulis ‘Jam Tissot T Touch Expert Solar II Swiss Edition’ bahkan menggambar bentuk jam itu di kertas, sementara yang lain hanya menulis nama barang saja.

Aerin tau, Bagas suka buka website Tissot dan memandangi jam itu. Makanya pas ia melewati outlet Tissot, ia langsung mencari jam tipe itu.

*****

“Kita langsung ke rumah?”

Tanya Bagas setelah Aerin yang tadi sempat tertidur, terbangun dan menguap lebar.

“Ke rumah kamu saja. Kamu harus stay dengan keluarga kamu hari ini, besok pagi aku jemput ke bandara.”

“Baik, mbak.”

“Singgah di Beau Bakery sebentar.”

“Baik, mbak.”

Bagas memarkirkan mobil dan Aerin keluar. Tak sampai 10 menit Aerin sudah kembali dengan paperbag besar berisi aneka roti dan kue.
Mereka tiba di rumah Bagas yang sederhana tapi sangat nyaman dan penuh cinta. Aerin mengenal semua anggota keluarga Bagas.

“Apa kabar, bu?”
Sapa Aerin begitu membuka pintu mobil.

Ibu Bagas yang sedang merapikan tanaman sayur mayur, sudah menantinya.

“Alhamdulillah, baik.”

Aerin mengambil paperbag dan menyerahkan ke Ibu Bagas. Bagas memang sudah menebak, tadi Aerin memang sengaja membeli kue buat ibunya.

“Buat ibu.”

“Walah… selalu ngerepotin Ririn.”

Aerin tersenyum. Ibu Bagas itu ramah dan keibuan banget. Bagas mewarisi semua kebaikannya.
Seperti biasa kalau sudah ke rumah Bagas, Aerin harus minum dan makan sesuatu dulu, baru diizikan pulang. Pagi ini Ibu Bagas membuat lupis untuk sarapan pagi keluarga dan Aerin ikut menikmatinya..

Bersambung…

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

WhatsApp Image 2021-02-12 at 14.57.39

Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo Sudah Negatif Covid-19

JAKARTA (titiktemu, 12/2)– Setelah hampir tiga pekan (20 hari) menjalani isolasi mandiri, Ketua Satgas …

Logo-Muhammadiyah-OK

PP Muhammadiyah Tetapkan Puasa Mulai 13 April 2021

Pengurus Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1442H jatuh pada hari Selasa Wage, 13 April …

WhatsApp Image 2021-02-10 at 08.34.30

KRL Yogya-Solo Beroperasi Mulai Hari Ini

SOLO (titiktemu, 10/2) – Hari ini menjadi tak biasa bagi masyarakat pelajo Solo-Yogya. Para …