Aku Disini Menunggumu – #Chapter_1/55

Aerin menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Ada rasa sesak, sedih dan harapan terindah yang secara terpaksa harus ia lepaskan. Akhirnya ia harus menyerah kalah, menepati janjinya...

by InfiZakaria

Dear Mas Arya,

Happy birthday, semua yang terbaik aku doakan menyertai Mas Arya. I Love U.

Ini adalah kartu ucapan yang ke-19 yang aku kirimkan ke Mas Arya. Ini akan menjadi kartu ucapan ulang tahun terakhir yang aku kirimkan. Bulan depan aku akan berusia 29 tahun. Sudah saatnya aku melepaskan impian indah masa kecilku.

Good bye, my dream.
Irin

Aerin menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Ada rasa sesak, sedih dan harapan terindah yang secara terpaksa  harus ia lepaskan. Akhirnya ia harus menyerah kalah, menepati janjinya.

Kartu berwarna biru dengan corak abstrak dimasukkannya ke dalam amplop berwarna senada. Aerin bangkit dari kursi kerjanya, mengambil kunci mobil dan keluar dari ruangan.

“Aku keluar sekitar 2 jam. Kalau ada yang urgent, call aja.”

“Sip, mbak.”

*****

Perjalanan menuju rumah Arya yang biasanya sekitar 30 menit, hari ini terasa jauh sekali. Jauh… Seperti impiannya yang pelan-pelan menjauh.

Setiap tahun sejak ia berumur 10 tahun, ia selalu mengirimkan kartu ucapan ulang tahun dengan harapan suatu saat nanti ia akan mendapat sebuah kabar. Hari ini tepat 19 tahun kemudian… ia tidak mendapat kabar apapun. Harapan optimisnya benar-benar berada di titik nol. Banyak sekali yang terjadi dalam 19 tahun menunggu tapi ia tetap bertahan akan impian masa kecilnya, akan cinta pertamanya.

Aerin memarkirkan mobilnya di depan gerbang rumah mewah yang saat ia kecil…ia bebas masuk sesuka hatinya, kediaman keluarga Arya. Tahun-tahun yang lalu, ia selalu menggunakan kurir untuk mengantarkan kartu, tapi karena ini adalah kartu yang terakhir ia kirimkan kepada Arya, ia ingin mengantarnya sendiri.

Tak ada Pak Satpam yang seharusnya berjaga di pos dekat gerbang pagar, tapi ada beberapa orang yang terlihat sibuk di halaman depan, sedang bersih-bersih dan menata taman.

Aerin turun dari Range Rovernya dan berdiri mematung di depan pintu pagar. Salah seorang dari mereka melihat kehadirannya dan berjalan menuju pintu pagar.

“Maaf, cari siapa non?”
Tanya sosok pria setengah baya itu, sambil menyeka keringat di keningnya. Aerin tersenyum.

“Aku mau nitip ini buat Pak Satpam.”
Aerin mengulurkan amplop biru. Pria itu mengambilnya sambil membaca sekilas ada nama Arya yang tertulis disana.1

“Oh iya. Ntar saya sampaikan.”

“Makasih.”
Aerin bermaksud hendak berlalu, tapi sebuah pertanyaan muncul di benaknya.

“Apa keluarga Pak Ferdinand akan kembali?”
Tanyanya dengan ragu.

Pria itu mengangguk.

“Saya dengar nih,  Bapak dan keluarganya akan balik kesini karena putra mereka akan menikah. Maaf, non siapa ya?”

Wajah didepannya tiba-tiba berubah pucat. Aerin terdiam sambil mencerna pelan apa yang baru saja diucapkan pria itu barusan. Keluarga Om Ferdinand akan kembali kesini karena putra mereka akan menikah. Putra mereka? Apa Om Ferdinand punya putra lain selain Arya? Keringat dingin membasahi telapak tangan Aerin begitu menyadari kemungkinan bahwa putra yang dimaksud adalah Arya.

“Aku tetangga lama. Makasih.”
Aerin melangkah cepat menuju mobilnya.

Aerin tidak bisa membendung air matanya saat ia masuk ke mobil. Ia menangis tersedu-sedu, melepaskan semua rasa kecewanya.

Dalam 19 tahun penantian, sudah terlalu banyak air mata karena Arya. Ia mencintai Arya sejak ia mengenal arti suka seorang perempuan kepada seorang laki-laki, dan itu terjadi saat ia berumur 10 tahun. Rasa suka pada seorang anak laki-laki gendut, tetangga sebelah rumah yang selalu sebal dan marah-marah saat tahu ia membuntutinya.

Mas Arya, jangan sedih! Saat aku besar nanti, aku pasti akan lebih cantik dari Mbak Indah. Dan aku akan mencintai Mas Arya sampai aku setua oma.”

Itu yang Aerin ucapkan pada seorang anak laki-laki gendut yang saat itu tengah sangat bersedih karena cinta pertamanya ditolak. Pernyataan yang membuat orang-orang dewasa di sekeliling mereka terkaget-kaget. Pernyataan yang di kemudian hari setelah Arya pergi, membuat ia banyak mendapat ledekan dari anak-anak tetangga.

Sejak saat itu, Arya selalu menghindar bila mereka bertemu. Bahkan Arya melarang ia datang ke rumahnya. Aerin sangat ingat saat-saat ia berdiri mematung di balkon kamar tidurnya, hanya untuk sekedar bisa melihat sosok Arya yang di sore hari suka membaca di balkon kamarnya yang berhadapan dengan balkon kamar Aerin. Tapi begitu Arya tahu Aerin sengaja berdiri di balkon untuk melihatnya, Arya segera masuk dan tak pernah lagi duduk di balkon.

Hubungan pertemanan berhenti disitu, bahkan saat orangtua Arya membawa Arya ke Amerika untuk melanjutkan sekolah disana, Aerin sama sekali tidak tahu. Aerin kecil yang saat itu berusia 10 tahun, menderita patah hati.

*

🎵I’m a big big girl, in a…🎵

“Iya, Mas Andy.”

“Kamu dimana?”

“Lagi diluar, ada urusan pribadi sebentar, will be back in one hour.”

“Ada meeting dadakan dengan pihak management 30 menit lagi.”

“Sorry mas, aku gak akan sampai di kantor dalam 30 menit, rush hour nih. Mas ajak Bagas aja.”

“Suara kamu serak, something happened?” Aerin tersenyum.

“Yaah, but it’s okay now.”

“Take care ya. Chat me gitu sudah di kantor.”

“Thanks, mas.”

Dengan mata sangat sembab dan suara serak, tak mungkin ia bisa beramah-tamah di rapat management.

*****

Meeting dadakan, semua petinggi FF Global Cell sudah hadir. Pak Rasyid melihat ke sekeliling, mencari sebuah sosok. Andy yang melihat wajah sang CEO, tersenyum geli.

“Ada yang belum muncul.”
Semua yang hadir tahu siapa yang dimaksud. Ruangan meeting hari ini memang kurang bersinar tanpa ada sosok itu.

“Ririn lagi diluar, Pak. Tadi minta off 2 jam, sebelum ada info meeting dadakan”
info Andy tanpa nada segan.

Semua staf tahu gimana jadwal kerja Aerin dan staf IT lainnya yang sering diluar jam kerja resmi.

“Sip, let’s start…”

Pak Rasyid, sosok kebapakan yang sangat dihormati oleh semua staf…berdiri sambil memegang microphone.

“Selamat siang. Maaf mengganggu jadwal kerja kalian karena meeting dadakan ini. Terimakasih sudah hadir.”
“Seperti yang semuanya tahu, saya akan segera mengundurkan diri karena harus banyak istirahat demi percepatan kesembuhan penyakit saya.”
“Dalam 2 minggu ke depan, CEO baru akan datang. Saya ingin kalian semua dapat bekerjasama dengan sangat baik, lebih baik dari saat saya ada disini.”

Terdengar suara gumaman peserta rapat. Semua tahu kalau Pak Rasyid memang akan resign, tapi tidak ada yang menyangka akan secepat ini.

“CEO baru, Arya Ferdinand… pasti semuanya sudah pernah mendengar nama ini kan? Dan sudah tau siapa dia?” Pak Rasyid tersenyum.
“Pak Arya, pewaris tunggal FF Group. Kita semua harus bahagia dan lebih bersemangat lagi karena akhirnya Pak Arya setuju untuk memimpin perusahaan.”
“Pak Arya ini punya banyak prestasi dalam hal management, selain itu beliau punya  perusahaan yang sukses di Amerika.”
“Jadi, ini kesempatan buat kalian semua untuk lebih bersinar lagi. Rebut hati owner dengan prestasi, saya sangat yakin owner akan memberi yang terbaik buat kalian.”

Semua tampak diam, ada kesedihan di raut wajah para staf. 10

“Saya ucapkan terimakasih atas segalanya. Tanpa kalian semua, FF Global Cell tidak akan melangkah secepat ini.”
“Saya masih akan ada disini sampai Pak Arya datang. jadi ayo kita manfaatkan waktu yang ada dengan pencapaian terbaik kita, menyambut kedatangan CEO baru.” “Meeting selesai, no question please. Seperti biasa, pintu ruangan saya selalu terbuka untuk curhatan.”

Semua tertawa, memecah keheningan ruangan. Begitulah Pak Rasyid, semua menyukai sosok tegas dan humorisnya.

Aerin mendengar rekaman meeting tadi siang dari recorder yang direkam oleh Bagas, asistennya. Arya Ferdinand, benar akan kembali. Ini adalah saat-saat yang selalu ia impikan. Akan bertemu kembali dengan mimpi masa kecilnya…tapi kenapa saat mimpi itu akan menjadi kenyataan ia malah ragu dan ingin berlari sejauh mungkin?

Sebagai seorang hacker, sudah lama Aerin mencoba melacak Arya dan keluarganya, tapi tak pernah berhasil. Mereka seolah sengaja menyembunyikan identitas diri. Kepergian Arya dan keluarganya ke Amerika juga sangat mendadak, bahkan saat itu orangtua Aerin juga tahu setelah mereka meninggalkan Jakarta.

*****

“Kenapa cewek tidak suka cowok gendut? Memangnya apa yang salah dengan tubuh gendut?”

“Aku suka cowok gendut. Aku suka Mas Arya.” Aerin kecil berkata dengan yakin.

“Ah, kamu! Aku rasa ada yang salah dengan isi kepala kamu.”
Walaupun Arya suka banget bicara apa adanya dan sering membuat Aerin bersedih, tapi Aerin tetap setia mendengar curhatan Arya.

“Suatu saat nanti, aku akan menjadi pria dewasa dengan tubuh yang sangat atletis. Aku akan menghajar semua cewek-cewek itu!”

Aerin hanya mengangguk dengan senyum bahagia, melihat Arya kembali tersenyum, walaupun ia tidak mengerti betul apa yang diucapkan Arya. Usia mereka beda 5 tahun, Arya sudah menginjak remaja saat itu.

Secarik photo di tangan Aerin, mengulang kembali cerita manis masa kecil. Sosok remaja cowok berkaos putih dengan celana panjang coklat, sedang menatap sebel ke kamera. Wajahnya ganteng walaupun melebar karena tubuhnya overweight.

Bersambung

Share tulisan ini

Baca tulisan lainnya

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Extra Part

Arya menyentuh alis Aerin yang berbentuk melengkung setengah lingkaran, lalu sentuhannya turun ke hidung mancungnya dan berakhir di bibir penuh Aerin, sebuah masterpiece yang membuat ia tak bisa jauh dari itu…

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_55/55

Bramantio menggandeng tangan Aerin. Arya melihatnya dengan agak cemburu. Huh… seharusnya ia yang lebih berhak menggandeng tangan itu. Tasya yang melihat arah pandangan Arya, langsung menggandeng tangan Arya. Aerin melihat keduanya yang berjalan di depannya.

Aku Disini Menunggumu

Aku Disini Menunggumu – #Chapter_54/55

Kembali ke Global Cell membuat Aerin bahagia. Wiwid, Vita dan pasukan IT menyambut kedatangannya di lobby. Aerin sangat terharu, ah… bagaimana mungkin ia sanggup meninggalkan mereka dalam waktu yang tak lama lagi.